
Pagi hari Agam terbangun. Namun, kali ini bukannya ia melihat wajah cantik dari Vany seperti pagi kemarin. Namun, kali ini ia melihat wajah imut dari Adelia. Senyum terbit di bibir Agam kemudian mengusap wajah putrinya yang begitu cantik, tak percaya ternyata ia memiliki seorang putri selama ini, ada anak yang lahir dari benihnya.
"Selamat pagi, Sayang. Ini sudah pagi, ayo bangun," ucap Agam mencium pipi putrinya dan menggesek-gesekkan rambut-rambut halus yang ada di pipinya pada pipi sang anak.
"Ayah, 20 menit lagi," ucap Adelia hanya menggeliat tanpa membuka mata kemudian membelakangi Agam. Adelia menarik boneka yang berbentuk guling dan kembali tertidur pulas.
Mendengar gumaman putrinya Agam hanya menggeleng. Agam menahan tawa, 20 menit adalah waktu yang cukup lama untuk kembali tertidur.
"Ya sudah, 20 menit untuk Adelia," ucap Agam, lalu Agam menarik putrinya itu ke dalam pelukannya, membuat ia juga ikut kembali tertidur dengan memeluk Adelia.
Sementara itu, Vany sudah berkutat di dapur untuk mengurus sarapan mereka berdua.
"Bu, biar kami saja yang memasak, Ibu bisa kembali ke kamar," ucap asisten rumah tangga yang memang bekerja di dapur, ia sangat takut saat melihat Vany terus saja membuat makanan untuk Agam dan juga putrinya, karena selama ini merekalah yang memasak di dapur dan sekua itu sudah jadi tugasnya. Mereka takut jika sampai mereka dianggap tak becus dan membiarkan nyonya yang memasak.
"Nggak papa, Bi. Aku sudah biasa memasak dan mengerjakan semuanya sendiri, Bibi jangan di sini terus kerjakan saja yang lain atau bisa mencuci piringnya," ucap Vany menunjuk tumpukan piring yang ada di wastafel.
"Tapi, Bu. Nanti pak Agam bisa marah pada kami," ucap wanita tersebut ragu, wanita yang memang seusia dengan Vany dan satu lagi berusia yang terlihat lebih tua dari mereka
Keduanya terus saja berdiri di belakang Vany dan meminta Vany untuk menghentikan semuanya.
Vany yang mendengarnya hanya menghela nafas dan berbalik. "Ya sudah Bi, untuk hari ini saja, ya. Aku janji! Sekarang semua terlanjur, memasak hari-hari berikutnya aku tak akan mengganggu kalian," pinta Vany.
__ADS_1
"Baik, Bu." Keduanya pun mengambil pekerjaan yang bisa mereka kerjakan.
"Kalian tenang aja, aku tak akan mengatakannnya pada suamiku. Jadi, sekarang jangan ganggu aku, ya. Nanti, bukannya memasukkan garam kedalam sup aku malah memasukkan gula karena kaluan mengganggu," ucap Vany membuat kedua bibi tersebut pun saling menatap kemudian mengangguk.
Mereka pun memilih untuk membantu Vany membersihkan dapur tersebut, Vany hanya menggeleng melihat keduanya dan kembali melanjutkan membuat sarapan.
Begitu sarapan sudah selesai, dan disiapkannya di atas meja makan, Vany pun kembali ke kamar untuk melihat dua orang yang tadi ditinggalkannya.
"Mas ini sudah jam berapa, apa kamu nggak ke kantor?" tanya Vany saat melihat suaminya yang dipikirnya sudah siap-siap untuk ke kantor ternyata masih tidur dengan memeluk Adelia.
"20 menit lagi, Sayang," gumam Agam mengikuti apa yang Adelia ucapkan tadi, bukannya bangun pria yang baru saja dinikahi oleh Vany itu justru mengeratkan pelukannya pada putrinya.
"Adelia ayo bangun, sana mandi dulu kemudian kita sarapan setelah itu kita jenguk kakek di rumah sakit, nenek pasti sudah menunggu," ucap Vany mulai menarik putrinya dan menggendongnya menuju ke kamar mandi walau dengan mata yang masih terpejam.
"20 menit lagi, Ibu," ucap Adelia yang sudah berada di gendongan ibunya.
Agam hanya tersenyum saat melihat apa yang dilakukan Vany, bisa-bisanya ia menggendong putri mereka masuk ke kamar mandi dengan mata yang masih terpejam. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan ikut masuk menyusul ke kamar mandi.
"Siapkan saja pakaian kami, biar aku yang memandikan Adelia," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk dan meninggalkan mereka.
Agam terlebih dahulu memandikan Adelia, setelahnya ia menggendongnya keluar dan memberikan kepadanya kepada Vany yang sudah menyiapkan pakaian untuk mereka berdua, setelahnya ia pun kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Begitu Agam kembali keluar dari kamar mandi, Adelia sudah siap dengan pakaiannya dan menyambutnya dengan senyuman.
"Anak ayah sudah sangat cantik dan wangi," ucap Agam buat anak itu pun hanya kembali melebarkan senyumnya mendapat pujian dari sang ayah.
"Adelia agak lambat makannya, Mas. Aku menyuapinya lebih dulu, ya."
"Iya, nanti aku nyusul kalian setelah memakai pakaianku," ucap Agam membuat Vany mengangguk dan menggendong Adelia menuju ke meja makan.
Agam yang melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh Vany, dia merasa sangat bahagia. Biasanya paginya hanya ia sendiri dan melakukannya semua sendiri, pagi yang selalu membosankan baginya. Namun, berbeda semenjak ia menjadi seorang suami dan ayah, ada istri dan anaknya yang menghangatkan paginya.
Ada mereka yang membuat paginya menjadi istimewa.
Agam memakai pakaiannya dan ikut menyusul kemeja makan, mereka pun makan bersama. Setelahnya Agam mengantar Vany terlebih dahulu ke rumah sakit untuk menemani ibunya menjaga sang ayah, setelah ia menemui ayahnya sebentar dan pamit untuk langsung ke kantor.
Sebelum pergi Vany menahan Agam yang sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Mas, apa aku masih boleh bekerja di kantor?" tanyanya.
"Tidak, mulai sekarang kamu tinggal di rumah saja menungguku dan menemani Adelia, aku akan bicara pada ketua timmu di kantor untuk mencari penggantimu. Oh ya, mungkin dua hari ini aku akan sibuk dan akan pulang larut, aku akan menyelesaikan pekerjaanku untuk 2 minggu ke depan. Aku akan membawamu dan Adelia untuk berlibur, kita bulan madu," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk.
Melihat suaminya itu perlahan menjauhinya ia mengalah napas. "Baiklah sekarang aku akan menjadi ibu rumah tangga dan tinggal di rumah, selama ini aku sudah bekerja keras sepertinya sudah waktunya aku istirahat dan mengurus Adelia. Aku sudah kehilangan waktu banyak dengannya," ucapannya di mana selama ini ia selalu sibuk bekerja dan menitipkan Adelia, walau ia selalu menebus waktunya yang terbuang di malam hari atau di waktu libur bekerja.
__ADS_1