
"Ada apa, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Agam menghampiri Vany yang sedang menatap layar ponselnya, ia saat ini masih melihat bagaimana bahagianya Dodi bersama dengan keluarganya di rumah baru mereka.
"Ini, aku ikut senang ternyata Dodi berhasil membuat keluarganya bahagia," ucapannya menunjukkan layar ponselnya pada Agam.
"Aku sudah menyelidiki Dodi, dia sudah bekerja di beberapa perusahaan dan semua hasilnya sangat memuaskan dan pembersih, hanya karena ketidak beruntungannya dia selalu mendapat pemecatan karena pengurangan karyawan."
"Kenapa Mas sampai menyelidikinya?" gumam Vany karena yang ia tahu suaminya itu sangat malas mengurusi urusan orang lain.
"Dia salah satu kandidat karyawan yang akan menjadi orang-orang kepercayaanku, aku sangat senang dengan semangatnya dan juga caranya bekerja. Bagaimana menurutmu, apakah Dodi orangnya bisa dipercaya?" tanya Agam karena Agam tahu pasti mereka sudah lama hidup bersama.
"Aku tidak terlalu dekat dengan mereka, tetapi yang aku tahu Dodi memang orangnya yang sangat baik, dulu ia pernah menjalin hubungan dengan kak Salwa, tetapi kak Salwa dijodohkan dengan pak Yanto makanya takdir membawanya berjodoh dengan Nilam dan selama mereka menikah Dodi jarang bergabung dengan kami, entah ia tak enak dengan Salwa atau yang menghindar dari keluarga paman dan bibi. Menurutku ia orangnya cukup tertutup makanya aku tak mengenalnya seperti apa sifatnya," ucap Vany membuat Agam mengangguk, salah satu orang yang dicarinya memang orang-orang yang tidak mau mengurusi urusan orang lain dan sibuk pada pekerjaannya seperti Dimas.
__ADS_1
Agam berencana untuk merekrut dua orang dari divisi Dimas yaitu Dodi dan Dimas sendiri menggantikan dua orang orang kepercayaan Agam yang sudah mengajukan surat pengunduran dirinya karena usia mereka, keduanya sudah setia melayani perusahaan bahkan semenjak perusahaan dipegang oleh ayahnya.
"Ya sudah, ayo kita bermain dengan Adelia, tadi dia memanggilmu," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk dan menyimpan ponselnya, mereka berdua berjalan menuju ke taman di mana taman itu sengaja dibuat Agam untuk teman-teman baru Adelia. Mereka menikmati waktu libur bersama dengan keluarga, anak istri dan kedua orang tuanya.
Sementara itu Salwa terus saja mendesah kesal saat melihat bagaimana kebahagiaan adiknya, bagaimana rumah yang ditempati oleh Nilam saat ini.
"Mas, apa tak bisa kamu bekerja di kantor Agam? Coba lihat, dia baru sebulan bekerja, tetapi mereka sudah bisa memiliki tempat yang layak."
"Iya, tetapi mereka mampu mengontrak rumah yang bagus, aku juga nggak masalah kok hidup mengontrak di kota aku bosan hidup di desa," gerutu Salwa.
"Bersabarlah, lihat saja suatu saat nanti aku akan mengalahkan Dodi, tunggu saja," ucap Yanto tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa lowongan pekerjaan yang sudah ditandainya. Salwa mendesah kesal dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Beruntung mereka memiliki beberapa petak sawah sehingga mereka masih memiliki hasil panen mereka untuk dijadikan pegangan.
Begitupun dengan ibu mereka, sejak tadi terus menelepon Nilam. Namun, putrinya itu tak mengangkat panggilannya membuatnya merasa kesal.
"Kenapa sih, Bu. Mungkin dia sedang sibuk," ucap paman Vany yang melihat sejak tadi istrinya terus saja marah-marah sambil mencoba menghubungi putri mereka.
"Pokoknya Pak kita harus tinggal di kota, ibu juga ingin tinggal di kota bersama dengan mereka."
"Memangnya mereka punya cukup kamar untuk menampung kita? Lagian kalau di kota bapak juga kerja apa," ucapnya.
"Kamu dengarkan tadi jika Ayu dan Faiz memiliki kamar sendiri, mereka bisa disatukan dan kita tidur di salah satu kamar cucu kita, lagian dia sudah memiliki pekerjaan tinggal di rumah mereka, mereka pasti ga keberatan kitan tinggal dengan mereka. Pokoknya ibu mau ikut tinggal di kota bersama dengan Nilam, nanti kalau Bapak enggak mau Bapak tinggal saja bersama dengan Salwa," ucap tante Vany yang terus mencoba menghubungi putrinya.
__ADS_1