
Agam dan Vany menikmati hari-hari mereka di kontrakan yang sudah menjadi milik mereka itu, sesekali Vany ingin menelpon dan bicara pada Adelia. Namun, Agam menahannya karena jika dia sampai bicara pada putri mereka sudah dipastikan Adelia pasti akan mengingat mereka dan menangis.
Agam sudah menelpon ibunya dan menanyakan masalah Adelia, ibunya mengatakan jika Adelia baik-baik saja bersama dengan mereka dan melarang mereka untuk sering menelepon jika tak penting, takut jika sampai Adelia melihat dan akan mengingat mereka.
Seminggu tanpa terasa mereka lalui di kontrakan itu hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, sejak 5 hari tak bertemu dengan putrinya Vany terus saja merengek ingin pulang.
Tak ada bedanya dengan Adelia yang terus merengek jika menginginkan sesuatu, membuat Agam pun luluh dan akhirnya rencana bulan madu mereka yang tadinya ingin dua minggu kini hanya seminggu saja dan mereka pun pulang.
Begitu mereka pulang, Vany melihat putrinya itu sedang bermain, berlari-larian di taman bersama dengan kakek dan neneknya.
"Lihatkan, putri kita baik-baik saja, ada ayah dan ibu yang menjaganya," ucap Agam yang melihat Vany tersenyum melihat keadaan anaknya yang terlihat bahagia bersama dengan kakek dan neneknya.
"Mas, selama ini aku tak pernah pisah dengan Adelia, berbeda dengan kamu yang baru bertemu dengannya, tentu saja rasa sayang kita padanya berbeda," ucap Vany membuat Agam hanya menghela napas mendengar ucapan istrinya itu yang terdengar seperti sebuah sindirian, walau ia baru bertemu dengan Adelia, ia juga sangat merindukan putrinya itu. Namun, ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Vany, rasa cinta di hatinya semakin tumbuh dan itu membuat ia ingin menahan Vany lebih lama dan hanya berdua dengannya.
Adelia menghentikan permainannya saat melihat mobil yang baru masuk di pekarang mereka, ia menanti siapa yang akan keluar.
"Ibu, Ayah!" ucapnya berlari dan menghampiri mereka, saat melihat yang datang adalah ibu dan ayahnya, selama ini ia selalu bertanya kepada kakek dan neneknya ke mana ibu dan ayahnya pergi, mengapa ia tak bersama dengan mereka dan jawaban neneknya adalah ibunya sedang membantu ayahnya untuk bekerja agar Adelia bisa memiliki banyak mainan.
"Ibu, Adelia sangat merindukan Ibu," ucap Adelia yang kini sudah di gendongan Vany.
__ADS_1
"Iya, Sayang, ibu juga merindukanmu," ucapnya mengecup seluruh wajah putrinya dan kembali memeluknya, memeluk gadis kecilnya yang sangat dirindukannya.
"Apa anak ayah tak merindukan ayah?" ucap Agam yang juga ikut merentangkan tangannya memeluk keduanya.
"Tentu saja Adelia sangat merindukan Ayah juga," kemudian berpindah ke gendongan sang ayah.
Agam memeluk erat sang putri dan mengecup rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah, kenapa Ayah pergi tanpa membawa Adelia? Adelia kan sangat menyayangi dan merindukan Ayah. Ayah tau, saat Ayah pergi Adelia terus menangis mencari kalian," ucapnya.
"Maaf ya, Sayang. Ibu harus pergi untuk menemani Ayah bekerja," ucap Vany yang tak tega melihat mimik wajah dari sang anak yang cemberut dan demgan mata yang berkaca-kaca.
"Kelinci?" tanya agam bingun.
" Nenek bilang jika sudah punya uang ayah akan membelikan kelinci, apa Ayah belum gajian?" tanyanya polos. Di mana selama ini Vany selalu mengatakan hal itu jika ia meminta sesuatu. Ia akan bekerja dan setelah gajian Vany akan membelikan mainan atau apapun yang diinginkan oleh anaknya.
"Oh iya, ayah lupa tadi ayah lewat depan toko kelinci, tetapi orang yang menjual kelinci belum bangun." Agam mencari alasan agar anaknya tak kecewa.
"Yaaah, apa mereka masih lama bangunnya? Apa mereka akan bangun saat ayah gajian?"
__ADS_1
Agam tertawa mendengar ucapan gadis kecilnya yang terdengar sangat polos. "Ayah sudah gajian kok, Nak. Ya sudah, apa sekarang Adelia ingin mencari kelinci dengan ayah?" tanya Agam mencubit gemes hidung putrinya.
"Iya, Ayah. Adelia mau," ucapnya dengan gembira membuat Agam pun memberi isyarat kepada Vany untuk masuk kembali ke dalam mobil.
Vany melihat ke arah kedua orang mertuanya yang berjalan menghampiri mereka, ia merasa tak enak karena baru sampai dan harus kembali pergi.
"Sudah, kalian pergi saja. Selama ini kami memang mengatakan hal itu saat Adelia mencari kalian, nanti dia akan menangis jika tak mendapat kelinci. Ayo pergilah, habiskan waktu kalian bersamanya. Pasti ia sangat merindukan kalian," ucap Sari yang mengerti arti tatapan dari Vany yang pasti tak enak pergi kembali tanpa menyapa mereka.
Vany menggangguk dan ikut masuk menyusul Agam dan juga Adelia yang sudah duduk manis di dalam mobil.
"Apakah kalian sudah siap berburu kelinci?" tanya Agam dengan semangat.
"Siap Ayaaaah!" teriak Adelia dengan penuh semangat.
"Kita berangkat sekarang." Agam melajukan mobilnya menuju ke tempat dimana ia tau terdapat banyak kelinci. Saat kecil Agam juga sangat suka memelihara hewan, ia punya kelinci, kucing, ikan hias dan beberapa ekor ayam.
Agam ingin membahagiakan putrinya dengan membelikan beberapa hewan peliharaan, mereka berhenti di toko yang menjual beberapa hewan peliharaan. Adelia membeli dua ekor ikan ******, dua ekor kucing, seekor ayam dan dua ekor kelinci.
Adelia sangat senang saat membawa pulang semua yang di belinya. Ia menjadi lupa jika selama seminggu terakhir ia meresa sadih, kesal di tinggal ayah dan ibunya.
__ADS_1