
Satu minggu setelah mereka pindah ke rumah baru, Dodi dan juga Nilam mengadakan acara syukuran dan mengundang keluarga mereka di kampung termasuk mengundang Vany dan juga Agam.
Tadinya Dodi tak berharap banyak mereka akan datang. Namun, ia sangat senang saat bosnya itu mau datang dan bergabung bersama dengan mereka.
Agam tak datang dengan tangan kosong, sebelumnya Vany sudah memberitahu pada Nilam, apa saja yang mereka butuhkan untuk kebutuhan rumah, Nilam sudah mengatakan apa saja yang mereka butuhkan termasuk beberapa peralatan dapur yang masih kurang di rumahnya juga lemari di kamar anak-anak, meja belajar dan satu yang sangat ingin Nilam inginkan yaitu membeli motor, agar suaminya bisa bekerja menggunakan motor ke kantor dan tak lagi menggunakan bus.
Nilam sangat bahagia saat apa yang diinginkan semua diberikan oleh Vany, ia langsung memeluk Vany begitu Vany datang dengan perabotan yang dimintanya, bukan hanya dengan perabotan saja Vany juga membawa motor untuk mereka bukan satu, tapi dua.
"Vany, ini serius untuk kami?" ucap Nilam menunjuk motor yang sudah terparkir di depan rumah mereka, satu motor untuk Dodi dan satu lagi motor matic untuk Nilam, jika ingin pergi ke pasar atau ke suatu tempat untuk membeli sesuatu.
"Iya, tentu saja. Aku hanya bisa memberikan ini, maaf ya," ucap Vany membuat Nilam pun mengangguk.
"Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih banyak ya," ucap Nilam berbinar senang.
__ADS_1
"Vany kamu itu kan punya banyak uang, mengapa kamu tak membelikan Dodi mobil saja?" celetuk ibu Nilam.
"Bu, Ibu ini bicara apa, kami sudah diberikan ini kami sudah sangat bersyukur. Semua ini sudah lebih dari cukup. Lagian jika diberikan mobil aku yakin mas Dodi pasti akan menolak, ini saja aku cukup berdebat dengannya karena dia tak mau meminta hal seperti ini."
"Sudahlah, kalian jangan berdebat. Ayo masuklah tak enak pada Agam," ucap Salwa di mana Agam kini sudah bersama dengan Dodi dan juga Yanto. Suami Salwa itu mengambil kesempatan itu untuk medekatkan diri dengan Agam, berharap Agam bisa memberikan ia kesempatan bekerja di kota.
Acara syukuran pun dimulai, hanya dilakukan sederhana. Keluarga Dodi juga ikut datang merayakan pesta kecil-kecilan tersebut, pestanya berlangsung hingga sore hari. Vany izin pulang lebih dulu begitupun dengan keluarga Dodi. Namun, tidak dengan ibu dan ayah Nilam.
Yanto akan mencoba bekerja di sana mengingat jabatannya memang lebih tinggi dan juga gajinya setara dengan Dodi. Namun, mereka tinggal di daerah terpencil, ia akan membicarakan terlebih dahulu dengan Salwa jika istrinya mau ia akan menerima tawaran tersebut.
"Ibu mau tinghal disini. Kalian pulang saja."
"Bu, maaf bukannya aku tak ingin Ibu tinggal di sini, tetapi Ibu lihat sendiri kan kondisi kami juga belum membaik, Bu. Jika Ibu memang ingin tinggal di sini tunggulah beberapa bulan lagi atau setidaknya saat kami sudah memiliki rumah sendiri," ucap Nilam mencoba menasehati ibunya.
__ADS_1
"Kamu ini anak durhaka ya, ibu sudah mengurusmu selama ini dangam baik, masa kamu tak mau mengurus ibu kembali, jika memang kamu tak bisa mengurus ayah dan ibu ya sudah ibu saja yang tinggal di sini, ayahmu biar pulang dengan kakakmu."
"Ibu, sekali lagi maaf, aku benar-benar ingin Ibu tinggal di sini, tetapi tolong mengertilah dulu, Bu! Biarkan kami memiliki rumah, Nilam janji dan Ibu bisa memegang janji Nilam, saat kami sudah punya rumah dan perekonomian kami juga sudah stabil Ibu akan tinggal bersama kami, bukan hanya Ibu, tetapi juga dengan Ayah," ucap Nilam mencoba menjelaskan pada ibunya karena Nilam sendiri juga tak mau mengambil keputusan sebelum berbicara pada suaminya dan ia yakin suaminya tak akan mau jika ibu mereka tinggal bersama dengan mereka, saat ini kehidupan mereka selama seminggu terakhir ini sangatlah bahagia, anak-anak juga sangat bahagia ia takut kehadiran ibu akan merusak kebahagiaan mereka di mana ia sangat tahu jika suaminya dan juga ibunya tidak begitu cocok.
"Nilam benar, Bu. Sebaiknya kita pulang saja dulu, lagian pekerjaan Dodi sudah tinggi, bapak yakin tak akan lama tak akan sampai setahun mereka pasti akan membeli rumah dan kita akan tinggal di sini saat itu juga bapak coba akan meminta pekerjaan pada Agam," ucap ayah Nilam di mana tadi ia mendengar percakapan Yanto dan juga Agam.
"Ya sudah deh," ucap ibu Nilam akhirnya mereka pun pulang bersama Yanto dan juga Salwa.
Sementara itu Agam sudah melajukan mobilnya menuju ke kediaman mereka.
"Mas Terima kasih ya Mas, sudah baik pada mereka walaupun dulunya mereka membuat banyak kenangan buruk. Namun, mereka tetaplah keluargaku dan aku ingin menjalin silaturahmi kembali dengan mereka," ucap Vany walau hanya Nilam yang terlihat tulus padanya dan ingin berbaikan dengannya. Namun, ia sudah senang akan hal itu.
"Iya sama-sama, itu bukanlah hal besar dan oh ya masalah Yanto tempatnya sangat terpencil, aku tak yakin dia akan tinggal di sana, tetapi jika memang ia berhasil dan mampu melewati semua itu aku yakin dia juga akan berhasil sama dengan Dodi, memang mungkin tempat itu agak terpencil untuk saat ini, tetapi aku yakin 3 atau sampai 5 tahun ke depan tempat itu akan ramai, tempat itu akan dibangun," ucap Agam membuat Vany pun mengangguk. Namun, dia sendiri tak yakin apakah mereka sanggup, ia yakin Yanto akan sanggup. Namun, tidak dengan Salwa dan anak-anaknya.
__ADS_1