
Yanto langsung pulang ke kampungnya. Namun, tidak dengan Dodi karena besok ia harus mulai bekerja. Ia sengaja membawa uang saat ke kota lebih banyak karena ia yakin jika ia pasti akan diterima bekerja, ia bisa melihat Agam adalah orang yang profesional saat pertama mereka bertemu, ia pasti akan menilai seseorang dari kinerjanya dan dia yakin akan kemampuannya.
Yanto sudah pergi lebih dulu meninggalkan Dodi yang baru saja keluar dari perusahaan tersebut, Dodi di langsung mengambil ponselnya dan menelepon Nilam.
"Halo, Sayang. Apa kamu bisa datang ke kota bersama dengan anak-anak secepatnya? Aku diterima bekerja di perusahaan suami Vany dan harus mulai bekerja besok, aku tak bisa menjemputmu dan anak-anak, takutnya aku bisa terlambat di hari pertama bekerja," ucap Dodi.
Dodi bisa mendengar suara teriakan dari istrinya dan terdengar ucapan syukur di sana. Ia yakin istrinya juga pasti senang mendengarnya diterima bekerja di perusahaan sebesar itu.
"Iya, Mas. Kamu tak usah memikirkan aku dan anak-anak, kami bisa kok menyusul kamu ke kota. Oh ya, kamu tinggal di mana? Apa kamu punya uang untuk menyewa rumah?" tanya Nilam di mana selama ini semua hasil kerja keras suaminya dipegang olehnya, ia hanya memberikan ongkos saat pergi ke kota.
__ADS_1
"Aku masih punya uang simpanan sedikit kok, bisa untuk mencari kontrakan yang sederhana, tetapi kamu tidak masalah kan dan anak-anak kita untuk sementara waktu tinggal di rumah kontrakan sederhana dulu, nanti jika aku sudah gajian baru kita cari tempat yang lebih besar," jelas Dodi.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, aku ikut kamu yang penting kita bisa sama-sama dan anak-anak juga bisa bersama kita. Oh ya, Mas bagaimana dengan sekolah anak-anak? Apakah aku harus meminta surat pemindahan mereka atau menitipkannya dulu pada ibu sampai Mas terima gaji dan kehidupan kita di kota sudah lebih baik?"
"Tidak, Sayang. Bawalah anak-anak ke kota bersamamu, jika bisa datanglah besok begitupun urus semua kepindahannya. Saat kalian di kota nanti serahkan semua padaku," ucap Dodi membuat Nilam di sebelah sana pun mengangguk, banyak pertanyaan di benaknya tentang dari mana suaminya mendapatkan uang. Namun, ia mencoba untuk tak menanyakan hal itu, ia percaya jika suaminya pasti bisa mencari cara agar mereka bisa bertahan hidup di kota nantinya, sudah bekerja di kantor berarti ada masa depan yang cerah untuk mereka nantinya..
Setelah mengakhiri panggilannya, Dodi langsung menemui temannya dan meminta temannya untuk mencarikan kontrakan sederhana untuk mereka selama sebulan kedepan dan beruntung temannya memiliki kontrakan yang bisa disewakan untuknya sesuai dengan uang Dodi.
Sementara itu Nilam memberi kabar bahagia itu pada semua keluarganya termasuk Salwa. Mendengar hal itu Salwa langsung menelepon suaminya. Namun, ia hanya mendapatkan kekecewaan karena suami mengatakan jika dia tak diterima bekerja.
__ADS_1
"Apakah kamu pindah ke kota? Ibu mau dong ikut denganmu."
"Jangan dulu ya, Bu. Ini saja katanya kami akan tinggal di tempat sederhana, jika Ibu ikut Ibu mau tinggal di mana, lagian kan kami juga harus menyesuaikan dulu dengan kehidupan kota, Bu," jelas Nilam membuat ibunya pun mengangguk dan mengerti, memang pasti akan sulit saat baru pindah ke suatu tempat, apalagi mereka baru ingin merintis kehidupan mereka di kota.
"Ya sudah, Bu. Aku urus semuanya dulu, besok pagi aku harus langsung berangkat ke kota, Mas Dodi tak bisa menjemput kami karena besok sudah masuk bekerja," jelas Nilam membuat ibunya pun mengangguk bangga atas menantunya itu yang diterima bekerja di perusahaan besar, mengabaikan wajah Salwa yang terlihat cemberut karena suaminya ditolak bekerja dan keinginannya untuk tinggal di kota kini sirna sudah.
"Salwa kamu harus menyemangati suamimu agar kembali mencari pekerjaan di kota, ibu juga bosan tinggal di desa terus. Lihatlah Vany, sekarang hidupnya sudah enak di kota, mungkin saja jika kita juga tinggal di kota yang sama dengannya kita bisa kecipratan harta kekayaan suaminya."
Mendengar itu Salwa hanya mendesah kesal, ia sangat tahu kemampuan suami mereka masing-masing, sejak dulu memang kemampuan suami adiknya jauh lebih dibanding dengan kemampuan suaminya sendiri padahal Dodi dulunua adalah kekasihnya, Namun, ia lebih memilih menikah dengan Yanto pilihan otang tuanya karena Yanto punya beberapa petak sawah sedangkan Dodi hanya pengangguran.
__ADS_1
Nilam yang sejak dulu menyukai Dodi langsung menerima lamaran Dodi setahun setalah Salwa menikah.