
Keesokan harinya Dodi sudah masuk bekerja, ia bekerja didevisi yang sama di mana Dimas, bekerja divisi yang sama di mana juga Vany dulu bekerja di sana. Dodi berusaha melakukan yang terbaik untuk mengambil hati para teman kerjanya.
Hari pertama bekerja, Dodi sudah memberi kesan baik pada mereka semua, ia menyapa mereka semua dengan ramah. Bukan hanya itu, Dodi juga melakukan semua pekerjaannya dengan sangat baik, membuat Dimas merasa bangga dan senang karena apa yang diharapkannya dari Dodi sesuai dengan perkiraannya.
Dodi yang melihat Agam keluar dari lift langsung menghampirinya.
"Selamat sore, Pak," ucap Dodi ikut berjalan bersama dengan Agam di mana saat ini jam pulang kantor.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kamu bisa menyesuaikan diri kan?" tanya Agam membuat Dodi pun mengangguk dan menjelaskan jika ia sangat senang bisa bekerja di perusahaan tersebut dan akan berusaha mengeluarkan semua kemampuannya.
"Bagus, aku tak butuh kata-kata, aku butuh bukti kan kata-katamu itu, maka kamu akan mendapat penghargaan dari perusahaan," ucap Agam membuat Dodi pun mengangguk pasti karena memang itu adalah tujuannya. Ia tak ingin menyia-yiakan waktu dan ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan dan berharap perusahaan pun akan memberikan yang terbaik untuknya dan keluarganya.
Agam berlalu menghampiri mobilnya dan Dodi sigap membukakan pintunya. Agam naik ke mobilnya dan Dodi kembali menutupnya. Agam pulang dengan mobil mewahnya, sedangkan Dodi memilih untuk memesan ojek online.
Sebelum sampai ke rumah, Dodi singgah membeli makanan 4 bungkus. Satu untuknya, untuk istrinya dan untuk kedua anaknya, istrinya tadi sudah mengatakan jika mereka sudah sampai di kontrakan tersebut, sebelumnya Dodi sudah mengirimkan alamat kepada mereka.
__ADS_1
"Semoga saja mereka bisa bertahan sempai waktunya tiba," gumam Dodi yang tahu bagaimana istrinya itu, walau mereka tinggal di kampung. Namun, kehidupannya layaknya orang yang tinggal di kota, membeli apa saja yang diinginkannya, memenuhi apapun yang diminta oleh anak-anaknya tanpa memikirkan masadepan mereka.
Dodi menghampiri mereka dan meminta Nilam untuk menyiapkan nasi bungkus yang tadi ia bawa, mereka pun makan bersama, Nilam terlihat tak nyaman tinggal di rumah itu.
"Mas, apa tak ada rumah yang lebih baik dari ini?" gumam Nilam melihat rumah itu bahkan dindingnya saja ada beberapa bagian yang rusak.
"Aku kan sudah bilang bersabarlah selama 1 bulan ini, begitu aku sudah menerima gaji pertamaku, kita akan pindah ke kontrakan yang lebih baik, aku sudah melihat-lihat beberapa kontrakan dan kita akan pindah setelah aku gajian, suatu saat nanti akau akan membeli rumah yang bagus untuk kalian," ucap Dodi membuat Nilam pun menghela napas dan mengangguk, ia juga bisa melihat juga anak-anaknya tak nyaman tinggal di sana.
"Aku mohon beri pengertian pada anak-anak ya, ke depannya juga mungkin aku akan sering lembur."
"Iya, Mas. Tapi janji ya kita tinggal di sini hanya sebulan," ucap Nilam membuat Dodi pun mengangguk.
Hari-hari mereka jalani di rumah itu dengan kesederhanaan, terkadang Nilam akan menelpon ibunya dan menangis, ibunya mengatakan jika sebaiknya dia pulang saja dan menunggu sampai suaminya pindah ke tempat lain yang lebih layak. Namun, Nilam terlanjur menyekolahkan anak-anaknya di kota itu juga suaminya memintanya untuk bersabar dan melarangnya untuk pulang. Dodi sudah mengancamnya jika ia sampai pulang ia tak akan memintanya untuk datang ke kota lagi, membuat Nilam pun terus berada di rumah itu walau terkadang ia menangis di tengah malam karena kondisinya.
Bahkan di hari-hari terakhir mereka harus berbagi makanan karena persediaan uang mereka sudah habis. Dodi meminta istrinya untuk meminjam pada ibunya karena mereka baru saja panen. Namun, ada banyak alasan yang diberikan dan tak memberikan uang pinjaman pada mereka, Dodi ingin meminjam ke kantor. Namun, ia yang masih baru merasa sungkan pada Dimas, membuat mereka pun bertahan dengan uang seadanya.
__ADS_1
"Mas, semoga saja hari ini benar-benar gajian, ya," ucap Nilam membantu merapikan pakaian suaminya membuat Dodi pun mengangguk.
"Terima kasih ya kamu sudah bertahan sampai hari ini, aku janji setelah mendapatkan gaji kita akan pindah hari ini juga," ucap Dodi membuat Nilam pun mengangguk.
Dodi pun berangkat bekerja dengan penuh semangat dan harapan ia bisa memberikan kehidupan yang layak di bulan berikutnya untuk keluarganya, setidaknya mereka bisa pindah ke tempat yang lebih baik dari tempat yang sekarang mereka tempati.
Dodi bekerja dengan semaksimal mungkin seperti biasanya hingga mereka semua mendapat notifikasi di ponsel mereka masing-masing, itu adalah gaji mereka bulan ini.
Dodi yang melihat nominal gaji yang diterimanya dan sangat bersyukur, itu dua kali lipat dari apa yang diharapkannya. Ia tak menyangka jika perusahaan ini benar-benar memberikan penghargaan untuk kerja kerasnya, gaji pokok, gaji lembur dan juga hadiah diberikan pada karyawan yang bersungguh-sungguh dalam bekerja.
Setelah mendapat gaji tersebut, Dodi langsung menelepon temannya memastikan jika dia telah jadi mengambil rumah yang telah dia lihat sebelnya dan akan pindah hari ini juga, ia akan membawa keluarganya pindah ke rumah itu. Nilam dan anak-anaknya pasti senang.
Sementara itu Vany sebenarnya tahu bagaimana kondisi mereka selama ini di kota, ia pernah ingin membantu. Namun, Agam melarang,
"Biarkanlah mereka merasakan hidup menderita, anggap saja itu adalah hukuman karena mereka juga pernah melakukan hal yang sama padamu."
__ADS_1
Vany menurut apa yang di katakan suaminya. Agam juga tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan mereka, biarlah Dodi bertanggung jawab atas keluarganya sendiri, ia bisa melihat bagaimana kegigihan Dodi dalam bekerja, ia yakin ia akan bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya ke depannya.
Agam yakin jika Dodi bisa tetap bekerja keras seperti saat ini tanpa tergoda melakukan hal yang terlarang di kantor, ia akan suksek suatu hari nanti.