Mantan Suamiku Ternyata Bosku

Mantan Suamiku Ternyata Bosku
Kembali Kekantor


__ADS_3

Agam yang sudah meninggalkan perusahaannya beberapa hari ini membuat ia kembali harus segera bekerja, begitu ia melangkah memasuki kantor ia langsung disambut oleh orang yang dikenalnya, keduanya langsung menghampirinya membuat ia mengurutkan keningnya.


Agam berhenti dan menunggu mereka berdua yang terlihat berlari menghampirinya.


"Selamat pagi, Pak Agam," ucap keduanya menunduk hormat secara bersamaan.


"Pagi, kalian sudah datang."


"Iya, Pak. kami sangat berharap bisa bekerja di perusahaan ini."


Ya, dia adalah Dodi dan juga Yanto, para suami dari sepupu Lily di kampung, Nilam dan juga Salwa.


"Baiklah, ayo ikut aku ke ruanganku," ucap Agam membuat keduanya pun mengikuti Agam melangkah masuk ke dalam kantor.


Saat melangkah masuk mereka melihat betapa megahnya kantor di mana suami dari Vany itu bekerja, terlintas dalam hati mereka jika mereka juga harus bekerja di perusahaan tersebut, mereka terus berjalan mengikuti Agam di belakangnya hingga mereka pun masuk ke dalam sebuah lift yang mengantar mereka ke lantai di mana Agam bekerja.


Begitu liftnya terbuka mereka kembali disuguhkan pemandangan yang lebih mewah lagi, di mana di lantai itu jauh lebih mewah dari lantai-lantai yang mereka lewati. Mereka sudah bekerja di beberapa perusahaan. Namun, perusahaan inilah yang membuat mereka terheran-heran karena kemewahannya, keduanya terus menatap sekelilingnya sambil berjalan mengikuti Agam yang masuk ke dalam sebuah ruangan yang mereka yakini itu adalah ruangan Agam.

__ADS_1


Benar saja begitu masuk ke dalam ruangan tersebut, mata mereka bisa tertuju kepada papan nama yang ada di atas meja besar yang ada di ruangan itu, itu adalah nama dari Agam sendiri.


Mereka berdua langsung mengikuti Agam. Agam duduk di kursi kebesarannya dengan keduanya duduk di depannya, mereka langsung menyodorkan berkas yang mereka bawa saat Agam memberi isyarat untuk memberikan berkas-berkas tersebut.


Pertama Agam membuka berkas Yanto, ia mengangguk melihatnya kemudian membuka berkas-berkas Dodi.


"Aku lihat pendidikanmu jauh lebih tinggi daripada Yanto," ucap Agam melihat ke arah Dodi membuat Dodi pun mengangguk cepat.


"Kami juga berasal dari perusahaan yang sama sebelumnya dan jabatanku dua tingkat lebih tinggi dari Yanto," jelas Dodi membuat Yanto melirik tak senang dengan suami dari adik iparnya itu.


"Aku akan melihat kemampuan kalian," ucap Agam menelepon seseorang, tak lama kemudian orang yang ditelepon oleh Agam pun datang yang tak lain adalah Dimas.


"Baik, Pak. Kalian bisa Ikut saya," ucap Dimas membuat keduanya pun mengangguk dan memberi hormat pada Agam sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Mereka pergi ke salah satu ruangan di mana di sana sudah ada beberapa rangkaian yang akan mereka terima, mulai dari wawancara kerja seperti biasanya dan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Dimas langsung untuk mengetes bagaimana kecakapan mereka dalam bekerja, apakah keduanya pantas bekerja di perusahaan tersebut.


Sementara itu, Agam mulai menyibukkan diri dengan beberapa pekerjaan yang ada di mejanya, walau ia sudah lama pergi ke kantor. Namun, Agam tak diam saja saat di luar negeri ataupun di kampung Vany beberapa waktu lalu, asistennya terus mengirimkan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya membuat ia saat ini hanya memeriksa ulang kembali dan memberi tanda tangan persetujuan untuk melakukan proyek-proyek yang telah dikerjakan oleh para karyawannya.

__ADS_1


Sore hari menjelang waktu jam pulang kantor, Yanto, Dodi dan Dimas kembali memasuki ruangan Agam. Yanto dan Dodi kembali dipersilahkan duduk dengan Dimas yang langsung menyerahkan dua berkas di tangannya.


"Terima kasih, Dimas. Kamu boleh kembali," ucap Agam membuat Dimas pun mengangguk dan menunduk hormat, ia kembali bekerja ke revisinya dan bersiap-siap akan pulang, mengingat sebentar lagi jam kantor akan berakhir. Yanto dan Dodi harap-harap cemas dengan hasil penilaian Dimas, Agam melihat-lihat berkas tersebut. Dimas memberikan penilaian yang cukup ketat di antara keduanya dan Dimas memberikan alasan mengapa mereka lolos dan salah satunya ditolak.


"Bagaimana, Pak?" tanya Yanto setelah melihat Agam memeriksa berkas yang dibawa oleh Dimas tadi.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan ini aku rasa hanya salah satu dari kalian yang boleh bekerja di perusahaan ini, kamu diterima bekerja dan Pak Yanto maaf Anda masih kurang untuk menjadi karyawan di perusahaan kami," ucapnya membuat Dodi tersenyum bahagia, sementara Yanto hanya cemberut merasa tak suka dengan keputusan tersebut, lagi-lagi ia dikalahkan oleh Dodi.


"Pak, tolong terima saya bekerja di perusahaan ini di bagian apa saja juga enggak masalah," ucap Yanto.


"Maaf, Pak. Kami tak bisa menerima bekerja orang yang memang di luar standar dari perusahaan kami, datanglah lain kali silahkan persiapkan diri Anda sebelum bekerja di perusahaan kami," ucap Agam melihat jam di tangannya.


"Ini sudah jam pulang kantor, saya harus pulang. Pak Dodi selamat bergabung dengan perusahaan kami, besok Anda sudah bisa mulai bekerja dan Pak Yanto Anda bisa bekerja di tempat lain, mungkin memang kita belum berjodoh," ucap Agam, walau ia tak begitu mengenal dan menyukai keduanya karena tahu keduanya memiliki masa lalu dengan Vany dan mungkin saja mereka juga ikut memberi kenangan buruk para istrinya itu. Namun, ia mencoba untuk bersikap profesional sebagai seorang direktur dari perusahaan tersebut.


"Terima kasih, Pak. Saya akan mencoba melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucap Dodi menjabat tangan Agam, sedangkan Yanto hanya diam saja dan melihat Agam yang sudah berlalu meninggalkan ruangannya.


"Semangat, Mas. Mungkin Mas bisa bekerja di tempat lain," ucap Dodi membuat Yanto hanya menatapnya kesal dan juga berlalu menyusul Agam keluar dari ruangan itu, sementara Dodi kini berlompat kegirangan. Perusahaan itu merupakan perusahaan yang sejak dulu diminatinya, ia tak menyangka masih diberi kesempatan untuk menjadi karyawan di perusahaan itu, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi sukses dan mendapat jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut, ia akan membawa istrinya ke kota itu, ia tak ingin lagi mendapat penghinaan dari ibu mertuanya dan selalu tunduk pada istrinya.

__ADS_1


Sejak dulu keinginannya untuk memiliki rumah sendiri dan jauh dari ibu mertuanya sebentar lagi akan terwujud. Tinggal di kota dan menikmati kebahagiaan bersama istri dan anak-anaknya tanpa ganguan ibu mertuanya, ia akan mewujudkan semua itu sebentar lagi, dia akan mengerahkan semua kemampuannya untuk mendapatkan dan mewujudkan impiannya itu.


__ADS_2