
marliana selalu pulang telat karena kesibukannya disekolah dan waktu berkumpul bersama ibunya pun terganggu karena kesibukannya masing-masing. ibu selalu berusaha untuk bisa menjemput marliana pulang sekolah.
" nak sini," ucap ibu sambil melambaikan tangannya.
"ibu" ucap marliana
marliana menghampiri ibunya yang masih membawa karung yang berisi botol bekas. banyak siswa-siswi yang memandangi mereka, mereka terkejut ternyata ibunya marliana seorang pemulung makin benci nya mereka mempunyai teman kelas yang seorang anak pemulung.
ada tiga siswi yang satu kelas dengan marliana mereka menghampiri marliana dan ibunya lalu menghina dan mengejek mereka berdua sampai akhirnya ibu marah kepada mereka.
" jaga ucapan kalian jangan seenak-enaknya mengejek dia (marliana) anak ini hanya membantu saya lagian anak ini bukan anak saya jangan bicara asal ngelantur. kalian di sekolahkan bukanya makin pintar malah suka mengejek orang malu kalau orang tua kalian tau anaknya seperti ini paham kalian!!!." ucap ibu dengan marah ia sengaja mengatakan bahwa bukan ibunya marliana karena ia tau jika nanti pasti marliana akan selalu di ejek satu sekolah yang mempunyai seorang ibu pemulung.
" marliana lagian cocok juga kalau dia jadi ibu kamu haha sama-sama kucel." ucap seorang siswi
karna mendengar ucapan mereka yang menghina marliana pun berlari menjauhi mereka sembari menangis lalu ibu pun meninggalkan anak-anak tadi ibu merubah arah jalan yang di lalui marliana.
ibu perjalan jauh sambil memikirkan perkataan anak tadi ia merasa kasihan kepada marliana yang mempunyai seorang ibu pemulung.
sampai akhirnya ibu berteduh lalu tiba-tiba ada tangan yang mengulurkan makanan berupa roti dan air putih ternyata marliana yang membawanya itu. ia bertanya kepada ibu kenapa ia tidak searah dengannya? ibu tidak mau jika mereka ( teman marliana) tau kalau ibu ini ibu kamu nak, nanti di sekolahan kamu dihina terus ibu takut jika terjadi sesuatu pada kamu.
marliana pun memeluk ibu dan marliana berusaha menghibur ibu, akhirnya mereka berdua memakan roti tersebut yang di bawakan marliana. roti tersebut beli dari sisa uang saku marliana.
marliana senang menabung walaupun uang sakunya sedikit tapi ia berusaha agar bisa menyimpan uang seberapa pun itu.
karna marliana masih memakai pakaian sekolah ibu menyuruh marliana agar pulang dahulu sementara ibu akan lanjut mencari botol bekas. sebenarnya marliana ingin membantu ibu karna tidak di izinkan ibu membantunya akhirnya marliana pun menuruti perkataan ibu dan pulang.
sesampainya di rumah marliana berganti pakaian lalu ia membersihkan rumah karna ia merasa kasihan kepada ibu sudah cape harus bersihin rumah pula, serta memasak seadanya untuk dirinya dan ibu jika nanti sudah pulang.
__ADS_1
karna marliana juga tidak memiliki teman di lingkungannya ia selalu di rumah dan mengulas lagi pelajaran yang tadi diajarkan di sekolahan. marliana kadang merasa bosan jika di rumah terus tapi apalah daya teman-temannya tidak mau berteman dengan marliana yang seorang anak pemulung mereka melihat jika marliana kotor karena tiap hari berdekatan dengan sampah.
karna sangking bosannya marliana pun tidur ia bermimpi bertemu dengan pangeran yang baik hati di dalam mimpinya begitu sangat indah, namun tiba-tiba ibu membangunkannya.
" ibu sudah pulang." ucap marliana sembari mengusap matanya
"iya nak, hari ini panas jadi ibu gak kuat ibu memutuskan untuk pulang saja," ucap ibu.
"marliana sudah masak untuk ibu, ibu sudah makan belum?," tanya marliana ia begitu perhatian kepada ibunya.
"iya nanti ibu makan nak, ibu mau ke kamar dulu ya nak," ucap ibu yang sangat lelah.
"iya bu" ucap marliana
marliana melihat ibu nya berjalan dengan pelan dan mukanya terlihat pucat, marliana pun berinisiatif menghampiri ibunya saat ibu nya berbaring untuk tidur marliana langsung memegang kaki ibu untuk memijit nya.
ibu pun tertidur marliana mengambil selimut untuk menyelimuti kaki ibu lalu meninggalkan kamar ibu.
marliana pergi dan duduk di teras rumah ia memandangi rumah sekitar yang terlihat sangat bagus sementara rumahnya sudah buruk dan lapuk ia ingin sekali merenovasi rumah namun bisa makan pun sudah sangat bersyukur.
saat menatap pedagang makanan keliling ia pun ingin juga bisa berjualan untuk menambah penghasilan ibu dan biaya sekolah, namun apa yang ingin marliana jual uang tabungan juga masih sedikit akhirnya marliana mengurungkan ide tersebut sampai nanti kalau tabungan sudah cukup untuk modal maka ia akan berjualan.
hujan datang marliana segera masuk ke dalam rumah untuk menampung air dari genteng rumah yang bocor.
ibu bangun mencari marliana ia ingin makan bersama marliana, marliana pun mau ia mendampingi ibu yang sedang makan.
malam tiba.....
__ADS_1
rumah marliana tiba-tiba gelap ternyata ibu belum membayar tagihan listrik bulan ini karena uang nya sudah di pakai untuk pendaftaran sekolah marliana, jadi ibu mengambil lilin yang ada di dapur dan menyalakan nya.
suasana gelap pun marliana masih berniat untuk belajar ia di temani ibu.
hujan semakin lebat serta rumah yang gelap seakan rumah tidak berpenghuni.
marliana mempercepat belajarnya takut buku ya terkena cipratan air, ibu pun menyuruh marliana bergegas tidur sementara ibu menjaga rumah karena angin yang kencang seakan-akan rumah itu akan roboh.
beberapa menit kemudian ibu bersyukur karena angin dan hujan sudah reda rumah yang ia tempati masih berdiri ibu pun tidur karena besok akan mencari botol bekas lebih banyak agar ia bisa membayar listrik supaya saat marliana belajar tidak terganggu oleh gelapnya rumah.
malam yang hening hanya suara jangkrik yang terdengar, di rumah yang sudah lapuk hanya ada dua perempuan yang masih bisa menerima keadaan seperti itu....
pagi yang cerah tiba....
marliana menghirup udara pagi hari yang sangat sejuk sisa semalam hujan.
ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap sementara ibu sedang memasak untuk sarapan marliana.
sudah rapi marliana langsung sarapan dan meminta izin ke ibu untuk berangkat sekolah dan ibu juga akan segera pergi mencari botol bekas.
sepanjang jalan ibu mengkhawatirkan marliana ia takut jika marliana di bully oleh teman-temannya karena ibu sudah mendengar perkataan teman sekelas marliana yang mengejek kondisi anaknya.
tapi ibu berfikir positif, marliana anak yang pintar dan baik pasti dia juga mempunyai teman yang baik di sana yang akan membelanya jika marliana di bully.
marliana sampai di sekolah ia mengikuti pembelajaran seperti biasa, sebenarnya guru di sana sudah tau pekerjaan ibunya dan guru di sana sangat bangga karena marliana mempunyai semangat untuk sekolah walaupun keterbatasan biaya.
marliana merupakan anak yang cerdas dan rajin hampir semua ekstra kurikuler ia ikuti.
__ADS_1