Masa Iddah

Masa Iddah
Bab 1


__ADS_3

Namaku Tina, Umurku Empat puluh tahun. Aku tinggal di Desa Ceplik, Sukoharjo, sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Suamiku Winarno (aku memanggilnya Mas Win), umur Lima puluh lima tahun seorang penjaga Sekolah Dasar, statusnya belum PNS, masih Pegawai Tidak Tetap Honorer K2 dengan gaji UMR. Mungkin sampai pensiun tidak akan jadi PNS, padahal sudah puluhan tahun mengabdi. Dulu sih sering demo, tapi kayaknya sekarang pasrah dengan kebijakan Pemerintah.


Kami mempunyai Tiga orang anak. Yang pertama, Bagas Pratama umur 20 tahun, kuliah semester akhir di Politeknik Furniture Kendal. Awalnya dia tidak mau kuliah karena tahu kondisi ekonomi orang tuanya, tapi sama Pakdhe Loso (kakaknya Mas Win) diarahkan supaya coba - coba daftar kuliah kedinasan yang gratis. Akhirnya dia coba daftar di STAN, tapi tidak lolos lalu dia mendapat info dari temannya, kalau ada Politeknik gratis di Kendal dan alhamdulillaah diterima disana.


Yang kedua Yoga Aditya umur delapan belas tahun, setelah lulus SMA, dia memilih mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren di Jawa Timur. Dan alhamdulillah pondoknya gratis juga.

__ADS_1


Dan yang ketiga Fatimah Aulia, masih duduk di kelas VIII SMP Negeri yang jaraknya sekitar 5 km dari rumah.


Selama ini aku membantu suamiku memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan berjualan es dan jajanan di rumah, karena kebetulan letak rumahku tepat didepan SD tempat Mas Win bekerja. Tapi sudah hampir dua tahun ini jualanku sepi, karena semenjak adanya wabah covit 19, anak - anak tidak boleh masuk sekolah dan hanya mengikuti pembelajaran secara daring.


Kami terpaksa harus gali lubang tutup lubang untuk makan dan sekolah anak - anak, karena walaupun kuliahnya gratis, tapi untuk bayar kos, transport dan makan Bagas saja, sudah menghabiskan hampir seluruh gaji Mas Win. Belum Yoga dan Fatimah.

__ADS_1


Sampai akhirnya, sekolah mendapatkan bantuan pembangunan mushola dari Yayasan asal Qatar. Dan Alhamdulillaah Mas Win diperbolehkan untuk ikut menjadi buruh bangunan disitu dengan upah seratus ribu per hari. Tentu saja ini menjadi anugerah bagi keluarga kami. Sedikit demi sedikit kami bisa melunasi hutang yang semakin lama semakin membuat kami kehilangan muka, karena yang kami hutangi adalah Ibu Kepala Sekolah (Ibu Yoen) yang notabene hampir setiap hari bertemu. Sebenarnya Ibu Yoen tidak pernah menagih hutang, tapi kami perasaan sendiri.


Pembangunan Mushola diawasi langsung oleh perwakilan pihak Yayasan yaitu Mr. Dave (aku kurang tahu nama lengkapnya) seorang warga negara Singapura dan pekerjanya diambilkan dari masyarakat sekitar, karena nantinya Mushola tidak hanya untuk SD saja tapi juga boleh digunakan untuk masyarakat umum.


Mr. Dave masih muda, mungkin umur tiga puluh tahunan, orangnya ramah dan dermawan, walaupun aku belum pernah melihat wajahnya secara langsung karena beliau tidak pernah melepas maskernya. Beliau juga lancar berbahasa Indonesia sehingga tidak ada kendala dalam berkomunikasi dengan para pekerja.

__ADS_1


Kata Mas Win, Mr. Dave tidak hanya mengawasi pembangunan mushola di Sekolah kami saja tapi seluruh Kabupaten Sukoharjo yang mendapat bantuan dari Yayasan Qatar. Ada sekitar delapan Masjid atau Mushola yang di bawah pengawasan Mr. Dave.


Biasanya Mr. Dave meninjau pembangunan Mushola kami, setiap Sabtu pagi, sekalian mengecek material yang dibutuhkan dan sekaligus memberikan upah untuk pekerja. Selain upah, beliau pasti memberikan bonus sembako. Kadang beras, minyak, telur, mi instan, gula, teh dan sebagainya yang tentunya sangat membantu kami para pekerja.


__ADS_2