Masa Iddah

Masa Iddah
Bab 8


__ADS_3

Aku terbangun saat terdengar adzan subuh yang terasa begitu dekat... Fatimah ikut bangun.


"Itu yang adzan masjid mana nduk, kok kayak deket banget? Kayak suaranya masmu Yoga?"


"Emang mas Yoga buk, adzan di mushola sekolah. Perasaan tadi malem pas isa belum ada miknya buk... kok sekarang sudah ada ya... Ayo buk... kita subuh ke masjid ya..."


Aku mengiyakan ajakan Fatimah. 'Ya Allah... Mas Win ikut mbangun mushola ini.... semoga menjadi amal jariyah beliau sehingga bisa meninggikan derajatnya di surgaMu."


Kulihat di mushola sudah ada Pakdhe Loso, Budhe Ndari, ponakan dan anak - anak. Dan ada satu laki - laki yang pake surban.


"Itu siapa nduk?"


"Mr. Dave buk."


"Oh."

__ADS_1


Selesai sholat subuh di mushola, aku segera pulang untuk mempersiapkan sarapan.... Yang lain masih ngobrol santai di mushola. Dibantu budhe Ndari, kami masak sarapan dengan bahan - bahan yang ada saja. Kebetulan kemarin tetangga banyak membawa bahan makanan. Ada beras, gula, teh, minyak, telur, tempe, bihun, mi kuning, kelapa dan banyak lagi. Sudah kebiasaan di desaku, kalau ada yang meninggal, tetangga datang membawa bahan makanan dan uang duka sekedarnya. Istilahnya "tukon banyu".


"Dek, maaf ya...aku nanti sore pulang... soale anak - anak besok sekolah... walaupun daring tapi alat - alate kan dirumah. Nanti kalau Yoga mau, biar bareng sekalian."


"Nggih budhe... nggak apa - apa... tapi Yoga biar dirumah dulu, setidaknya seminggu atau lebih sampai saya tenang. O ya nanti siang tolong di bantu mbukain amplop duka dulu nggih budhe..."


"Iya... nanti biar dibantu anak - anak juga, yang penting .... dek Nita harus semangat... hidup harus terus berjalan... anak - anak butuh semangatmu dek... terutama Fatimah."


"Iya Budhe, mungkin karena mas Win perginya mendadak jadi masih agak shock.... tapi insyaallah saya kuat, masalah rejeki... pasrah gustiallah, pasti Allah paring budhe..... anak - anak sudah terbiasa hidup pas - pasan."


"Iya dek.... Alhamdulillaah ini teh sama gorengan sudah siap, apa dibawa ke mushola wae ya dek?"


Sementara mereka ngeteh di mushola, aku dan budhe Ndari meneruskan memasak sarapan.


Setelah sarapan, kami mulai membuka amplop duka. Alhamdulillaah setelah dihitung dapat Rp. 7.780.000,-.

__ADS_1


"Dek Nita, Bagas, Yoga dan Fatimah... tolong kumpul sini sebentar... Pakdhe mau bicara." kata Pakdhe Loso.


"Begini.... Le... Bagas, Yoga dan kamu nduk Fatimah... Bapak kalian sudah bahagia disana... nah kewajiban kalian sebagai anak... hanya satu yaitu mendoakan Bapak supaya diampuni dosanya dan ditinggikan derajatnya di surga. Setiap selesai sholat dan selesai membaca Al Quran jangan lupa mendoakan orang tua ya..."


'Nggih Pakdhe" jawab anak - anak.


"Terus ini dek Nita, ada titipan uang duka dari Mr. Dave sebesar sepuluh juta rupiah.... Mr. Dave mohon maaf atas kejadian yang menimpa Pak Win. Mr. Dave juga minta maaf belum kuat meminta maaf langsung ke Dek Nita... Mr. Dave masih shock katanya."


"Ya Allah pakdhe.... bilang ke Mr. Dave, terima kasih banyak dan bilang kalau saya sudah memaafkan, tidak perlu merasa bersalah begitu... semua sudah qodar Allah... umur Mas Win sudah ditulis segitu, saya dan anak - anak ikhlas menerimanya."


"Ya... tadi yo ws tak bilangi begitu.... O yo ... insyaallah nanti sore aku sak batih pulang, soale anak - anak besok tes. Nanti Bagas biar dirumah dulu lima belas hari, aku sudah bilang pengurus pondoknya dan diijinkan."


"Nggih pakdhe... tadi budhe Ndari sudah bilang.... terima kasih banyak nggih pakdhe.... sekali lagi kalau ada salahnya mas Win tolong dimaafkan"


"Sudah dimaafkan.... Dek Nita harus tetep semangat melanjutkan hidup dengan anak - anak.... untuk masa iddah dek Nita sudah paham kan... empat bulan sepuluh hari. Selama itu tidak boleh dandan lo ya...."

__ADS_1


"Ya Allah pakdhe.... saya ini tidak pernah dandan...."


"Mung guyon biar nggak sepaneng...ha ha ha..."


__ADS_2