
Selepas sholat Isa kami berkumpul di ruang tamu untuk dzikir bersama. Hanya aku, anak - anak dan keluarga Pakdhe Loso. Biasanya di kampung kami kalau ada yang meninggal, maka malamnya Bapak - bapak satu RT akan datang untuk tahlilan istilahnya. Tapi malam ini tetangga tidak ada yang datang, hanya Mas Karyo dan Yu Sri. Bukan apa - apa, karena memang pemerintah melarang masyarakat mengadakan acara - acara yang mengumpulkan orang banyak, apalagi di rumah ada keluarga yang dari luar kota.
Aku lihat anak - anak khusyuk membaca dzikir. Air mataku terus mengalir di sela - sela dzikirku. "Ya Allah... Mas Win... kamu lihat anak - anak kita... mereka mengirim doa untukmu. Ampuni dosa - dosa mas Win ya Allah.... tempatkan beliau di surga firdausMu"
"Assalaamu 'alaikum....!"
Aku menoleh kearah pintu...
"Waalaikumussalaam... Ya Allah Bu Yoen... Alhamdulillaah sudah mau datang..."
"Iya Bu Tina... mohon maaf ya... tidak bisa lama - lama .... ini ada sedikit snack sama air mineral buat teman dzikir biar tidak ngantuk... semoga Pak Win husnul khotimah ya bu... yang kuat ya bu Tina untuk anak - anak... sekali lagi maaf... saya langsung pamit karena tadi sudah di pesan sama satgas covit... tidak boleh lama - lama katanya.. "
__ADS_1
"Walah... kok malah repot - repot jenengan ki... Terima kasih banyak nggih Bu Yoen.... tolong kalau mas Win ada salah yang disengaja atau tidak mohon dimaafkan ya bu..."
"Iya Bu Tina... sudah dimaafkan... Bu Tina yang ikhlas mendampingi anak - anak ya.., urusan kedinasan nanti kita selesaikan setelah Bu Tina sudah lebih tenang ya... saya pamit nggih..."
"Nggih, nderekke Bu, sekali lagi terima kasih banyak."
"Sama - sama bu, Assalamu'alaikum..."
Kami melanjutkan dzikir sampai jam sepuluh malam. Aku melihat anak - anak sudah kelihatan lelah. Mereka langsung berbaring di tempatnya masing - masing, Pakdhe Loso malah sudah tidur dari tadi. Mungkin kecapekan. Mas Karyo sama Yu Sri juga sudah pamit pulang. Budhe Ndari juga sudah berbaring tapi kulihat belum tidur. Aku segera menutup pintu dan jendela. Lalu menyusul berbaring di sebelah budhe Ndari. Yah ... malam ini tidak ada yang tidur di kamar. Semua tidur diruang tengah seperti saat hari raya.
Sudah jam dua belas malam, tapi aku belum bisa tidur. Kulihat semua sudah tidur nyenyak. Aku beranjak mengambil air wudhu. Kuputuskan untuk sholat supaya hatiku lebih tenang.
__ADS_1
"Ini malam pertama tanpamu mas Win, tenang disana ya mas.... aku janji akan menjaga dan mendampingi anak - anak mas. Ya Allah ampunilah semua dosa - dosa mas Win dan tempatkan mas Win di surga firdausMu ya Allah.... Dan bukakan jalan rejeki untukku agar bisa menafkahi anak - anak... jadikan mereka anak - anak yang sholih dan sholihah yang selalu sayang sama orang tua. Berikan kelancaran mereka dalam pertumbuhannya, pendidikannya dan rejekinya. Berikan keluarga kami sehat, umur panjang yang barokah, aamiin... aamiin... aamiin..."
Setelah sholat, hatiku menjadi lebih tenang. Aku kembali membaringkan tubuhku disamping budhe Ndari. Suasana malam hening sekali. Kupejamkan mata berharap bisa terlelap, tapi tetep nggak bisa tidur. Kembali aku berdzikir sambil memejamkan mata. Tiba - tiba ada yang memelukku, aku sedikit kaget... ternyata Fatimah...
"Ibuk nggak bisa tidur?"
"Bisa... ini mau tidur... malah kamu kagetin...."
"Ya udah ayo tidur buk, sudah malem ini... "
"Iya... sini tak keloni nduk..."
__ADS_1