
Setelah sholat Maghrib berjamaah di Mushola aku memaksa anak - anak untuk pulang. Mereka harus menjawab rasa penasaranku. Sementara Mr. Dave ngobrol sama mas Karyo dan lek Sugeng. Sebenarnya aku agak heran kenapa warga yang lain tidak ikut sholat di mushola... hanya mas Karyo dan lek Sugeng. Apa karena masih pandemi?
"Oke.... sekarang ibuk mau lihat nota pembelian barang - barang ini, siapa yang bawa... Bagas apa Yoga."
"Mr. Dave" jawab mereka bersamaan
"Mr. Dave?.... kok bisa?"
"Begini buk... tadi tokonya itu ternyata tidak menerima uang cash... jadi Mr. Dave membantu membayarnya pake debet. Tapi kita udah tuker kok buk sesuai jumlah yang di nota... lima juta tiga ratus untuk komputer sama printer. Terus pas keluar, ternyata disamping toko komputer itu ada toko mesin - mesin jahit... ya udah kita iseng lihat harga dulu... eehh... tahu tahu Mr. Dave udah milih itu... katanya itu yang lengkap... dan harganya terjangkau, cuma satu setengah juta... ya udah akhirnya beli itu."
"Coba kamu cek le... di toko online berapa harga mesin type ini?"
"Ibuk kenapa to?" Yoga merasa heran.
"Coba cek dulu"
__ADS_1
"Disini harganya kok tiga juta lebih ya buk..." kata Bagas
"Nah itu.... sekarang kalian temui Mr. Dave... tanya harganya mesin jahit berapa terus kalian kasihkan kekurangannya..ambil dilemari ibuk. Nggak enak sama Mr. Dave..."
"Nanti saja buk...sekalian sholat isa ... sekarang aku mau makan dulu ah buk... laper banget ini..."
"Halah kalian ini... katanya udah jajan tadi.."
"Emang udah jajan buk, tapi empek - empek... itu kan namanya belum makan buk... he he he... "
"Ayo Fat aku bantu.." kata Yoga sambil berlalu ke dapur menyusul Fatimah.
Yah begitulah... semua aktifitas dirumah ini terpusat di ruang tengah. Ibaratnya ini adalah ruang serbaguna. Ya ruang keluarga, ruang makan, ruang tamu, bahkan ruang tidur, karena semenjak mas Win meninggal, anak - anak lebih suka tidur bersama di sini walaupun hanya beralas tikar.
Baru mulai makan tiba - tiba hujan turun dengan derasnya bahkan disertai petir yang menggelegar. "Ya Allah... mas Win disana sendirian kehujanan dan kedinginan." Tak terasa air mataku mengalir kembali.
__ADS_1
"Ibuk kenapa?" tanya Fatimah sambil memelukku
"Ibuk ingat bapak kalian.. hujannya deras banget... kasihan..."
Bagas sama Yoga langsung ikut memelukku. "Ibuk jangan begini to... Bapak sudah tenang disana.... besok pagi aku sama Yoga akan lihat makam bapak mudah - mudahan tidak ambles. Sekarang kita makan ya..." Akhirnya kami makan dalam diam,
Karena derasnya hujan malam ini maka rencana menemui Mr. Dave untuk menanyakan tentang harga mesin jahit gagal, rencana Bagas sama Yoga yang katanya mau latihan nyopir juga gagal.
"Buk, mesin jahitnya mau ditaruh dimana, biar Bagas pasang. Pakai meja yang di kamar Yoga saja buk, kayaknya pas."
"Enaknya dimana ya mas, apa dibawah jendela itu saja biar nggak gelap."
"Iya bener buk, berarti kursi panjangnya bapak dipindah."
"Iya dipindah ke teras saja le.. diangkat sama Yoga sana..."
__ADS_1
Setelah geser sana, geser sini dorong sana dorong sini... akhirnya mesin jahit terpasang dengan rapi dan siap digunakan, cuman butuh ditambah lampu biar lebih terang maklum mata tua... he he