
Malam semakin sepi. Keluarga Pakdhe Loso sudah pulang. Rencana pulang sore, tapi akhirnya molor sampai sehabis isa. Anak - anak keasikan ngobrol. Maklum... sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu karena pandemi. Habis Maghrib tadi juga sempat video call sama budhe Nining. Saling menguatkan. Sama - sama mendapat cobaan berat. Semoga semua bisa kuat dan sabar.
Baru jam 9 malam... tapi kulihat anak - anak sudah tidur. Kubiarkan televisi menyala, aku mau pindah ke kamar. Punggungku rasanya pegel semua... Yah namanya tulang tua .... kalau tidur tidak dialasi kasur maka tulang akan protes he he....
__ADS_1
Kubaringkan tubuhku di kasur, walaupun kasur tua tapi terasa nyaman. Kubaca surat - surat pendek yang aku hapal sambil berharap bisa tidur cepat malam ini..... tapi tetap saja tidak bisa tidur. Sudah jam sebelas malam. Aku bangkit, mau mengambil air wudzu lalu sholat. Kupanjatkan doa, kupasrahkan semua pada Allah. Minta jalan terbaik kedepannya untukku dan anak - anak.
Alhamdulillaah, setelah sholat hati tenang, kupejamkan mata dan tidur. Sebenarnya tiap malam aku selalu tidur sendiri. Mas Win memilih tidur di kursi panjang yang terbuat dari bambu (orang jawa bilang "lincak") yang ada di depan televisi. Hanya kadang kalau butuh saja beliau mau dikamar. Itupun jarang sekali. Pernah sampai tiga bulan beliau tidak ke kamar. Bahkan dari awal kami menikah, tidak seperti cerita orang - orang, yang katanya kalau pengantin baru itu selalu lengket, seperti perangko, kemana - mana berdua, jalan - jalan dan sebagainya.... tidak dengan kami.... Kami dijodohkan. Setelah menikah, kami tidur dirumah kami masing - masing karena orang tua kami sama - sama sakit. Aku anak satu - satunya, sementara ayahku sudah meninggal sejak aku kecil, jadi hanya aku yang jadi andalan ibukku yang sakit struk. Sedangkan Mas Win, Ibunya sudah meninggal sebulan sebelum kami menikah. Sejak saat itu Bapaknya sakit - sakitan. Sebenarnya waktu itu semua saudara mas Win kumpul, menginap. Tapi bapak maunya tidur ditemani mas Win. Kalau mas Win tidak ada, Bapak akan teriak - teriak sambil menangis. Jadilah kami tidur dirumah masing - masing.
__ADS_1
Hal itu berlangsung sampai satu bulan, tepatnya sampai akhirnya ibukku meninggal. Setelah itu, aku pindah ke rumah mas Win... ikut membantu merawat bapak. Semua saudara mas Win sudah kembali kerumah masing - masing. Tapi pakdhe Loso seminggu sekali pasti datang menengok bapak. Sedangkan Budhe Nining sudah pasrah ke mas Win.
"Iya mbak... nggak apa - apa. Biar aku sama Tina yang merawat Bapak. Jenengan cari uang saja yang banyak .... buat jajan aku he he"
__ADS_1
Begitulah... akhirnya aku dan mas Win yang merawat bapak. Tapi kami tetap tidur terpisah. Mas Win tetap tidur sama bapak. Tapi hubungan kami semakin baik. Walaupun memang mas Win itu orangnya pendiam.. jadi kami hanya ngobrol seperlunya. Setelah satu bulan aku tinggal di rumah mas Win, Bapak meninggal dunia. Setelah pemakaman bapak, Mas Win sempat pingsan. Badanya panas.... mungkin karena kecapekan. Pakdhe Larto menyarankan mas Win untuk dikerik lalu istirahat di kamar. Sore itu pertama kali aku merawat mas Win. Aku kerik lalu aku pijitin sampai beliau tidur. Saat Maghrib, beliau bangun sebentar, sholat, makan, minum obat lalu tidur lagi. Sementara aku membantu budhe Nining dan tetangga menyiapkan hidangan buat acara tahlilan.
Selesai acara tahlilan, aku bangunkan mas Win untuk sholat isa. Setelah itu kami berkumpul dengan saudara - saudaranya mas Win diruang depan untuk ngobrol. Tapi baru sebentar, pakdhe Loso menyuruh kami istirahat di kamar supaya benar - benar pulih. Dan malam itulah menjadi malam pertama kami.
__ADS_1