
Jam setengah dua akhirnya Yoga dan Mas Loso sekeluarga dateng. Setelah tangis - tangisan sebentar, Mas Loso sekeluarga beserta kerabat lain sholat jenazah lalu kami melihat jenazah mas Win untuk yang terakhir kalinya.
Tepat jam dua siang kami melepaskan mas Win untuk dimakamkan. Yah... semua sudah takdir. Seberat apapun, kami harus menerima takdir ini. Alhamdulillaah Bagas, Yoga dan Fatimah benar - benar menguatkan aku.
Mas Win benar - benar orang yang baik sehingga hampir semua teman - teman instansi baik guru maupun sesama penjaga, bahkan Bapak Ibu Kepala sekolah sekecamatan semua hadir memberikan penghormatan terakhir, walaupun hanya datang dan pergi bergiliran supaya tidak berkerumun.
Setelah asar rumah sudah agak sepi. Tetangga sudah pada pulang. Tinggal Pakdhe Loso sekeluarga, mas Karyo dan istrinya (Yu Sri). Anak - anak dan ponakan - ponakan masih tiduran diruang tengah... mereka pasti lelah.
Aku memilih ngobrol sama Budhe Ndari (istrinya Pakdhe Loso) dan Yu Sri. Walaupun sebenarnya rasanya tubuhku capek sekali.. tapi tetep mataku tidak bisa terpejam.
"Yu... maturnuwun nggih.... sudah dibantu menyiapkan semuanya... nanti tolong dihitung ya yu... tadi semua habis berapa?" (Tadi aku memang pasrah Yu Sri untuk mencukupi dulu semua keperluan pemakaman dan lain - lain yang umumnya berlaku di desa kami.)
__ADS_1
"Dek Tina, tidak usah memikirkan itu... semua sudah dicukupi oleh Mr. Dave. Jadi sekarang sampeyan fokus menata hati, mengikhlaskan Dek Win supaya tenang disana... ya..." jelas Yu Sri.
"Ya Allah, piye to yu....kembalikan wae yu... uangnya Mr. Dave. Aku ada kok yu. Habisnya berapa nanti tak ambilke yu... La aku nanti malah hutang budi sama Mr. Dave."
"Dek Tina ki tenang wae... tidak usah mikir jero, la Dek Win kan meninggal karna kecelakaan kerja jadi sudah semestinya itu jadi tanggung jawabnya Mr. Dave"
"Yu Sri ... sebenarnya kronologi jatuhnya Om Win ki bagaimana to?" tanya Budhe Ndari. (Sebenarnya aku juga ingin menanyakan itu).
Mendengar cerita yu Sri, air mataku tidak berhenti mengalir sampai budhe Ndari memelukku erat.
"Sudah... sudah bulik.... Om Win sudah tenang... mungkin memang sudah jalannya Om Win meninggal begitu... Ayo di ikhlaskan ditata hatinya pelan - pelan... Bagas, Yoga, Fatimah butuh kamu bulik... yang kuat yaa"
__ADS_1
"Iya budhe, sebenarnya saya sudah ikhlas, sudah menerima Mas Win pergi tapi nggak tahu kok masih pingin nangis..... memang gembeng kok budhe saya ini....."
"Yo alon - alon dek... manusiawi kalau cuma nangis, namanya juga dapat musibah mendadak... setelah dua puluh tahun hidup bersama.. iya to, Eh tapi kata mas Karyo, dek Win sebelum meninggal sempat mbisiki apa gitu sama Mr. Dave, mas Karyo nggak denger, cuman Mr. Dave kok ngangguk - angguk sambil ngomong.. iya saya janji gitu..." cerita yu Sri.
"Kira - kira Mas Win ngomong opo yo yu?"
"Mbuh dek, cobo takon Mr. Dave ... oh apa nanya Bu Yoen... soalnya Bu Yoen ya dideketnya Mr. Dave mungkin beliau denger."
"Iya Yu, insyaallah nanti kapan - kapan kalau ketemu, takutnya nanti mas Win wasiat apa gitu."
"La iya... ya sudah dek... aku tak pamit dulu ya... tak ngasih minum sapi dulu, insyaallah nanti malam aku kesini lagi. Kamu mandi sana terus istirahat ya..." pamit yu Sri.
__ADS_1