Masa Iddah

Masa Iddah
Bab 18


__ADS_3

Selesai mandi, aku langsung ke kamar. Aku mau merebahkan tubuhku. Hari ini terasa melelahkan.


"Buk....! Sudah selesai belum mandinya?"


"Sudah... ini ibuk di kamar... mau istirahat sebentar... capek banget.."


Fatimah langsung menyusulku ke kamar.


"Hadeecchh... buk.. lha kapan aku kasih surprisenya..."


"Halah... kamu ini mbok nggak usah macem - macem... sini pijitin kaki ibuk"


"Iya dech... tapi ibuk lihat video ini dulu ya..." kata Fatimah sambil menyerahkan HP-nya.


Aku lihat video, ternyata disitu ada Bagas yang lagi kipas - kipas pakai uang.


"Lhoh ini masmu lagi opo nduk... duitnya siapa yang dipakai kipas - kipas... lakok nggaya.... eh... la tapi ini kan dikamar.... lha apa masmu pulang?"


Tiba - tiba ada yang memelukku dari belakang... "Assalamu'alaikum ibukku sayaang..."


"Ya Allah le... alhamdulillaah...... kamu sehat to?"


"Alhamdulillaah sehat buk... dan ini gaji pertamaku untuk ibuk.." kata Bagas sambil menyerahkan amplop tebal.


"Jangan le... simpan buat keperluan kamu... nanti kalau ibuk butuh... ibuk akan bilang... eh.. tapi kamu kan belum satu bulan kerja kok sudah gajian... terus ini bukan tanggal merah kenapa pulang... apa libur?"

__ADS_1


"Haduuuh... ibuk ini.... tarik nafas dulu... tenaang.... Bagas jelasin yaa... begini... gaji pertama ini sudah Bagas niatkan untuk ibuk, jadi harus ibuk terima yaa... supaya rejeki Bagas tambah barokah... terus kalau untuk keperluan Bagas... ibuk jangan kuatir... karena kemarin dua minggu berturut - turut Bagas lembur yang insyaallah cukup sampai gajian bulan depan... dan yang terakhir... selama tiga hari ini Bagas dan teman - teman dapat ijin dari perusahaan untuk mengikuti wisuda... dan insyaallah nanti habis isa Bagas berangkat.. karena pagi - pagi besok harus persiapan wisuda dikampus."


"La malem - malem mau naik apa? Terus tidurnya nanti dimana?"


"Nanti dijemput temenku buk, pake mobil. Tidurnya nanti di tempat kontrakannya adek kelas. Ibuk jangan kuatir."


"La wisudanya didampingi orangtua apa tidak?"


"Belum diputuskan buk... kemarin ngurus ijin wisuda offline saja sulit. Tapi karena ini baru angkatan pertama, akhirnya diijinkan. Besok kalau orang tua boleh mendampingi..., ibuk dateng ya.... sama Fatimah."


"Insyaallah le... nanti ibuk minta tolong pakdhe Karyo untuk nganter ke kampus kamu. Bapakmu pasti bangga le..."


"Pasti bangga lah buk... hayoo... ibuk nggak boleh nangis lho Ya..."


"Nangis sedikit boleh lah le...hik... hik..." air mataku mengalir begitu saja.


"Maas....! Cowok juga boleh nangis lho!" teriak Fatimah. Aku yakin dia tadi melihat mata kakaknya berkaca - kaca.


"Sebentar le! Wisudanya bayar berapa?"


"Gratis buk.." jawab Bagas.


"He ... he... masmu kui Fat... gengsi kalau kelihatan nangis."


"Itu namanya mas Bagas orang yang gentel buk."

__ADS_1


"Tapi sebenarnya nggak baik memendam perasaan nduk... kalau mau nangis ya nangis saja, mau ketawa ya ketawa saja... nggak perduli cowok atau cewek..."


"Hayooo.... lagi ngomongin aku yaa..." kata Bagas tiba - tiba muncul di pintu.


"He he he.... kedengeran ya mas?" Fatimah malah cekikikan.


"Buk, kemeja putihnya bapak dulu masih ada nggak ya? Ini punya Bagas udah kekecilan."


"Ada dilemari. Kamu pilih sendiri sana. Nduk... bantu masmu siap - siap."


"Siap dong buk." kata Fatimah sambil beranjak menuju lemari.


"Ni di coba dulu mas." Fatimah menyerahkan dua baju putih pada Bagas.


"Fix yang ini aja nduk, sekarang tolong ambilke sepatu bapak yang hitam ya..."


"La apa nggak kebesaren mas?"


"Nggak apa - apa cuma beda setengah centi"


"Lha apa beli wae le...?"


"Nggak usah buk, punya bapak kan masih bagus, nanti tak belikke semir ...dah jadi kinclong..."


"Apalagi mas?"

__ADS_1


"Kayaknya sudah cukup... Sekalian masukkan di tas ya Fat... Mas Bagas mau mandi dulu."


__ADS_2