Masa Iddah

Masa Iddah
Bab 5


__ADS_3

Sampai di rumah hatiku nggak enak... kenapa ramai sekali... hampir semua warga RT ku berkumpul di rumahku. Bu Yoen langsung memelukku.


"Ada apa Bu?" tanyaku


"Yang sabar, yang kuat, yang tatag ya Bu Tina.... ini kecelakaan... Pak Win meninggal."


Aku sudah tidak mendengar jelas Bu Yoen bicara apa lagi, tiba - tiba badanku lemas, seperti tanpa tulang ... antara sadar dan tidak ... aku seperti melayang... kemudian seperti ada suara orang - orang yang berteriak - teriak lalu hilang.... aku tidak mendengar apa - apa lagi. Gelap.....


...


Hidungku terasa panas, kubuka mataku pelan - pelan. Aku masih belum sadar sepenuhnya. Aku merasakan tangan, kaki dan kepalaku seperti dipijat - pijat...


"Bu Tina.... sadar Bu.... istighfar... istighfar.... astaghfirullaah... astaghfirullaah.... laailaaha illallaah.... laailaaha illallaah...."


Perlahan - lahan kesadaranku kembali... aku dibantu duduk oleh ibu - ibu.....


"Fatimaah.... nduk...!!!" teriakku sambil menangis


"Fatimaah... nduk.... sini ibuke dipeluk... dikuatke..." kata Bu Yoen sambil melambaikan tangan ke Fatimah.


Fatimah mendekat dan langsung kupeluk erat. Aku menangis sejadi - jadinya.

__ADS_1


"Ya Allah nduk... Bapak.... piye..." teriakku


"Buk, buk e.. istighfar buk.... Allah sayang Bapak... ibuk jangan begini... nanti Bapak nggak tenang.... Mas Bagas sebentar lagi dateng... Ibuk harus tenang ya..." bisik Fatimah di telingaku.


Pelan - pelan tangisku reda... Fatimah melepaskan pelukannya lalu menciumiku. "Kita harus ikhlas ya Buk... Mas Yoga sudah dijemput Pakdhe Loso mudah - mudahan perjalanannya lancar.... Sekarang Ibuk mandi dulu ya... terus kita sholat untuk Bapak."


Aku memandang ragilku.... sedewasa itu dia Ya Allah... aku harus kuat untuk anak - anak. Aku menarik nafas panjang lalu istighfar sebanyak - banyaknya sampai hatiku sedikit lega..... Ya Allah kuatkan aku...


"Nduk, tolong bantu ibuk ke kamar mandi ya... Ibuk masih lemes."


Aku segera membersihkan tubuhku, mengganti pakaianku dan bersiap sholat jenazah karena ternyata jenazah Mas Win sudah dimandikan dan sudah dikafani.


Dalam hatiku masih bertanya - tanya tentang kronologi jatuhnya Mas Win yang menyebabkan kematiannya.


"Mas Bagas naik apa nduk?"


"Naik motor buk, dibonceng temennya."


"La Mas Yoga sampai mana?"


"Mas Yoga sama Pakdhe Loso masih di tol Nganjuk buk*...

__ADS_1


"Astaghfirullaah.... astaghfirullaah.... ampuni dosa - dosa Mas Win Ya Allaah... beliau orang yang baik.... tempatkan dalam surga terbaikmu Yaa Allaah..."


Aku dzikir disamping jenazah Mas Win. Berkali - kali Fatimah memeluk dan mengusap air mataku yang tidak berhenti mengalir.


"Kuat - kuat ya Allah... kuatkan aku, kuatkan anak - anakku... astaghfirullaah.. astaghfirullaah... laahaula wala quwwata illaa billaah..."


"Buk, Mas Bagas dateng" bisik Fatimah


Aku menoleh ke arah luar, kulihat Bagas dan temannya baru sampai. Bagas langsung melempar tasnya lalu berlari masuk. Bertiga kami berpelukan sambil menangis.


"Sudah - sudah le... menangisnya sebentar wae.... Ikhlaskan Bapak yaa...Bapak sudah tenang disana... sekarang kamu mandi, wudhu terus sholat untuk bapak ya..." Bu Yoen mengurai pelukan kami.


Setelah sholat jenazah, kami dzikir - dzikir sambil menunggu Yoga dan Pakdhe Loso. Perkiraan sebelum jam dua mereka sudah sampai. Liang lahat juga sudah siap.


"Buk, Budhe Nining telpon" kata Bagas sambil menyerahkan hp-nya.


"Assalaamu'alaikum mbak Ning"


"Waalaikumussalaam Bulik... Ya Allah ... la Win kan sehat to bulik...lakok malah ndisiki ki piye... terus aku kudu piye iki... aku nggak bisa pulang bulik.... Ya Allah...." mbak Nining tersedu - sedu.


"Nggak apa - apa mbak.... maafkan kesalahan Mas Win yo mbak... doane mawon buat mas Win... nggak usah pulang mbak... kasihan Mas To kalau ditinggal"

__ADS_1


Yah... Mas Win itu tiga bersaudara. Yang pertama mas Loso, Yang kedua Mbak Nining dan Mas Win itu ragil. Suami Mbak Nining namanya Sularto (biasa dipanggil Mas To) sudah dua tahun struk parah. Sudah tidak bisa apa - apa. Hanya bisa berbaring. Badannya sebelah kiri sudah mati. Sekarang Mbak Nining yang jadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kelontong dirumah sambil merawat mas To. Jadi otomatis tidak bisa kemana-mana. Anaknya satu masih SMA.


__ADS_2