
dengan bersusah payah shaina membantu kael,, memapah tubuh pria itu untuk masuk kerumahnya,,, shaina kemudian meletakkan tubuh kael di sebuah sofa panjang miliknya,,
tubuh pria itu terbaring dengan matanya yang terpejam,, shaina yang melihat sosok dihadapannya tidak bergerak sama sekali membuatnya ketakutan
" apa dia mati,, bagaimana jika pria ini mati di rumahku,, aku bisa di penjara karna di tuduh membunuh,,
lagi pula mengapa dia bisa tau rumahku,,
dan kenapa harus kerumah ku dengan kondisi begini,,, ya ampun"
gumam shaina meratapi keadaannya sekarang
wanita itu memberanikan diri menyentuh pipi kael dengan jari telunjuknya,, menusuk nusuk nya beberapa kali dengan pelan dan hati hati,, padahal tangan nya masih gemetar,,
ya tuhan dia benar benar mati,,, mati lah aku
suara hati shaina
ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah kael,, semakin dekat dan semakin dekat,, bahkan hampir tidak ada jarak antara mereka mencoba mendengarkan apakah pria itu masih bernapas,
" saya masih hidup"
suara kael membuat shaina terkejut bukan main,, matanya membulat sempurna karna tatapan mereka kini bertemu dengan jarak yang sangat dekat
" sa' saya akan mengambil kotak p3k,,"
dengan berbicara sedikit gagap,, shaina langsung berlalu mencari kotak obat miliknya,
" ya ampun kenapa di saat seperti ini,, kotak itu tidak ketemu,, dimana sebelumnya aku menaruh kotak itu,,"
shaina yang terlihat mondar mandir mencari cari di mana kotak itu,, membuka setiap lemari dan laci di rumahnya,,,
" ah,,ini dia,, aku sudah lama tidak menggunakannya,, jadi sedikit lupa"
setelah menemukan kotak p3k itu,, shaina langsung menuju sofa tempat kael terbaring,,
" aku harus mulai darimana sekarang,,"
masih melihat pria itu sedikit menahan sakit dengan kening nya yang berkerut,, dan mata yang terpejam
shaina kemudian mendekati kael,, duduk di sebelahnya,, perlahan ia membuka jas hitam milik kael,, dia kembali panik,, melihat kemeja putih di balik jas hitam itu penuh darah segar,,
dengan tangan gemetar shaina membuka satu persatu kancing kemeja kael,, perlahan semua kancing itu pun terbuka,, dia melihat bagian yang mengeluarkan darah,, terbungkus perban yang kini berwarna merah,,
saat ia melihat tubuh kael bertelanjang dada,, entah kenapa,, perasaan nya yang dulu muncul diingatan nya,, dia masih ingat jelas tubuh pria itu,, tubuh dihadapannya itu lah yang membuatnya hampir mengakhiri hidupnya
untuk apa aku menolongnya,, dia penyebab semua ini,, dia pantas mendapatkannya,, haruskah aku membunuh nya saja sekalian
hal hal seperti itu pun muncul di fikiran shaina
*******************************
shaina yang tidak punya keberanian dengan kata kata nya sendiri hanya melakukan hal sebaliknya
saat itu sudah pukul satu malam,, wanita itu merapikan semuanya,, tempat yang tadi nya berantakan dengan banyak kain yang penuh darah,, kini sudah di bereskan semuanya,, ia pun membawa beberapa kain itu dan juga pakaian kael untuk ia cuci besok pagi
__ADS_1
pria tampan itu tertidur dengan selimut ditubuhnya,, shaina bahkan mengompres kening kael dengan handuk kecil,, sepertinya ia juga mengalami demam
aku benar benar tidak waras,, bisa bisa nya aku merawat musuh ku di rumahku sendiri,,
gumam shaina dalam hati yang sedang duduk di sofa yang ukurannya lebih kecil,, dekat dengan sofa tempat kael berbaring
" Bu,,ibu,,, Bu,,,"
shaina yang hampir tertidur di samping kael,, mendengar gumam suara pria itu,, dia sesaat memandangi wajah kael,,
" sepertinya dia mengigau,, dasar tidak tau malu,, sudah tua masih saja manja,, membuat ku iri saja karna tidak punya ibu"
shaina kini memandang intens pria di sampingnya,, nampak mengalir air mata di sana,, entah apa yang di mimpikan pria itu,, hingga membuatnya menangis tanpa suara,, membuat shaina menjadi ibah
shaina pun memilih untuk tidur di sofa kecil itu,, sambil mengawasi pria yang di anggap musuhnya
*****************************************
matahari terlihat sudah agak tinggi cuaca pun sangat cerah ,, sinar yang masuk dari sela kain gorden di ruangan minimalis itu pun menyinari wajah kael,,
perlahan mata kael terbuka, sedikit menutup matanya karna pantulan cahaya, pelan pelan ia membuka mata,, sedikit mengangkat kepala sambil tangan nya menahan perut yang kemarin terluka dan di bungkus dengan perban putih itu, masih terasa nyeri,, tapi kael mencoba duduk,, ia membuka selimut dari badannya,, dan terlihat bertelanjang dada,,
" dimana ini???"
bertanya pada diri sendiri,, masih belum sadar dengan apa yang terjadi,,
kael memperhatikan sekeliling tempat itu,, tempat yang terlihat asing baginya,, matanya pun tertuju pada bingkai foto di meja kecil ruangan tempat ia berada,, dan dia sadar saat ini ia berada di rumah shaina
setelah termenung sesaat,, kini kael mengingat apa yang terjadi pada dirinya,, dia ingat satu persatu kejadian tadi malam,, dari awal sampai akhir dia ingat semuanya,, bahkan kael mengingat shaina mengompres keningnya,,
kael tampak bingung,, apa yang harus ia lakukan saat itu
berbicara sendiri sambil memperhatikan sekeliling,,
kael pun berdiri,, ia lalu berjalan,, masih dengan bertelanjang dada,, memeriksa setiap ruangan disana,,
" kemana dia,, bukankah ini akhir pekan,, dia tidak mungkin kan pergi ke kantor??"
masih berbicara sendiri kemudian melihat jam di tangan nya,, yang menunjukkan pukul 9 pagi
lalu terdengar suara dari ruangan paling ujung rumah itu,, itu dari dapur shaina
kael langsung menuju ruangan asal suara yang ia dengar,, terlihat seorang wanita melakukan aktifitas paginya
shaina bangun sangat pagi,, bahkan ia hampir tidak tidur tadi malam,, karna mengurus kael yang demam dan terus mengigau,, setelah berbelanja bahan makanan,, shaina pun melakukan aktifitas layaknya seorang wanita pada umumnya,, mencuci,, bersih bersih dan memasak,,
shaina pun sadar ada sesosok pria yang memperhatikan nya,,
" istirahatlah,, luka anda belum kering,, "
ucap shaina sambil meneruskan aktifitas memasaknya,, lalu menghampiri kael membawa sebuah baju yang ia beli tadi pagi
" pakailah,, jas dan kemeja anda masih belum kering,, setelah kering anda boleh membawanya dan pergi dari sini"
shaina pun kembali menyiapkan sarapan pagi
__ADS_1
kael hanya terdiam,, ia terlihat menggenggam baju itu ditangannya
*****
kael yang memakai kaus santai berwarna hitam pemberian shaina,, terlihat pas di tubuh nya,, ia hanya berjalan jalan di ruangan yang kecil itu,, memandangi satu persatu foto foto shaina di dinding dan juga tertata rapi di meja yang tidak terlalu besar,, disana ada foto shaina dengan sahabatnya Ami dan juga foto bersama anak anak panti asuhan tempat shaina di besarkan dulu,,
disana juga ada foto shaina bersama seorang pria,, membuat kael terlihat cemburu
" sepertinya,,,,aku mengenal pria di foto ini,, tapi,, dimana aku pernah melihatnya??"
kael terlihat intens memandang foto di tangannya itu
" apa yang sedang anda lakukan,,"
suara shaina membuat kael langsung meletakkan foto itu ke tempat asalnya,
" sarapan nya sudah siap,, anda boleh pergi setelah ini,"
***************************
kini keduanya sudah duduk di meja makan,, hanya ada dua kursi disana,, dengan meja sederhana namun terlihat rapi dan bersih,,
mereka pun duduk berhadapan dengan meja sebagai jaraknya,, tersedia beberapa lauk di sana dan shaina menyiapkan bubur untuk kael
sesekali tatapan pria itu bertemu dengan tatapan shaina yang juga sekilas menatap dirinya,,
tidak ada pembicaraan di antara mereka,, yang terdengar hanyalah suara piring dan sendok makan milik shaina dan kael,, mereka terus diam dan menghabiskan makanannya masing masing,,,
******************************
tubuh pria itu kini berbaring di ranjang big size miliknya,,
kini kael sudah kembali ke kediaman yang mewah itu,, nampak senyum bahagia terukir di bibir dengan wajah sumringah,, perasaan yang tidak pernah ia dapat membayangkan sebelumnya,,
dia mengobati lukaku,, aku bahkan menikmati masakannya,, astaga,, apakan aku bermimpi
kael yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi terlihat mengacak acak rambutnya sendiri dengan kedua tangan nya,, masih dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamarnya
drrrttttt drrrttttt drrrttttt
getaran ponsel itu pun menyadarkan kael dari tingkah gilanya,,
ia kemudian mengangkat ponselnya yang bergetar
" hmm,,, ada apa??,,"
tanya Kael yang mengetahui siapa yang telah menghubungi nya
" bos,, tuan besar sore ini akan kembali dari Jepang,, keadaan beliau sudah membaik,, tuan besar memerintahkan,, bos sendiri yang harus menjemputnya di bandara,,
" hmmm,, baiklah"
Tut Tut Tut
kael yang langsung menutup panggilan ponselnya
__ADS_1
" aku akan istirahat sebentar,, mengumpulkan tenaga,, untuk menyambut kedatangan tuan,"
ucap kael yang di barengi dengan berbaring di kasurnya sedikit hati hati karna lukanya yang sedikit menimbulkan rasa nyeri