Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 2


__ADS_3

Sore itu, satu keluarga yang terdiri dari tiga orang datang ke rumah tempat tinggal Ken. Mereka adalah Asep, anak pertama Handi dan Lastri, beserta istri dan seorang anak mereka. Dua pasangan paruh baya itu menyambut mereka dengan suka cita. Tatapan mereka nampak penuh kerinduan. Karena anak tertuanya ini belum pernah pulang ke rumah sejak meniti karir di kota besar 3 tahun yang lalu.


Setelah bertukar salam dan saling peluk, mereka semua masuk ke dalam rumah.


“Kenapa baru pulang sekarang?” tanya Lastri pada anaknya yang baru pulang setelah sekian lamanya.


“Bapa pikir kamu udah gak nganggap kita lagi.” Tambah Handi.


Anak laki-laki dan istrinya tersenyum.


“Bukan gitu, Bu. Mas Asep memang sibuk dan baru sempat sekarang datangnya.” Bela sang istri yang bernama Wima.


“Iya. Tapi sekiranya kirim suratlah lebih sering.” Kata Handi tersunggut-sunggut.


Anaknya ini bukannya tak pernah memberi kabar. Awal-awal mereka merantau, setiap seminggu sekali mereka akan mengirim surat ke rumah orang tuanya di kampung halaman. akan tetapi selama setahun ini, mereka hanya memberikabar dua bulan sekali.


Setelah mengesap teh di cangkirnya, Asep menjawab, “Iya, Bu. Asep mohon maaf. Yang penting kan Asep sudah pulang.”


Saking lamanya mereka tak bertemu, banyak sekali hal yang mereka saling ceritakan. Dari kejadian selama tiga tahun mereka tak bertemu hingga kejadian masa lalu bersama Ratmi. Mereka terus mengobrol hingga tak


terasa mata hari sudah terbenam.


Hari semakin petang dan waktu untuk tidur bagi manusia semakin menjemput. Tapi tidak untuk Asep. Firasat buruk yang dirasakan Sumita sepertinya benar. Paman anak itu akan melakukan sesuatu hari ini.


Asep mengendap-endap masuk ke kamar Ken yang ada di sebelah kamar orang tuanya. Dia berusaha agar suara langkahnya tak terdengar. Apalagi lantai rumah itu cukup tua dan reot.


Begitu pintu kamar terbuka, dia bergegas menutup mulut Ken dengan lakban. Ken yang terbangun melakukan sedikit perlawanan hingga akhirnya tidur lagi karena obat bius yang Asep bekapkan dengan sapu tangan. Setelah itu, diikat tubuh Ken dan dibawanya Ken ke halaman belakang.


Di sana dupa sudah dinyalakan. Tak lupa kembang tujuh rupa dan darah ayam (*1)cemani juga tertata di sana.


Rupanya kakak kandung dari Ratmi ini adalah seorang penyembah jin. Kedatangannya hari ini adalah untuk membunuh Ken dan mempersembahkannya pada jin yang disembahnya.


Ken sebagai titisan Prala adalah seorang manusia yang cukup istimewa. Dia memiliki roh yang sangat dibenci oleh bangsa jin jahat dan iblis. Bangsa jin begitu ingin memangsa dan melenyapkannya. Karena mereka bisa langsung lenyap tanpa jejak dari dunia ini.


“Datanglah, Tuan! Saya sudah siapkan sesajenmu, Tuan!!!” seru Asep lantang memanggil jinnya setelah berkomat-kamit membacakan mantra.

__ADS_1


Angin pun berhembus dengan kencang menyambut kedatangan jin yang ternyata berbadan cukup besar itu. badannya kurus kering dengan tulang-tulang yang menonjol dan kulit kuning yang sebagian diselimuti sisik.


Rambutnya coklat kemerahan panjang dan berkibar terkena angin. Jari-jarinya berwarna hitam dan penuh dengan kotoran seperti debu. Itulah jin yang dipanggil tuan oleh Asep.


Asep segera bersimpuh di hadapannya. Ditundukkan kepalanya, lalu berkata, “Tuan. Ini persembahan terakhir saya. Saya mohon agar diterima.”


Jin itu mengalihkan pandangannya ke mahluk kecil yang akan menjadi makanannya malam ini.


“Ini... apa maksudmu?!” bentak si jin menggelegar.


“Bu.. bukannya Tuan meminta saya untuk mempersembahkan keponakan saya?” Asep balik bertanya.


“Tapi dia belum mati!! Kamu ingin aku yang mati? Iya??!!” bentak jin itu lagi.


Keringat dingin mengucur di peluhnya dan gemetar di badannya semakin kentara walaupun sedari tadi ia menahannya agar terlihat tenang.


“Nu... nuwun sewu, Tuan! Saya ti... tidak tahu kalau dia harus ma... mati terlebih dulu.” Jawab Asep.


Raut wajah jin itu nampak semakin buruk. Dan lagi-lagi dia berteriak, “KALAU BEGITU BUNUH DIA SEKARANG!!!”


Asep, sebenarnya tak ingin mengotori tangannya sendiri, walaupun dia merasa benci pada anak itu, karena baginya Ken lah yang membuat adiknya meninggal dunia. Tetapi, bagaimanapun ada darah dan daging adik tersayangnya pada anak itu. Setidaknya dia tidak ingin merusak sendiri apa yang dijaga oleh Ratmi, adik kesayangannya itu.


Dengan takut-takut Asep mengambil clurit untuk berkebun yang diterbangkan oleh jin itu dan jatuh di sebelahnya. Digenggamnya clurit itu dengan kuat, lalu dia mendekat pada Ken yang masih pingsan. Dia bersiap untuk


mengayunkan clurit itu dari atas.


“Hiaaaaaaaaaa!!!” Asep mengayunkan clurit itu hingga melukai perut Ken. Untungnya, karena dia ragu-ragu, luka itu tidak terlalu dalam. Lalu dia bersiap untuk mengayunkannya sekali lagi.


“Asep!!?” ayahnya yang datang bersama ibunya datang menahan tangannya yang masih di atas kepalanya.


“Asep!! Lepaskan clurit itu!!” bentak Handi lagi.


Kedatangan kakek dan nenek Ken itu menambah kemurkaan si jin. Dikibaskan tangannya untuk menyerang ayah Asep hingga terlempar cukup jauh. Naasnya, sang kakek langsung tewas di tempat saat itu juga.


“YANG KUNG!!” seru sang nenek histeris, lalu berlari jasad kakek yang terlempar.

__ADS_1


Tetapi, belum juga sampai di sana, jin itu menerbangkan batang bambu dan memukulkannya ke tubuh nenek hingga terjerembab. Sang nenek pun wafat menyusul sang kakek.


“Ibu!!! Ibuuuuu!! IBUUUUU!!” teriak Asep.


Dia ingin sekali berlari menuju Ibunya saat ini, tetapi entah kenapa kaki dan tangannya tak bisa digerakan. Seolah-olah tubuhnya tak ingin menuruti keinginannya sendiri.


Ken yang akhirnya membuka matanya karena rasa sakit di tubuhnya terkaget melihat di hadapannya. Sang paman sedang mengangkat clurit yang sepertinya siap untuk menyerangnya lagi. Tak jauh darinya juga ada sesosok


mahluk besar mengerikan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dilihat sekelilingnya yang terlihat begitu berantakan tidak seperti biasanya. Tangisnya pun pecah saat melihat jasad kakek dan nenek yang disayanginya tergeletak begitu saja.


“Maafin Paman, Ken. Huks... paman tidak menyangka akan begini.” Pamannya yang menodongkan clurit di tangannya itu juga menangis sesenggukan.


Ken masih bingung dengan apa yang terjadi. Rasanya baru tadi siang mereka saling bercanda dan tertawa. Tetapi, saat ini justru tragedi yang dihadapinya.


“CEPAT BUNUH!!!” Mahluk besar itu semakin memaksa.


Tubuh Asep yang tak terkontrol pun mengikuti kemauan jin itu. Dia mengayunkan clurit itu dengan posisi agar tepat tertancap di bagian vital Ken.


‘CLANKK!’


Sebuah batu terlempar dan mengenai clurit yang dipegang Asep. Clurit itu pun seketika terlepas dari Asep.


“Hosh... hosh... hosh... KURANG AJAR!! Beraninya kalian mengusik anak yang kujaga!!”


.


.


.


Keterangan :


(*1) ada yg ku edit karena lalai. Ayam cemani ini ayam yang berwarna hitam. biasanya dijadiin sesajen/ tumbal ngepet, santet, dll. tanya pada dukun biar lebih jelas


__ADS_1


tapi bisa dimakan manusia juga katanya.


mohon maaf atas kesalahan yg saya perbuat.


__ADS_2