
‘Ting! Tong!’
Sumita yang hendak mengayunkan tombaknya seketika terperanjat mendengar suara bel itu.
“Ken!?” seru Sumita.
Di sampingnya kini sudah ada Ken yang tersenyum manis seperti biasanya. Di samping Ken, berdiri sesosok mahluk lain yang terasa familiar.
“Yang di CCTV!” tombak yang tadinya mengarah pada gerbang kini diacungkannya pada sosok itu.
“Sabar, Tante. Dia belum macem-macem, kok.” Ucap Ken sambil menunjukkan gigi putihnya.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria berusia 30 tahunan keluar dari rumah dengan kaos oblong dan celana kolornya.
“Iya sebentar!” serunya.
Pria itu membulatkan matanya tak percaya siapa yang sedang berada di depan rumahnya saat ini. Gerbang rumahnya dipasangi sekat, sehingga ia tak tahu siapa yang mendatangi rumahnya dari dalam. Segera dia tutup kembali gerbang itu. Tetapi, dengan sigap Sumita menahannya.
Karena perbedaan kekuatan mereka cukup besar, akhirnya Sumita menang dan berhasil membuka gerbang itu. karena itu Sandi terjungkal ke tanah.
“Kalian mau apa hah!?” teriak Sandi.
Sumita, Ken, Dono, dan Tio yang akhirnya menyusul setelah memarkirkan mobil memaksa masuk ke dalam halaman rumah. Sandi yang merasa terintimidasi merangkak mundur.
Sambil berjongkok menyeimbangkan pandangannya dengan Sandi, Ken berkata, “Saya pikir masih bisa dibicarakan. Bagaimana?”
Ken melirik tantenya yang sudah gatal ingin mengamuk.
“Saya harap anda masih sayang nyawa. Soalnya tante saya serem banget.”
Mata Sandi tanpa sengaja bertemu dengan mata Sumita. Dia semakin panik dan ketakutan dengan aura bengis yang seolah akan mencaploknya hidup-hidup.
“Don, Seret ke dalem.” Perintah Sumita yang dengan sigap langsung Dono laksanakan.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Tio dan Dono yang menyeret Sandi memaksanya untuk duduk di sofa single di ruang tamu rumahnya.
‘Woooohzzzz’
Udara panas yang sumpek langsung menyambut mereka mereka. Dono dan Tio yang tak bisa melihat kesesakkan ruang tamu itu bahkan sampai membuka jaketnya.
Jika dilihat dengan mata normal, rumah ini tampak biasasaja. Cat putih di seluruh tembok, keramik warna krem di luar dan bagian dalam menggunakan keramik putih. Sebuah AC terpasang di sisi atas ruang tamu, menandakan pemilik rumah ini hidup berkecukupan.
“Begini, Pak. Kami sih tidak ingin bikin ribut sebetulnya. Jadi, kalau bisa kita selesaikan ini dengan kekeluargaan saja. Bagaimana?” tawar Ken.
Mungkin Sandi tak menyangka akan langsung dilabrak begini. Dia tahu perbuatannya itu salah, karena itulah sebenarnya dia sedang bersiap untuk kabur. Dia tak menyangka lokasinya akan diketahui secepat ini. Padahal, berdasarkan info dari forum internet, melacak lokasi seseorang itu butuh waktu yang cukup lama.
Yah, Sandi tidak tahu ada siapa di belakang Ken. Mafia? Tentu lebih seram dari itu.
Dia nampak ketakutan. Matanya jelalatan seperti meminta pertolongan entah kepada siapa. Sebenarnya kalau dia lebih lengah dari ini, celananya bisa basah kapanpun.
__ADS_1
“A... apa mau kalian?” tanya Sandi.
Ken tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Ke sini.” Ujar Rina mengacungkan jarinya ke bagian dalam rumah.
Dono dan Tio menjaga Sandi agar tidak kabur kemana-mana, sedangkan Sumita dan Ken mengikuti Rina hingga ke depan sebuah pintu. Entah ruang apa di balik pintu itu. Yang jelas dari auranya saja sudah berbeda. Terlihat lebih suram. Pintunya yang lebih lembab dan usang dari pintu yang lain seolah memberi pertanda bahwa keadaan di dalamnya jauh lebih parah.
Ditambah lagi kelembaban yang tidak wajar ini. Mungkin lebih cocok dibilang merembes, karena bulir-bulir air juga terlihat di tembok. Selain itu ada aroma wangi yang tidak wajar dari pintu itu. Aroma yang tidak asing bagi Sumita.
“Ken.” Panggil Sumita.
“Ya, Tante?” sahut Ken.
“Kamu masih mau main?” tanya Sumita.
“Sebenernya satu jam lagi ada janji recording di Radio. Tante kalau mau cepetan juga gak masalah.” Jawabnya.
“Aku juga lebih suka yang cepet.” Lanjut Ken sambil menatap Rina.
Selang kurang dari sedetik, tangan Ken menyambar dan mencengkram leher Rina dengan kuat.
“Dari tadi lo lucu banget. Sumpah gue pengin ketawa. Hahhaha...” sinis Ken.
Bagian tubuh Rina yang disentuh Ken semakin melepuh dan gosong. Bahkan sudah ada yang berubah menjadi abu.
Lama-lama Rina berubah menjadi wujud aslinya. Rambut pirangnya yang kusut menjadi lebih kusut dan lepek. Wajahnya yang tadinya hanya lusuh seperti tertempel tanah semakin mengering dan memperlihatkan bentuk tulang-tulangnya, begitu juga badannya.
Dilemparnya Rina dengan keras.
Sumita yang tak menyangka Ken akan melakukan itu menutup mulutnya karena terkejut. Ia juga tak menyangka seorang Ken yang paling imut di matanya bisa berkata kasar sampai bawa-bawa nama binatang.
“Aakkk! Bagaimana bisaa??” Rina yang kesakitan memegangi lehernya.
Mahluk-mahluk gaib lain yang menyaksikan apa yang terjadi pada Rina mulai bereaksi. Ada yang langsung kabur entah ke mana, ada yang tak bisa bergerak saking takutnya, dan ada pula yang masih berani dan bersiap menyerang. Karena itulah jumlah mereka kini mulai berkurang.
Didekatinya Rina yang masih merintih kesakitan. Dengan sisa tenaganya, Rina berusaha menampar wajah Ken. Tetapi, tak disangka begitu menyentuh kulit Ken, tangannya hancur seperti remahan tanah.
“AAAAAAAAKKKK!!!” raungan Rina semakin kencang dan terdengar menyakitkan.
“Gue gak tau lo dapet keberanian dari mana. Tapi, keberanian lo bakal berhenti sampai sini.” Ancam Ken.
“Ini belum selesai!!! Dendam kami akan terus mengejar kalian!!!” racau Rina.
Sekali lagi dicengkramnya leher Rina hingga akhirnya jin yang mengaku sebagai arwah itu benar-benar lenyap tak berbekas.
Tanpa sadar, Sumita bertepuk tangan dengan puas.
“My baby emang gak ada duanya! Wuuhuuuuw!!” sorak Sumita sambil bertepuk tangan.
__ADS_1
“Tante! Awas!” seru Ken saat melihat ada jin lain yang berusaha menyerang Sumita dari belakang. Tubuhnya reflek bergerak melindungi Sumita dengan memeluknya dan membiarkan dirinya terkena serangan itu.
Tentu saja serangan dari jin itu tidak mempan untuk Ken.
Beberapa mahluk lain pun mulai bergerak dan berusaha menyerang bersamaan. Sumita yang masih berada di pelukan Ken dengan lincah mengayunkan tombak di tangannya. Seketika tempat itu penuh dengan muncratan darah ghaib.
“Tante gak papa?” tanya Ken.
“Harusnya Tante yang nanya gitu ke kamu.” Sahut Sumita sambil mencubit pipi Ken dengan gemas.
Para jin yang baru saja ditebas Sumita kembali bangkit. Memang sudah menjadi kodrat mereka yang tak bisa mati. Bahkan Ken sekalipun sebenarnya tidak membunuh mereka. Dia hanya memecah mereka menjadi atom-atom kecil sehingga mudah terbawa angin tanpa jejak dan tak bisa menyatu kembali hingga waktu yang tak ditentukan.
Kini Ken dan Sumita saling membelakangi. Setelah sedikit pemanasan, mereka akhirnya memulai duo pembantaian kerajaan gaib pertama mereka. Ken yang menyerang dengan tangan kosong dan Sumita yang menggunakan tombak dan botol untuk menyegel para jin itu.
Sayangnya mereka tak bisa meluluhkan semuanya. Karena sebagian sudah kabur. Pada akhirnya mereka tak mengeluarkan banyak tenaga dan semuanya sudah selesai.
“Tante gak papa?” sekali lagi Ken menanyakannya.
“Emangnya kamu pernah liat Tante kenapa-napa?”
“Nggak, sih. Tapi bisa saja kan?” Ken terlihat khawatir.
Sumita mendongak untuk menatap Ken. Tangannya direnggangkan untuk meraih kepala Ken dan mengelusnya lembut.
“Tanpa tante tahu, ternyata kamu sudah sekuat ini.” ucap Sumita sambil terus mengelus. Matanya yang menatap Ken terlihat kesepian. Mana mungkin dia tidak terkejut melihat Ken yang tahu-tahu reflek melindunginya. Padahal dulu dia yang selalu melindungi Ken dari marabahaya.
“Apa tante sudah jatuh cinta padaku?” seloroh Ken.
‘Pletak!’
Tangan Sumita yang tadinya sedang mengelus rambut malah menjitak jidat laki-laki yang tingginya kini satu setengah jengkal darinya ini.
“Aww.” Rintih Ken sambil mengelus jidatnya.
“Jangan nyerah. Usaha lagi.” Ujar Sumita.
Kemudian Sumita mengalihkan pandangannya dari Ken menuju air yang merembes di pintu tadi. Sebenarnya dia merasa penasaran dengar air itu, karena aromanya benar-benar tak asing di hidungnya. Baunya tidak seperti bau rembesan air pada tembok atau bau kayu basah yang tidak enak. Justru ini wangi seperti bunga anggrek ungu.
Ken yang mengerti akan rasa penasaran tantenya itu akhirnya menekan gagang pintu dan mendorongnya.
“Aku penasaran, sih. Hehe...” Ken nyengir.
Begitu pintu terbuka, aroma anggrek itu semakin semerbak.
“Uhukkhh! Khuk! Uhuk! Ini apaan sih parfumnya lebay banget! Uhuk!!” Ken terbatuk-batuk. Dia pun menutup hidungnya dengan lengannya agar wanginya tak terlalu tercium.
“Jaladi.” Raut wajah Sumita nampak panik saat menyebut nama itu.
.
__ADS_1
.
.