
Begitu acara talk show selesai, Ken masih ada acara pemotretan dengan majalah yang dilakukan di studio lain. Jarak dari stasiun televisi dan studio itu cukup jauh dan melelahkan. Tetapi, tanpa memperlihatkan wajah lelahnya, Ken melakukan pekerjaannya dengan sempurna. Baru setelah itu dia bisa istirahat.
Ken memberi salam pada para staf dan kembali ke ruang tunggu yang disiapkan untuknya.
“Bisa tolong biarkan saya sendirian dulu?” pintanya pada beberapa stafnya.
Setelah itu dia dibiarkan sendirian di ruangan berukuran 6 x 5 meter itu dengan kunci di tangannya. Dikuncinya ruangan itu dari dalam, lalu berbalik.
“Paman, kenapa bisa ada di sini?” tanyanya pada sosok yang sedari pagi mengikutinya.
Sosok itu ternyata adalah roh dari pamannya.
Sudah dua puluh tahun berlalu semenjak kejadian naas yang dialami Handi dan Lastri. Selama itu pula paman dan keponakan ini tak pernah bertemu.
Asep menggelengkan kepalanya.
Dengan suara yang bergetar, Asep kemudian berkata, “Paman ke sini untuk minta maaf dulu sama kamu.”
Ken menatap nanar kakak dari ibu kandungnya itu. Tak pernah sekalipun ia berharap permintaan maaf dari orang yang dulu sudah menyakitinya. Bahkan selama ini Ken berusaha tak menganggap Asep sebagai pamannya.
“Sekarang paman masih bisa kembali. Minta maaflah dulu pada keluarga paman yang lain.” Ujar Ken dengan nada ketus.
Asep kembali menggeleng.
“Tidak bisa. Paman sudah tidak bisa bangun. Hiks... paman sudah berusaha untuk bangun... hiks... tapi tidak bisa.” Asep terisak.
Ken berpikir mungkin ini adalah ganjaran bagi mereka yang pernah bersekutu dengan jin. Bahkan sekedar bangun sebentar untuk memohon ampunan pun dipersulit oleh tuhan.
“Karena itu... paman datang pada kamu lebih dulu. Dosa paman memang sulit dimaafkan. Apalagi sama kamu, sama Ibu, dan Abah. Paman benar-benar menyesaaaaaal...!”
Asep menjatuhkan badannya ke tanah.
“Paman tidak apa-apa masuk neraka. Paman sudah siap. Paman cukup bersyukur karena sempat bertemu kamu sebelum pergi. Walaupun cuma jiwa paman.” Suara Asep semakin gemetar. Air mata terlihat membasahi pipinya dengan deras.
Ken hanya bisa terdiam melihat Asep yang begitu sedih. Dia sadar dari lama bahwa pamannya benar-benar menyesali perbuatannya dulu. Karena itulah pamannya menyerahkan diri ke polisi. Pamannya mengaku telah membunuh kedua orang tuanya dan melakukan percobaan pembunuhan kepada keponakannya. Walaupun sebenarnya itu tidak benar-benar perbuatannya.
Ken menundukan kepalanya untuk berpikir. Ken sendiri juga merasa bukan orang yang baik sepenuhnya. Nyatanya dia memang menaruh dendam pada pamannya. Tetapi melihat pamannya bersimpuh di depannya seperti ini, hati Ken terenyuh.
“Paman.”
Begitu Ken memanggilnya, Asep menegakkan kepada untuk menatap keponakannya.
Ken menghela napasnya panjang, lalu melanjutkan kalimatnya, “Saya memang menyimpan dendam pada paman. Paman adalah orang yang menghancurkan masa kecil saya.”
__ADS_1
“Tetapi, paman juga yang mempertemukan saya dan orang yang menyelamatkan masa depan
saya.”
“Saya akan mendoakan agar paman bisa tenang di akhirat.”
Mendengar apa yang Ken katakan, raut wajah Asep terlihat lebih lega.
“Terima kasih, Ken.” Ucap Asep.
Kini senyum terukir di wajah Asep yang masih tergenang air mata. Sebetulnya dia tak berharap banyak akan mendapatkan maaf dari Ken. Bagi Ken dan baginya, perbuatan yang dilakukannya dulu memang sudah sepatutnya tak termaafkan. Setidaknya, dia pikir, dia ingin sekedar menyampaikan maafnya.
“Terima kasih.” Ucap Asep sekali lagi.
“Paman yang ikhlas, ya. Semoga kita bisa bertemu lagi di sana.”
Asep mengangguk pelan. Rohnya tampak semakin menipis. Tandanya raganya sudah semakin kritis dan ajal akan segera menjemput.
“Paman pamit dulu. Ini sudah saatnya paman pergi.”
Roh Asep yang semakin menipis dan tembus pandang pun menghilang dan berubah menjadi cahaya keemasan.
“Ada satu permintaan terakhir paman.”
“Saya akan mengusahakannya, Paman.” sahut Ken.
Tak lama kemudian, cahaya itu terbang menembus jendela bening yang ada di ruangan itu. dia semakin tinggi dan semakin menghilang ke langit.
Selepas kepergian sang paman, Ken merasa lemas. Dia pun duduk di sofa yang ada di sebelahnya. Diusapkan tangannya ke wajah dan rambutnya.
Sebenarnya dia bingung dengan apa yang dia rasakan. Hanya saja, air mata yang tertahan sejak tadi kini tak bisa terbendung. Dia menangis sejadi-jadinya.
Dia dan pamannya memang tidak ada ikatan batin. Mereka hanya bertemu satu kali saat tragedi itu terjadi. Tetapi, pertemuan keduanya dengan sang paman yang tak lagi menghuni raganya membuatnya miris.
‘Ting!’
Sebuah pesan masuk ke akun Whatsappnya. Diusapnya air matanya agar dapat melihat dengan lebih baik pesan itu.
Rupanya pesan itu dikirim oleh Tio, asistennya. Dalam pesannya tertulis, “Mas, Pak Asep baru saja meninggal dunia.”
Ah... kini terasa semua seperti nyata.
Ken bangkit dari sofa itu, lalu menuju ke kamar kecil yang ada di dalam ruang tunggunya. Dia membasuh wajahnya agar tak terlihat wajahnya yang kusam setelah menangis.
__ADS_1
Setelah selesai, Ken menelpon asistennya dan langsung diangkat.
“Kak, saya ke rumah duka sekarang.”
Tanpa mendengar jawaban dari Tio, Ken langsung menutup telponnya.
Dia pun membuka pintu ruang tunggu itu. Dan adanya seseorang di depan pintu itu membuatnya terperanjat.
“Ya ampun, Tante! Kaget!” seru Ken kaget.
Terlihat di sana seseorang yang tadi disebutnya sebagai penyelamat masa depan. Wanita itu mengenakan gaun sifon panjang serba hitam dengan puring warna merah dan flat shoes dengan warna senada. Di kepalanya tersampir kerudung hitam yang menutup sebagian rambut panjangnya. Kaca mata hitamnya yang terlihat cukup besar menutupi mata tajamnya yang paling Ken sukai.
“Tante tahu kamu mau keluar. Jadi, ayo bareng!” ajak Sumita.
“Ok. Ternyata tante juga udah tahu. Baru aja mau ngasih kabar.” Jawabnya dengan suara yang masih sengau.
Sumita yang terlalu sensitif memandangi Ken dengan seksama. Ia mendapati mata orang yang dikasihinya terlihat sembab. Dari sana ia tahu bahwa Ken habis menangis.
ditariknya lengan Ken dan ia genggam tangannya. Ia membawanya turun ke lantai dasar dan ternyata Tio sudah menunggu di sana dengan limusin warna merah yang biasa dipakai tantenya.
Ken tadinya bermaksud untuk duduk di sebelah Tio di depan, tetapi tantenya menarik lengannya lagi dan memintanya duduk di belakang. Kalau dugaan Ken benar, berarti setelah ini akan ada hukuman bathin untuknya.
Dan ternyata dugaannya tepat. Sumita menutup pembatas yang ada di belakang kursi sopir sehingga Tio tidak melihat ataupun mendengar apapun yang dia lakukan.
Sumita melepas kacamatanya dan menyelipkan benda hitam itu di bajunya. Lalu, dipegangnya pundakku sambil matanya terus menatap Ken.
“Kamu gak apa-apa kan? Sampai nangis begini.” Dibelainya wajah Ken dengan lembut. Diusapnya mata Ken yang terlihat sembab setelah menangis tadi.
Kemudian Sumita mengulurkan tangannya dan mendekatkan kepala Ken ke pundaknya. Dibelai-belai rambut Ken yang halus dengan penuh kasih sayang.
“Tante gak nyangka kamu bakal sedih gini.” Bisik Sumita.
Ken hanya menggelengkan kepalanya.
“Cup cup... sudah, jangan nangis lagi, ya.” Sumita mengecup rambut Ken dua kali.
Inilah yang Ken maksud dengan ‘hukuman batin’. Bagi tantenya, Ken adalah anak kecil yang masih harus dia jaga. Sedangkan Ken yang kini adalah seorang pria dewasa tak lagi bisa menganggapnya sama. Apalagi sang tante terlalu cantik. Bahkan walaupun pekerjaannya sebagai public figure menuntutnya untuk berinteraksi dengan banyak wanita, baginya tante Sumita adalah yang paling cantik.
.
.
.
__ADS_1