
----- Tahun 2002 -----
Ken baru saja menyelesaikan hari pertama sekolah dasarnya. Setelah mencium tangan Ibu angkatnya yang sudah menunggu di pintu depan, ia bergegas menaruh tasnya ke sembarang tempat dan lari ke lantai atas.
“Ken, kalau lari-lari nanti jatuh, loh!” Dewi, sang Ibu memperingatkan Ken.
“Iya, Bu!” sahut Ken. Ia lalu memelankan langkahnya.
Dewi tersenyum melihat anaknya yang sudah menginjak umur tujuh tahun ini sangat penurut.
Begitu sampai di depan kamar Sumita, Ken langsung membuka pintu kamar itu dan masuk.
“Tante!” serunya.
“Lihat, deh! Ken pake seragam merah putih!” pamernya.
Melihat tingkah laku Ken, Sumita menjadi gemas dan menjewel pipi tembam Ken pelan.
“Ken ganteng banget!” pujinya.
“Di sekolah tadi banyak teman-teman. Ada Friska, Nayla, Gea, Yuli, sama Laila.” Ken menyebutkan satu persatu nama teman yang mengajaknya berkenalan hari ini.
Sumita tesenyum. Ternyata masih kecil begini dia sudah menarik perhatian banyak gadis.
“Mereka cantik gak?” tanya Sumita iseng.
“Cantik banget! Apalagi Gea. Anaknya lucu banget. Giginya ompong. Kalau ketawa keliatan. Tapi, karena kata Ibu gak boleh ngomongin kekurangan fisik orang, jadi Ken diem aja. Padahal Ken pengin bilang kalau Gea ompongnya bikin tambah cantik.” Tutur Ken panjang.
Sumita memaksakan tawanya. Untung saja Ken tidak mengatakannya. Pikir Sumita.
“Tapi tapi, gak ada yang secantik tante Sumita. Ken jadi kangen tante tadi.” Lanjutnya.
“Aih, masih kecil pinter banget ngegombal.” Dicubitnya hidung kecil Ken gemas.
Diperlakukan seperti itu, Ken jadi agak sebal. Mukanya yang cemberut terlihat sangat imut.
“Tante, ih. Padahal kalau sama tante aku seriusan. Soalnya kalau Ken udah besar nanti, Ken bakal nikah sama tante. Jadi, Ken belajar ngomong yang romantis.”
__ADS_1
“Hish! Kamu tuh. Masih kecil tuh belajarnya ilmu pengetahuan aja. Biar pinter ke depannya. Tante gak mau ah, nikah sama cowok yang gak pinter.” Tolak Sumita dengan nada yang masih bisa diterima anak-anak. Setelah ini sepertinya dia perlu memberi peringatan pada Dewi agar tak menonton sinetron saat di depan Ken.
Ken menundukkan kepalanya malu. Padahal dia hanya berusaha ingin menyenangkan hati tantenya.
“Tapi, tante makasih banget karena udah dipuji. Dipuji sama Ken rasanya seneeeng banget!” ucap Sumita.
Ken lalu duduk di kasur samping Sumita duduk. Dipeluknya Sumita dengan erat.
“Tante. Ken sayaaang banget sama tante. Kalau gak ada tante, Ken mungkin gak bisa bahagia kayak sekarang. Ada Ibu, ada Ayah, ada Tante. Ken mungkin juga ga bisa sekolah SD. Kalau udah gede, Ken yang bakal bikin tante bahagia.” Ucapnya.
Sumita terharu mendengar perkataan Ken yang begitu tulus. Dielusnya rambut Ken dengan lembut.
“Terima kasih. Tante juga sayaaang banget sama Ken. Tante udah seneng banget kalau Ken seneng.”
Ken lalu mendongak menatap tantenya, lalu berkata, “Tapi Ken penginnya tante jadi yang paling bahagia. Gak ketemu monster jahat lagi, gak susah-susah bekerja lagi, dan gak perlu lagi melindungi Ken.”
Ckckck. Decak Sumita kagum.
Mau sepintar apa anak ini di masa depan? Masih kecil saja sudah begini.
Sumita menghela napasnya panjang saking kagumnya pada anak laki-laki yang paling ia sayangi ini.
Mata Ken berkilau karena penasaran. Apalagi dia juga sudah jenuh didatangi mahluk halus.
Sumita lalu memperlihatkan sebuah cincin bermata merah di jempol kanannya.
“Coba kamu ambil cincin ini.” pintanya pada Ken.
Ken pun mencoba melepas cincin itu dari jari Sumita. Tetapi ternyata cukup sulit. Padahal cincin itu nampak tidak kekecilan di jari Sumita, jadi seharusnya tidak terlalu sulit melepasnya. Sumita juga tidak menggunakan tipus muslihat apapun agar cincin itu sulit dilepas.
“Iiih... kok susah banget, Te!” keluh Ken.
Sekali lagi dia coba untuk mengambilnya, tapi ternyata masih saja gagal.
Kemudian, Sumita pun menarik tangannya kembali. Dia teringat dengan kata-kata sesepuh yang dikenalnya dulu, “Raja memberikannya pada putera dan puteri yang disayanginya serta putera dan puteri yang paling menyayanginya. Itulah yang harus kamu cari.”
Mungkin saat ini dihati Ken, dirinya belum menjadi nomor satu. Jadi, mau berusaha segigih apapun cincin itu tak bisa dilepas saat ini juga.
__ADS_1
Ken kecewa. Ternyata dia tak bisa melepas cincin itu. Dia paham. Artinya dia belum bisa membahagiakan tantenya.
Kedua tangan Sumita menangkup wajah Ken, kemudian ia berkata, “Gak papa. Kan Ken belum cukup besar. Tante akan terus menunggu Ken.”
Ken bernapas lega karena tantenya mau menunggunya. Bagi Sumita, menunggu belasan tahun lagi bukanlah hal yang sulit. Toh dia sudah menunggu ratusan tahun sampai Ken dilahirkan untuk menyelamatkannya.
----- Tahun 2020 -----
“Ken, tante rasa ini saatnya kamu mengambil cincin ini.”
Mereka terdiam.
Sebenarnya kali ini Ken masih tidak yakin bisa mencopot cincin itu. Sebelumnya dia sudah berkali-kali mencoba, tetapi tetap gagal. Alasannya, menurut Sumita, karena memang belum saatnya.
“Apa di hati tante aku sudah menjadi nomor satu? Atau masih Prala?” tanya Ken.
Sumita kaget. Rupanya Ken sudah tahu.
“Aku pernah dengar obrolan tante dan Ibu. Katanya tante harus menjadi yang paling kusayangi, dan aku harus menjadi yang paling tante sayangi. Baru cincin itu bisa dilepas. Lalu tante dan aku bisa hidup normal seperti yang lain. Cincin itu akan mengikat kekuatanku, dan tante juga akan menua bersamaku.”
“Aku sudah menjadikan tante nomor satu dan satu-satunya di hatiku. Apa aku juga nomor satu dan satu-satunya di hati tante?”
Sumita tak bisa menjawabnya. Karena dia tahu, bahwa Prala masih di hatinya. Dia masih belum bisa menggantikan Prala dengan siapapun. Dengan alasan ini, Sumita tak bisa menatap Ken dan menjawabnya dengan kata ‘iya’ padanya.
‘Cup’
Tanpa aba-aba, Ken mengecup pipi Sumita. Ini membuat Sumita menengok pada Ken dan mata mereka kembali bertemu.
“Sepertinya aku harus mencium pipi tante setiap hari. Dengan begitu, tante akan terus menatapku seperti sekarang.”
Entah apa yang harus Sumita lakukan pada pria yang sudah beranjak dewasa ini. Kalau dibilang tidak ada Ken di hatinya, tentu saja itu dusta. Sumita selalu menganggap Ken sebagai orang yang berharga baginya. Tak hanya sebagai orang yang akan membuatnya menjadi manusia normal. Bagaimana mungkin ikatan mereka setelah selalu bersama selama belasan tahun hanya sebatas tante dan keponakan?
Akan tetapi, bagi Sumita perasaannya pada Ken dan perasaannya pada Prala adalah hal yang berbeda. Karena itulah, Ken tak bisa melepaskan cincin di jari Sumita. Walaupun itu sebenarnya adalah hak milik Ken sendiri, Ken belum boleh menyimpannya.
.
.
__ADS_1
.