Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 16


__ADS_3

Akhirnya kasus ini selesai tanpa adanya keributan berarti. Tak ada media massa yang meliput dan tak ada pihak berwajib yang terlibat. Semua selesai dengan damai.


Sandi mengaku bahwa itu memang perbuatannya. Dia memang pernah dibully karena pernah menjadi fans dengan cara berlebihan. Dan memang benar dia melakukan power harassment pada rekan yang membully-nya hingga akhirnya dipecat. Sejak itu dia seperti bukan dirinya sendiri sampai-sampai dia berani menjadi seorang penguntit dan peneror seperti yang diceritakan Rina pada Ken.


Melihat kondisi rumahnya seperti tadi, Ken hanya bisa memaklumi bahwa Sandi telah terkena pengaruh jin. Kemungkinan jin yang mengaku sebagai Rina itu lah pelakunya. Entah apa motifnya.


Yang membuat Ken curiga adalah karena jin Rina berbohong dan mengaku sebagai roh. Lalu, diperkuat dengan pengakuan Sandi. Memang betul Sandi memiliki kakak bernama Rina, tetapi sudah meninggal dua tahun lalu, jauh sebelum Sandi dipecat dari perusahaan. Dan dari foto yang diberikan oleh Sandi, penampilan mereka memang sama. Hanya saja jin Rina memiliki rambut lebih panjang.


“Kita langsung ke radio kan, Mas?” tanya Tio.


Ken hanya mengangguk lalu masuk ke mobil.


Sandi kini masih dalam pengawasan anak buah Sumita yang lain. Sumita sendiri sudah pulang terlebih dahulu. Sejak melihat ruangan beraroma anggrek tadi, sikapnya jadi aneh.


“Kak Tio. Kakak tahu Jaladi apaan?” tanya Ken setelah mesin mobil menyala.


Setelah mobil berjalan, Tio baru menyahut, “Jaladi apaan, Mas? Nama makanan?”


“Emang ada makanan yang namanya Jaladi?” lagi-lagi Ken bertanya.


“Yah, kalau Kak Tio ga tau ya ‘ul. Huft...” dengus Ken.


Ken jelas-jelas mendengar tantenya menyebutkan kata ‘Jaladi’.


“Apa mungkin ada hubungannya dengan kamar yang basah kuyup tadi?” pikir Ken.


Akhirnya dia memutuskan untuk melihatnya di internet. Semoga saja dia mendapatkan jawaban yang benar.


Di mobil lain, Sumita juga sama-sama sedang berpikir. Dia tak menyangka akan mencium aroma itu lagi. Aroma anggrek memang sudah dipakai di mana-mana. Entah itu parfum atau pewangi pakaian. Tetapi tak ada yang seperti aroma anggrek yang mereka cium dari kamar itu tadi.


Sumita ingat betul siapa yang memiliki aroma tadi. Tetapi jika itu memang ‘dia’ yang dimaksud, artinya target sesungguhnya adalah Sumita, bukan Ken.


Pemilik aroma itu adalah seseorang yang pernah mengubah hari-harinya yang kelam menjadi lebih bercahaya. Tetapi seseorang itu pula yang menjatuhkannya ke dalam jurang keabadian seperti sekarang. Seperti Prala yang mencintainya dengan tulus, seseorang ini juga mencintainya dengan begitu dalam. Hanya saja dengan cara yang berbeda. Dia lah Jaladi.

__ADS_1


Ada rasa bersalah kepada seseorang itu, tetapi perasaan dendam Sumita padanya lebih kuat. Karena Sumita merasa dikhianati dan ditipu olehnya.


“Haaa... tapi siapa yang membuka segelnya? Bagaimana bisa dia kembali?” gumam Sumita yang didengan Dono.


Dono sambil menyetir sesekali memperhatikan majikannya. Dia tahu apa yang diresahkan Sumita karena dia adalah satu-satunya yang tahu cerita tentang masa lalu Sumita.


“Apa perlu saya cari tahu, Nyai?” tanya Dono.


Sumita kembali menghela napas dalam-dalam, kemudian menjawab, “Tolong segera cari tahu di seluruh hutan yang ada di dunia ini. Dan harus hati-hati. Kita tidak tahu sudah sekuat apa dia.”


“Baik, Nyai.” Sahut Dono sambil mengangguk.


Sumita memandang kosong ke luar jendela. Pikirannya terngiang saat pertama kali bertemu dengan Jaladi saat usianya lima belas tahun.


Bagi para wanita di desanya, sudah lumrah jika gadis yang seumuran dengannya telah menikah. Bahkan beberapa teman bermain Sumita saat itu sudah memiliki anak. Tetapi berbeda dengan Sumita. Karena keadaannya, jangankan menikah, sudah bagus kalau ada yang mau berdekatan dengannya.


Dulunya, Sumita adalah anak yang biasa saja sama seperti yang lainnya. Hanya saja dia bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa. Sejak kecil, orang tuanya berpesan bahwa Sumita harus menutupi kemampuannya itu. Agar Sumita bisa hidup seperti orang lain.


Zaman dahulu, orang yang bisa melihat mahluk halus seperti Sumita umumnya akan dijadikan dukun atau pemuka agama. Itu jika nasibnya mulus. Jika nasibnya buruk, dia akan dijadikan tumbal bagi pemuja setan karena dianggap membawa petaka bagi mereka.


Nasib buruknya tak berhenti di situ. Orang tuanya yang sehari-hari mencari nafkah dengan mencari dan menjual kayu bakar tiba-tiba hilang di hutan. Beberapa hari kemudian, mereka ditemukan tewas di bibir hutan.


Hutan di dekat desa mereka memang terkenal berbahaya. Banyak yang hilang dan tidak pulang saat mereka masuk ke bagian hutan yang lebih dalam. Karena itu, para pencari kayu bakar seperti ayah dan ibu Sumita lebih sering mengambil kayu di dekat pintu keluar.


Sumita semakin terpuruk. Hidupnya semakin hancur karena dia hanya seorang perempuan sebatang kara yang sakit-sakitan. Ditambah lagi, karena keadaannya saat ini, banyak warga desa yang mulai menggunjingkannya.


“Sumita itu bawa sial.”


“Udah, kamu jangan main lagi sama dia. Nanti ketularan sial sama kudisnya.”


“Orang tuanya aja mati mendadak. Udah jelas bawa sial lah dia.”


“Yakin, deh. Dia itu kulitnya kena guna-guna.”

__ADS_1


“Iya. Kalau bukan guna-guna, pake ramuan obat aja pasti sembuh.”


“Setuju. Orang saya aja gatel-gatel cuma dioles daun sirih aja sembuh.”


Gunjing mereka.


Sumita yang masih muda hanya bisa menangis setiap kali mendengarnya. Dia tak menyangka hidupnya akan hancur seperti ini.


Tak cukup dengan keterpurukan Sumita saat ini, sepertinya tuhan masih ingin menguji Sumita.


Pada suatu malam, para warga menyerbu rumahnya dan menyeretnya keluar secara paksa. Malam itu, mereka menghukum Sumita dengan tuduhan yang bagi masyarakat sekarang sangat tidak masuk akal.


Sudah seminggu ini ladang mereka terkena wabah. Begitu juga ternak mereka, mendadak banyak yang mati. Para warga desa geram dan menuduh Sumita sebagai penyebabnya. Hanya karena dia sudah di-cap sebagai pembawa sial.


Sumita dicambuk hingga hampir mati dan pingsan.


Warga yang berpikir Sumita sudah mati, akhirnya membuang Sumita ke dalam hutan tempat orang tua Sumita ditemukan meninggal dunia.


Sumita tersadar di pagi harinya. Dengan kekuatan terakhir di tubuhnya, dia memaksakan diri untuk membuka mata dan duduk.


Betapa terkejutnya dia ketika dia pandangan matanya mulai terlihat jelas. Hutan itu nampak begitu terang. Bunga-bunga dan dedaunan yang warna-warni memanjakan matanya yang masih lelah. Manusia-manusia kecil dengan sayap di punggungnya berterbangan di sekelilingnya.


Ya, mungkin mataku masih lelah. Pikirnya.


Tak hanya mata Sumita yang seperti sedang berhalusinasi, telinganya mulai mendengar suara-suara. Suara wanita yang sedang menyanyi dengan indah, suara desiran air terjun, dan suara-suara cuitan burung yang menjadi sebuah harmoni yang indah.


Air terjun dan burung adalah hal yang normal ada di alam belantara, tapi bagaimana dengan suara nyanyian manusia?


Karena penasaran, akhirnya dia mencoba bangun. Dengan tongkat kayu yang sembarangan diambilnya, Sumita berjalan tertatih-tatih menuju sumber suara.


Semakin dalam ia berjalan, semakin jelas suara itu terdengar. Dan akhirnya dia benar-benar menemukan sumber suara merdu itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2