Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 12


__ADS_3

Seorang wanita tambun berusia 40 tahunan pagi-pagi sekali bertamu untuk menemui Sumita. Dia mengenakan baju daster seperti halnya ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Rumahnya juga tak terlalu jauh dari kediaman Ken sekeluarga. Tetapi, siapapun yang bermaksud menemui Sumita pagi-pagi begini pasti bukan karena hal biasa.


“Silakan duduk, Bu Harti.” Sumita mempersilakan wanita yang bernama Harti itu untuk duduk. Ibu itu pun duduk di sofa seberang Sumita.


Dirogohnya saku dasternya. Dikeluarkannya sebuah flash disk dari sana.


“Mohon maaf ya, Nyai, saya yang antar datanya. Anak saya hari ini ada kuliah pagi.”


Harti lalu memberikan flash disk itu dan langsung Sumita terima.


“Gapapa, Bu. Terima kasih. Yang penting kan datanya sudah sampai saya.”


“Hehehe. Baik, Nyai.”


Urusan dengan Sumita seharusnya sudah selesai, tapi wanita itu sepertinya belum ingin beranjak dari sofa berwarna biru langit itu. Sumita juga tidak bodoh. Tentu saja dia paham apa maksud dari wanita itu.


Tangan Sumita menggeser-geser layar ponsel pintarnya. Tak berapa lama, muncul notifikasi dari ponsel itu.


“Uangnya sudah saya transfer ke rekening Farhan.” Kata Sumita sambil memperlihatkan bukti transfer di ponselnya.


Seketika raut wajah Harti menjadi masam karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan kesal dia berdiri dari sofa.


“Kalau begitu saya pulang dulu, Nyai. Sampai jumpa lagi.” Ujar Harti dengan senyum kecut. Sumita hanya tersenyum singkat.


Setelah Harti pergi, Sumita mulai mengecek isi flash disk itu dari komputer di kamarnya. Ada beberapa foto dan video dalam flash disk itu.


“Ibu sama anak kok bisa beda begini ya otaknya? Padahal bisa lewat E-mail, ngapain pula si Ibu yang ngirimin ke sini capek-capek.” batin Sumita.


Di antara semua anggota ‘tim malam’, Sumita mengakui bahwa Farhan adalah salah satu yang pantas mendapat pujian. Pekerjaannya cepat dan tepat. Hanya saja dia terlalu penurut pada sang Ibu yang juga mantan anggota ‘tim malam’.


Dari investigasi yang Farhan dapat, penguntit itu adalah salah seorang fans garis keras Ken. Tepatnya ‘mantan’ fans.


“Sandi Handoko, umur 34 tahun, pengangguran. Sejak setahun lalu dipecat dari pekerjaannya karena kasus perundungan.” Gumam Sumita membaca isi data pelaku teror itu.


“Awal-awal menganggur, dia sering menguntit Ken. Tapi belakangan dia jarang keluar kamar.” Lanjutnya.


“Menguntit....??”


Mata Sumita terbelalak. Lebih dari setahun ini dia memang jarang bersama Ken, jadi dia tidak tahu kalau ada penguntit. Dan kalaupun dia pakai 'kamera tersembunyi', yang ada 'kamera tersembunyi' itu kabur entah kemana.


“Donooooooooooooo!!!!!” teriak Sumita memanggil asisten pribadinya.


Dono yang sedang menyiapkan dokumen di kamar Sumita langsung menjawab, “Iya, Nyai!!”


Tanpa diminta, dia bergegas turun dari lantai dua untuk menemui Sumita di ruang tamu.

__ADS_1


“Ada apa, Nyai?” tanya Dono sesampainya di depan Sumita.


“Cepet bawain data CCTV setahun ini! CEPEEET!!” bentak Sumita panik.


Dono yang tak tahu apa-apa jadi ikut panik. Dia pun cepat-cepat pergi mengambil data CCTV di ruangannya.


Dalam hatinya, sebenarnya Dono sedang merutuk. Padahal dia baru saja masuk hari ini setelah beberapa hari izin sakit, tapi malah dibentak-bentak dan disuruh naik turun tangga cepet-cepet. Tapi dari pada hidupnya berakhir hari ini, mendingan kerjakan saja apa yang majikannya minta.


Di lantai satu Sumita mondar mandir kebingungan. Bagaimana bisa ada penguntit yang lepas dari pandangannya.


Dicarinya nomor telepon Tio. Dia adalah asisten pribadi Ken, seharusnya dia tahu sesuatu.


“TIO!! KAMU MAU MATI?? IYA??!!”


Dono yang baru saja sampai di lantai bawah seketika terperanjat mendengar bentakan Sumita pada anaknya. Dielus-elus dadanya saking kaget.


“Kasihan sekali anak saya, Ya Gusti.” Pikir Dono.


Sementara itu di seberang telepon juga tak kalah kagetnya. Teriakan Sumita membuat telinganya panas. Padahal saat ini dia sedang menemani Ken untuk syuting sebuah acara musik. Suara Sumita ternyata bisa mengalahkan speaker panggung.


“KAMU SELAMA INI NGAPAIN AJA??! ADA YANG STALKING KEN, KENAPA GAK LAPOR!? HAH!!??” lanjut Sumita masih membentak.


Tio menjauhkan smartphone dari telinganya saking kerasnya suara Sumita.


“Kata Mas Ken, karena udah dia hajar semua sendiri, jadi gak perlu lah lapor. Gitu, Nyai.” Jelas Tio.


“Ken... Ken gamau lapor....”


“Iya. Katanya ‘ntar tante lebay kayak dulu pas SD. Masa anak SD ke sekolah bawa bodyguard cuma gara-gara banyak cewek yang ndeketin!’ gitu.”


“Huwaaaaaaaaaa..........” raung Sumita.


Tanpa mematikan teleponnya, Sumita meringkuk di sofa tempatnya duduk tadi.


“Ken... AAAAA..... aaaaaaaaarrrrrhhh.....” raungan Sumita makin menjadi. Bantal sofanya sampai sudah menjadi korban gigitannya.


Dono yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng. Semua orang di rumah ini tahu kalau Sumita terlalu sayang pada keponakannya. Apapun yang dibutuhkan Ken, selalu dipenuhi. Apapun yang menghalangi jalan Ken, langsung ditebas. Level bucin pada keponakannya sudah tak terbendung.


“Mas Ken kan sudah besar, Nyai. Mungkin dia gak mau merepotkan Nyai.” Dono berusaha menenangkan Sumita.


“Besar apaan? Buatku dia tuh bayi tau? Hiks... bayikuuuu...”


‘Iya sih. Nyai aja udah hampir 800 tahun umurnya.’ Batin Dono.


Dari pada melihat majikannya lebay berkepanjangan, Dono langsung menutup telfon Sumita dengan anaknya, lalu menyerahkan hard disk yang diambilnya tadi.

__ADS_1


“Ini, Nyai. Saya langsung colok ke laptop ini, ya.” Dono minta izin dulu.


Dari balik ringkukannya, Sumita ikut memperhatikan laptopnya yang kini dioperasikan oleh Dono.


Mereka mulai mencari bukti yang menunjukkan stalker Ken satu per satu dari awal tahun lalu. Biar cepat, mereka mempercepat video-video itu. Toh, Sumita cukup teliti. Tetapi dari beberapa video yang mereka lihat, tidak ada satu pun yang menunjukkan adanya stalker.


“AH! Saya ingat, Nyai!” sentak Dono.


“Di lingkungan perumahan kita kan ada (*1)Dwarapala-nya! Mesti udah diapa-apain tuh Stalker pas di depan! Mereka kan nurut banget sama Nyai sama Mas Ken.”


Dono, meskipun tak bisa melihat mahluk halus, dia tahu mahluk apa-saja yang ada di lingkungan Sumita. Bahkan melalui sebuah alat komunikasi khusus, dia bisa bertukar informasi dengan beberapa mahluk halus suruhan Sumita.


“Lah, iya yah...” ternyata Sumita juga baru ingat.


Saking sadar betapa pikunnya mereka, mereka hanya bisa menutup wajah mereka dengan telapak tangan.


“Ya udah. Kamu lanjut kerjain kerjaan kantor aja, deh. Hush! Hush!” usir Sumita.


Sekali lagi Dono dibuat geleng-geleng oleh majikannya. Apalah arti dua jam perjuangannya tadi untuk menonton rekaman CCTV. Giliran sudah tidak butuh, langsung diusir.


Kemudian Sumita lanjut membaca data dari Farhan. Berikutnya dia membuka file .jpg yang ada di sana. Dalam foto-foto yang diambil dengan lensa khusus ghaib itu (Critanya ada yg kek gitu), terlihat berbagai bagian rumah yang ditinggali Sandi, si stalker.


“Dari luar saja sudah dahsyat gini. Ini sih levelnya kerajaan ghaib.” Ucapnya setelah melihat ribuan mahluk halus yang tercecer di depan rumah itu.


Kalau begini, pasti akan susah untuk masuk ke dalam rumah. Pikir Sumita, Farhan bisa dilaporkan ke raja mereka di sana dan tak bisa masuk lebih dalam. Tetapi, ternyata dugaan Sumita itu salah. Karena Farhan juga mendapatkan foto bagian dalam rumah itu.


“Kalau kerjaannya begini, mau gak mau mesti naikin gajinya, nih. Huuuh...” keluh Sumita. Dia belum ingin menambah pengeluaran gaji.


.


.


.


Keterangan :


(*1) Dua patung raksasa penjaga gerbang. patung gupala. yg kayak gini


  I


  I


 V


 V

__ADS_1




__ADS_2