
-----
TAHUN 2020 -----
“I love you.”
Dengan tulus Ken menyampaikan perasaannya pada wanita yang sangat berjasa di hidupnya itu. Dipegangnya tangan yang pernah wanita itu gunakan untuk melindunginya. Sungguh dari pada siapapun di dunia ini, Sumita adalah orang yang paling dikasihinya. Bahkan lebih dari dua orang tua angkatnya.
“Huh, dasar! Dari dulu kamu gak pernah berubah ya, Ken.”
‘Tak!’
Sumita menyelentik jidat Ken pelan.
“Akk!” jerit Ken sambil memegangi jidatnya dan pura-pura kesakitan.
Bibir pemuda itu dimanyunkan karena kesal pernyataan cintanya tidak dianggap serius.
“Padahal tante yang tanya sendiri. Aku jawab jujur, malah diselentik.” Keluhnya.
Melihat ekspresi lucu pemuda yang usianya ratusan tahun lebih muda darinya itu, Sumita jadi lebih ingin menjahilinya.
“Dih... makanya jomblo dari lahir ya gini, nih~!” dengan gemas Sumita mencubit dua bibir Ken.
“Uuuungg!.... mpeh!” Ken mengelak hingga tangan Sumita lepas dari bibirnya.
Agar tak semakin dijahili, dia berdiri dari sofa.
“Tante, aku tahu kok bibirku mempesona banget. Sampe bikin pengen pegang-pegang! Dasar Pervert.” akunya dengan pede.
Sumita cengo dengan apa yang telah didengarnya. Bayi besar ini ternyata sudah berani menggoda dan mengatainya.
“Hiih... aku jadi merinding dipegang tante-tante. Duh... bibirku masih perawan gak yak?” ledek Ken lagi sambil berlalu.
Sumita semakin tak percaya.
“Heh! Inget kamu siapa yang pipisin rok tante pas umur enam bulan?!” Sumita berteriak tetapi Ken tak menggubrisnya dan sudah keburu pergi.
Tak terasa anak itu sudah sebesar itu. Sumita teringat saat diam-diam masuk ke rumah Handi, almarhum kakek Ken saat Ken masih bayi. Dan kejadian yang baru saja disebutkannya pun terjadi. Kalau saja tahu anak itu akan jadi sejahil ini, harusnya dia foto kejadian saat itu.
Lalu kenangannya pun berputar kembali ke ratusan tahun lalu saat pertama kali bertemu Prala. Sepertinya kejahilan adalah warisan turun temurun dari keluarga itu. karena Prala pun tak kalah jahilnya.
Karena lelah kabur dari Sumita yang mungkin akan kesal padanya, Ken pun menghentikan larinya. Dia yang tadinya hanya senyum-senyum setelah merasa menang, akhirnya melepas tawanya.
Baginya wajah tantenya yang sedang cengo tadi sangatlah lucu... dan cantik.
Sampai sekarang Ken masih bingung. Bagaimana bisa tante yang dikenalnya lebih dari dua puluh tahun masih saja terlihat muda. Bahkan bisa dibilang mereka terlihat masih seumuran. Padahal katanya dia lebih tua dari orang tua angkatnya. Yang artinya usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Karena ini lah, Ken selalu merasa berdebar saat bersama tantenya. Kadang-kadang juga Ken membatin, mungkin dia jatuh cinta pada tantenya sendiri.
__ADS_1
“Sudah mau jam 8, Mas.” Ujar Tio, anak Dono yang kini menjadi manajer pribadi Ken.
“Ayah Kak Tio belum masuk juga hari ini?” tanya Ken sambil masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah dibukakan dulu pintunya oleh Tio.
“Yah... mau bagaimana lagi. Namanya sudah tua.” Jawab Tio.
Tio duduk di kursi pengemudi, sedangkan Ken duduk di kursi penumpang belakang sebelah kiri. Setelah semua siap, mesin pun dinyalakan dan secara perlahan mereka keluar melewati gerbang rumah.
“Yah, memang cuma tanteku yang tidak wajar. Padahal sama-sama tuanya.”
Tio terkekeh pelan lalu menyahut, “Haha, memang kelihatannya saja begitu. Tapi, mungkin dia lebih banyak menyimpan luka dibanding kelihatannya.”
Ken mengangguk setuju dengan pendapat Tio.
Selama ini sang tante memang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Meskipun penasaran, Ken merasa tidak sepatutnya tahu. Mungkin saja itu hal yang sangat pribadi. Dan seseorang pasti punya satu atau dua hal yang tak ingin orang lain tahu. Seperti halnya dia yang menyembunyikan pada banyak orang tentang kemampuannya.
“Oh iya, Mas. Saya mau minta izin jam 12 nanti buat ketemu Dilla.”
“Pulangnya jam berapa, Kak?” tanya Ken.
Cara memanggil mereka memang membingungkan. Yang satu dipanggil ‘Mas’, yang satu dipanggil ‘Kakak’. Padahal artinya sama. Hanya untuk situasi mereka memang agak beda fungsinya. Tio memanggil Ken dengan ‘Mas’ karena dia majikannya, sedangkan Ken memanggil Tio dengan ‘Kakak’, karena Tio lebih tua darinya.
“Cepet sih. Jam dua juga udah balik.” Jawab Tio.
“Hidih! Ketemu pacar kok dua jam doank!” hardik Ken.
“Emang boleh lebih dari itu?”
Ken terbata-bata karena kaget melihat sisi kanannya. Saat iseng melihat ke jendela kanan mobil itu di sisi kanannya kini duduk seseorang yang dikenalnya.
“Nanti kakak pulangnya mampir ke toko bunga sama bawain stelan hitamku ya.” Ujarnya.
“?” Tio bertanya-tanya.
Ken menghela nafasnya pelan, lalu berkata, “Hari ini kita berkabung.”
Tio sudah tahu bahwa Ken bisa melihat apa yang orang lain lihat. Karena itu lah tanpa diberitahu orang lain, kadang dia bisa tahu apa yang sedang dan akan segera terjadi.
.
.
.
Tak lebih dari 30 menit berlalu hingga Ken sampai di stasiun televisi. Hari ini dia ke sana untuk menghadiri sebuah acara talk show untuk mempromosikan album barunya.
Ken adalah seorang penyanyi yang cukup terkenal. Sejak debutnya tujuh tahun yang lalu, banyak yang terpesona dengan suara dan penampilannya. Bahkan dengan adanya Korean wave yang masih bertahan hingga saat ini, penjualan maupun view lagunya di berbagai platform selalu bagus.
Siapa juga yang heran dengan kepopulerannya. Orang yang bukan penggemarnya sekalipun mengakui. Dia memiliki suara yang bagus, walaupun suaranya tak seperti peserta kompetisi menyanyi di televisi. Lalu karena rajin olah raga, badannya bagus dan suaranya stabil saat tampil meski sambil menari. Selain itu, tentu saja adalah
__ADS_1
visual yang mendukung.
Dia adalah mahluk tuhan yang memiliki semua yang pria inginkan dan wanita idamkan. Young and rich, handsome and tall.
“Di album kali ini, apa sih yang spesial?” tanya host acara talk show bertajuk ‘Mata ke Mata’
“Karena ada telornya. Hahaha...” canda Ken.
Meski tak terlalu lucu, beberapa penonton ikut tertawa.
“Wah, kayak nasi goreng, ya. Spesial banget dong ini.”
“Iya, dong.”
“Jadi, telornya apa aja nih? Eh, kok telor. Maksudnya spesialnya!” tanya host lagi.
“Hahaha... yang jelas banyak lagu-lagu yang menggambarkan pribadi saya. Jadi, melalui lagu ini penggemar kurang lebih bisa mengenal saya lebih jauh lagi.” Jawab Ken dengan lebih serius.
“Jadi, setelah mengenal lebih jauh. Bisa dong, hubungan kita ke jenjang yang lebih? Ehem!” goda host perempuan itu yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Ken.
“Oke, deh. Biar kita semua bisa ke jenjang selanjutnya sama Ken, kita langsung dengerin aja lagu baru dari Ken! Silakan!” lanjut host itu sambil mengarahkan ke panggung yang disambut dengan riuhan tepuk tangan dan siulan penonton.
Sambil masih tertawa karena candaan host tengil itu, Ken berjalan menuju panggung dan mulai bernyanyi.
Begitu Ken memberikan kode ‘siap’ pada produser acara, kamera mulai menyorot padanya. Pelan-pelan intro lagu berirama ballad pun terlantun dan kemudian diikuti oleh suara merdu Ken.
♪
Sampai kapankah kisah kita akan terus begini?
Takkan bersatu, takkan berpisah, di ambang pintu hati
Kita tak bisa salahkan takdir
Ku kan bertahan dan menggenggam tanganmu
Dalam pelukmu ku tenang
Dalam dekapmu ku adalah aku
Cinta...
♪
Seisi studio terlarut dalam suasana lagu yang Ken bawakan. Ada yang tercengang, hingga ada yang menitikkan air mata terbawa suasana.
Melihat reaksi penonton, Ken merasa cukup puas. Artinya lagunya bisa diterima orang lain.
Diapun mengakhiri penampilannya dengan senyuman simpul yang menggetarkan hati jutaan penggemarnya.
__ADS_1
.
.