
Sudah beberapa menit berlalu sejak Tio diperintah untuk handstand oleh Sumita. Sebabnya karena Sumita merasa tertipu dengan telefon Tio yang mengatakan keadaan gawat yang dialami Ken. Dia pikir segawat apa sampai Tio berteriak segala. Rupanya Tio berteriak karena ponselnya tergelincir keringat di tangannya, lalu ponsel itu masuk ke gelas berisi air kopi panas.
“Sudah berapa lama kamu jadi asistennya Ken? Saya itu biayain kamu mahal-mahal sekolah sampe S2, ajarin kamu bela diri, dan bayar kamu buat lindungin dan bantuin Ken. Cuma ini yang kamu bisa? Kamu udah bosen pegang uang? Atau pengin dibayar pake daun?"
Tio kicep seketika. Dia tak mampu menjawab apapu. Apalagi peredaran darahnya sedang kurang lancar karena badannya terbalik membuatnya susah berbicara.
“Tante, ini kan bukan salahnya Kak Tio. Udahan ya. Kasihan Kak Tio digituin.” Ken memberi pembelaan untuk Tio.
Sumita menghembuskan napasnya dengan kasar. Dikibas-kibaskan kedua tangannya agar kepalanya menjadi lebih sejuk.
“Ya udah. Mana sini kotaknya!” suruh Sumita.
Dewi membawa kotak kado yang menjadi perkara kali ini.
“Buka!” Suruh Sumita lagi.
Begitu wanita paruh baya itu membuka kotak itu, seketika dia merasa mual dan lari ke kamar kecil untuk muntah.
Isi dari kotak itu begitu menjijikan. Di sana terdapat seonggok mayat kelinci yang darahnya masih cukup segar. Tak hanya itu, pisau yang digunakan untuk membunuh kelinci itu juga masih menancap di sana. Di atasnya terdapat surat yang isinya :
‘Turut berduka cita atas meninggalnya MY BUNNY HUSBAND Ini adalah hadiah perpisahan dariku’
by.
'Your PRETTIEST WIFE'
Membaca surat itu, Sumita perlahan melangkah mundur. Ditatapnya Ken yang ada di belakangnya dengan sedih. Saking shock dengan yang dilihatnya, Sumita menutup mulut dengan tangannya, lalu bertanya pada Ken, “Ka... kamu... hub... husband... nikah? Wife?”
‘Bunny’ adalah sebutan Ken saat dia memulai debut tujuh tahun yang lalu. Julukan itu didapatnya karena wajahnya yang imut dan lagu debutnya sangat bubbly dengan banyak lompatan di koreografinya. Dan 'Prettiest' adalah judul single ke-7 Ken yang membuatnya mendapat penghargaan penyanyi solo terbaik di ajang penghargaan musik paling bergengsi di Indonesia.
“Tante yang benar aja, ah! Kan tau sendiri aku jomblo abadi.” Sangkal Ken. Dia mengatakannya dengan bibirnya sendiri, tetapi entah kenapa mendengar kata ‘aku jomblo abadi’ membuatnya sakit hati.
“Oh, iya juga.” Sumita setuju. Dan itu menjadi double strike di hatinya.
Sumita kembali ke posturnya. Lurus dan elegan.
“Panggil sini produser acaranya!” suruh Sumita lagi.
Kali ini Ferdi yang bergerak cepat. Dia keluar ruangan dan dalam sekejap sudah membawa seorang perempuan berumur 30 tahunan dengan kalung name tag bertuliskan ‘produser’.
Produser itu bergidik saat ia bertatapan mata dengan Sumita. Di dunia entertainment siapa yang tak mengenal Sumita. Dia adalah seorang CEO SJYEnt. yang telah menelurkan banyak artis terkenal. Banyak rumor mengatakan bahwa dia mengkonsumsi darah artis-artisnya agar terus tampak muda. Padahal usia di profilenya kini sudah tak lagi muda.
“Jelasin!”
__ADS_1
“Sa... saya tidak tahu.” Jawab wanita itu terbata-bata.
“Kok bisa!?”
Sumita menatap sang produser acara dengan tajam hingga membuatnya semakin bergidik.
Beruntung wanita itu masih bisa berpikir cepat dan memberi saran, “Begini, Bu. Gimana kalau kita lihat di CCTV aja. Pasti ada jejaknya, Bu.”
“Ok. Antarkan saya ke ruang CCTV!”
“Baik, Bu!”
Mereka semua lalu pergi ke ruang CCTV meninggalkan Tio yang masih dihukum.
Para staf TvG heboh melihat segerombol orang tak biasa menuju ruangan CCTV. Apalagi dengan desas-desus yang baru saja mereka dengar tentang kotak kado berdarah.
“Ini rekaman dua jam yang lalu saat hadiah dari fans mulai dikumpulkan.” Ucap petugas keamanan yang mengawasi ruang CCTV sambil menunjukkan layar.
“Lalu ini adalah rekaman saat kotak itu masuk ke sini.” Lanjutnya.
Sumita memegang kepalanya, sedangkan tangannya yang lain kembali mengipasi kepalanya yang panas.
“Pantesan lolos. Dia pakai baju staf ternyata.” Ferdi bergumam saat melihat pria yang mengenakan seragam dan name tag staf masuk mengendap-endap.
Ken, Dewi dan Ferdi yang paling fokus memperhatikan video itu mengerutkan alis mereka saat melihat sesuatu yang semakin tidak wajar. Mereka adalah cenayang. Tentu saja mereka dapat melihat lebih jeli apa yang orang lain tidak sadari.
Kini Sumita pun ikut mengerutkan alis.
“Cewek?” gumam Sumita.
Jauh di belakang pria yang masuk membawa kado itu, mahluk berambut pirang dan menjuntai ke lantai dengan pakaian serba pink mengikuti pria itu. Mahluk yang terlihat seperti wanita itu berjalan dengan sangat lambat dengan langkah yang besar. Jelas sekali ini bukan manusia. Apalagi petugas keamanan maupun produser acara yang sedang bersama mereka saat ini juga tidak merasa kaget. Padahal Ken juga menunjuk-nunjuk letak di mana hantu itu muncul.
“Aneh. Kalau ini perbuatan jin... beneran aneh banget.” Gumam Sumita lagi.
“Iya, ya.” Timpal Ferdi.
“Sum, kita harus segera bicarakan ini.” Usul Dewi. Jika di depan orang lain, anak buah Sumita tidak akan memanggilnya ‘Nyai’ seperti biasanya. Apalagi Dewi dan Ferdi bersandiwara sebagai kerabatnya. Ini agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain tentang keberadaan Sumita yang usianya berabad-abad.
.
.
Mereka pun kembali ke ruang tunggu. Kini di ruangan itu hanya ada Sumita, Ken, Dewi, Ferdi, dan Tio yang sudah menyelesaikan hukumannya.
__ADS_1
“Setahu saya seharusnya tidak ada jin yang mau berurusan berat lagi dengan Ken ataupun Nyai Sumita.” Dewi menopangkan dagunya.
“Kata kalian kan hantunya bule gitu kan? Apa dia hantu imigran?” Tio bertanya.
“Bisa jadi, sih. Senggaknya jin di sekitar sini harusnya udah ngasih tau repotnya berurusan dengan Nyai. Uhuk.” Tambah Ferdi.
Sebetulnya ini bukan pertama kali Ken mendapatkan ‘kado spesial’ dari hater-nya. Biasanya hanya hal-hal sepele seperti surat-surat yang berisi kebencian atau photoshop wajah artis video dewasa. Itupun seringnya tidak sampai di meja Ken seperti ini.
Ken memperhatikan kedua orang tua angkatnya. Mereka hanya memakai kaos dan celana santai seperti saat di rumah. Ken pikir, mereka pasti kedinginan.
“Kita lanjutkan besok saja. Biar nanti kita minta tolong pada tim malam kita.Sudah malam kita pulang, ya. gak papa kan, Te?” Ujar Ken.
Dewi dan Ferdi saling menatap. Memang hari ini mereka sudah lelah. Tapi mereka tak berani juga pulang tanpa seizin atasan mereka.
“Kita serahkan ke ‘Tim Malam’. Biar mereka juga urus ke kepolisian juga.” Putus Sumita yang melegakan semua orang yang ada di ruangan itu.
Walaupun Sumita memang suka menyiksa bawahannya, dia tak akan tega membiarkan mereka memforsir tenaga mereka dengan berlebihan. Sumita masih ingin mereka hidup. Karena bukan hanya Sumita yang berjasa pada mereka, tetapi mereka juga berjasa pada Sumita.
Mereka pun akhirnya pulang. Tio, Ken, dan Sumita berada di mobil yang Ken dan Tio bawa, sedangkan Dewi dan Ferdi membawa mobil yang satunya.
“Kamu... suka sama MC cowok itu?” tanya Sumita pada Ken tiba-tiba.
Tio yang sedang menyetir tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan Sumita.
“Hah?! Kok tanya gitu?” Ken bertanya balik.
“Kan tadi kamu nembak dia. Mesra banget lagi.”
Ken mengingat-ingat apa yang dilakukannya tadi setelah pertunjukan pertama. Memang sih dia menembak pembawa acara tadi, tapi itu kan hanya bercanda. Masa tantenya ini tidak tahu? Lagipula apanya yang mesra dari memegang pundak pria?
“Ah, tante gak tau becandaan anak muda. Aku masih normal, kali.” Guraunya.
Tak seperti harapannya bahwa tantenya ini akan membalasnya dengan tawa atau ledekan seperti biasanya, Sumita justru bersikap dingin.
Apa orang-orang seperti kita bisa disebut normal? Pikir Sumita.
Sumita lalu menurunkan sekat kaca hitam di mobil itu agar Tio tak mendengar pembicaraan mereka. Setelah itu, Sumita menatap mata Ken lekat-lekat. Dipegangnya kedua sisi pundak Ken, lalu dia bertanya, “Ken, apa kamu ingin menjadi normal? Apa kamu ingin tidak melihat hal yang tidak ingin kamu lihat?”
Ken menjawab pertanyaan itu sambil tersenyum, “Aku tidak peduli dengan apa yang kulihat. Tapi, aku ingin melihat hal yang sama dengan apa yang tante lihat.”
Sumita menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka Ken akan semanja ini padanya.
“Ken, tante rasa ini saatnya kamu mengambil cincin ini.”
__ADS_1
.
.