Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 9


__ADS_3

Sepulang melayat, Ken dan Tio langsung bersiap untuk menuju ke tempat kerja selanjutnya. Sementara Sumita ke kamarnya untuk mandi.


Karena Ken baru saja mengeluarkan album baru, tentu saja mereka akan lebih sibuk dari biasanya. Dan malam ini, rencananya mereka akan menghadiri acara musik di TvG, Stage-in. Acara itu adalah acara musik paling bergengsi di televisi yang sudah memiliki ijin siar selama 30 tahun itu.


Karena stage kali ini lebih megah, tentu saja kostumnya harus berbeda. Apalagi tidak hanya lagu yang dibawakannya pagi tadi, kali ini Ken juga akan membawakan lagu berirama cepat.


Saat akan keluar rumah, ternyata ayah dan ibu angkat Ken baru saja pulang dari tempat kerja mereka.


“Lah, udah mau cabut aja, Sayang?” tanya Dewi, Ibu angkat Ken.


Dewi menaruh tasnya di sofa.


“Iya, Bu. Doain sukses, ya. Salim dulu, Bu.” Ken lalu mencium tangan sang Ibu, baru kemudian tangan sang ayah yang baru selesai menutup pintu.


“Kami pamit, Pak, Bu.” Lalu Tio pun menyusulnya.


“Hati-hati, Ken!” seru sang ayah, Ferdi.


.


.


Begitu sampai di stasiun televisi, mereka langsung berkumpul untuk briefing dengan staf panggung yang bertanggung jawab untuk mengurus kelengkapan Ken hari ini. Kemudian dilanjut dengan gladi bersih.


Selama semua itu berlangsung, sesosok mahluk sedang memperhatikannya. Bukannya Ken tidak menyadarinya, tetapi Ken sudah masa bodoh. Toh selama ini tidak ada yang berani mendekatinya. Tantenya yang memiliki kemampuan cenayang yang sama dengannya juga pernah mengatakan bahwa Jin atau bahkan iblis sekalipun tak akan berani menyentuhnya secara langsung.


Setelah persiapan selesai, tiba saatnya untuk pertunjukan yang sesungguhnya.


Berdasarkan rundown-nya, Ken akan tampil di pembuka acara. Ini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jika dia pulang terlalu malam. Kadang karena hal ini Ken jadi sering kena gosip kalau dia ‘anak mami’.


Ken membuka acara dengan sebuah lagu andalan di album barunya, ‘Love Season’. Seperti judulnya, lagu ini bercerita tentang musim anak muda untuk jatuh cinta. Berbeda dengan lagu yang dinyanyikannya di acara talk show, lagu ini berirama ‘up-beat’ dengan genre ‘City Pop’ yang akhir-akhir ini kembali menjadi tren.


Selesai penampilan itu, para MC menyapa Ken dengan antusias.


“Woaahh!! Tadi itu penampilan pembuka yang ajib banget!” seru MC pria.


“Bener banget! Sampe klepek-klepek tapi pengin joged gue tuh!” timpal MC wanita.


“Boleh dong nanya-nanya. Inspirasinya dari mana sih?” tanya MC wanita.


Ken lalu mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan menjawab, “Ya jelas cewek gue, lah!”


“Widiwww pengakuaaan! Prasan lo jomblo abadi. Sejak kapan punya pacar, Bro?” goda MC pria dengan gaya SKSDnya.

__ADS_1


“Bro, semua fans cewek gue ya cewek gue juga. Love them equally adalah jalan ninjaku.”


“Love dikuali?” MC pria berusaha mereceh.


“Love them equally, Woi! Artinya Ken sangat mencintaikuh!”  MC perempuan sok pede dengan translasi ngaconya.


“Terus kalau lo cinta yang cewek, fans cowok lo yang kayak gue gimana, Bro?” MC pria lagi-lagi iseng.


Ken menepuk pundak MC pria itu dengan tangannya yang bebas lalu tersenyum, “I love you too.”


Mendengar pengakuan Ken, seluruh studio dan mungkin seluruh penonton senusantara yang melihat acara itu mendadak heboh.


“Bercanda hahaha! Aku cinta kalian semua yang cowok dan cewek, tua dan muda, tanteku jugaaku cinta banget!” ujar Ken sambil tertawa dan menepuk berkali-kali pundak MC pria.


“Bro, yang bener aja. Gue takut tadi istri gue nonton!” MC pria itu melanjutkan bercandaan mereka.


Setelah seorang staf memberikan kode dari bawah untuk melanjutkan acara, mereka pun memanggil performer selanjutnya.


.


.


“Bercanda hahaha! Aku cinta kalian semua yang cowok dan cewek, tua dan muda...”


Sumita mematikan televisi yang ditonton di kamarnya tanpa mendengar kelanjutan kalimat Ken.


“Ini bocah udah berani bilang cinta-cintaan sama orang lain. Cih!” rutuknya.


Dia lalu keluar dan menggebrak pintu kamarnya dengan keras. Entah kenapa mendengar pernyataan cinta Ken tadi rasanya sebal sekali.


“Aku gak mau bayiku cepet gedeeeeeee.... Huaaaaaa!!!!”


Isakan Sumita terdengar sampai ke telinga Dewi dan Ferdi yang ada di lantai bawah.


“Nyai punya bayi, Yah?” tanya Dewi yang dijawab Ferdi dengan mengangkat bahunya.


“Ngomongin anak kita kali.” Tambah Ferdi.


Sumita pun turun dengan tergesa-gesa ke lantai bawah... tidak, tepatnya dia lompat dari lantai dua. Untungnya dia mendarat dengan sempurna.


Napas tersengal-sengal dan mendekati Dewi dan Ferdi dengan tatapan penuh amarah.


Melihat ekspresi Sumita yang begitu menyeramkan, kedua orang tua angkat Ken itu langsung melipat kakinya untuk bersimpuh di lantai~~~~. Ditangkupkan kedua tangan mereka secara bersamaan.

__ADS_1


“Maaf, Nyai. Mohon redam amarah Nyai. Kami mohon maaf bila ada kesalahan yang kami perbuat.” Ucap Ferdi dengan nada yang gemetar.


“Ampun, Nyai.” Tambah Dewi.


Sumita yang sudah ada di depan mereka menghentakkan kakinya keras sampai-sampai keramik yang dipijaknya retak.


“Kalian gak becus banget jadi orang tua! Mau dipecat hah!?” amuk sumita pada kedua Dewi dan Ferdi.


Dari penampilan sih, memang Sumita nampak lebih muda puluhan tahun. Dia terlihat seperti usia pertengahan dua puluh, atau bahkan bila make-upnya dihapus bisa terlihat jauh lebih muda lagi. Padahal aslinya dibanding orang tua angkat Ken yang usianya sudah mendekati umur pensiun, Sumita jauh lebih tua.


Karena itulah Sumita berani-berani saja membentak orang paruh baya yang di matanya terlihat seperti ‘bayi’ baru lahir ini. Apalagi, sebenarnya mereka adalah anak buah Sumita. Jadi, mau dibentak pun mereka tak bisa melawan.


“Tau, gak? Tadi tuh anak kalian nembak cowok di TV! Kalian ajarin apaan sih, dia sampe bisa kayak gitu!? Kalau kalian udah gak betah jadi orang tua, ya bilang, donk!” kembali Sumita meneriaki kedua anak buahnya.


Dewi dan Ferdi sendiri kaget dengan apa yang dikatakan Sumita barusan. Bagaimana bisa anak mereka jadi seberani itu? Masih mending kalau yang ditembak itu cewek, ini malah cowok!!? Se-open-minded apapun Dewi dan Ferdi, mereka juga tidak terima kalau Ken malah menembak laki-laki di acara televisi. Bisa dihujat senusantara mereka.


“Pokoknya kalian harus ku hukum.”


“A-ampun, Nyai. Tapi, ka-kami juga tidak merasa pe-rnah mengajari anak kami demikian. Kenapa kami yang dihukum?” ucap Ferdi terbata-bata.


Sumita mengangkat dagu dua orang itu bersamaan dengan tangannya.


“Terus, masa harus Ken my baby yang dihukum? Kalian tega?” tanya Sumita dengan suara yang lebih lembut. Akan tetapi cengkraman tangannya di dagu pasangan itu semakin kencang.


Dua orang itu meringis kesakitan dan menggelengkan kepalanya.


Mereka sendiri tahu hukuman apa yang biasanya Sumita berikan. Dikurung di kamar labirin yang isinya ular berbisa, atau dikurung di kandang serigala, bahkan kamar labirin itu bisa mengeluarkan salju dari selatan beserta Yeti-nya. Entah bagaimana kamar labirin itu bisa terbentuk. Yang jelas kamar itu luar biasa menyeramkannya. Mana tega mereka sebagai orang tua membuat anak yang sudah mereka besarkan merasakan neraka duniawi itu?


‘neon naui Violetta


Teteretetet tetett’


Terdengar sebuah lagu grup idola perempuan korea dari ponsel Sumita. Diambilnya ponsel itu dari saku gaunnya setelah melepaskan cengkramannya dengan kasar.


“Apa!?” sapa Sumita, masih dengan nada nyolotnya.


“Gawat\, Nyai! Mas Ken gawat\, Nyai! AAAAAAAAAAAA!!.... *piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip*” dan telepon dari Tio terputus.


Tanpa basa-basi, Sumita langsung menuju garasi disusul oleh Ferdi dan Dewi yang sekilas mendengar percakapannya dengan Tio.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2