
“AAAAAAAAAAKKKK!!! TOLONG!! ADA ORANG MESUM!!” teriak Sumita.
Pria itu menutup kedua telinganya. Teriakan Sumita itu bisa-bisa meledakkan telinganya.
“Kyaaaaaaaaa!!! Pergi!!!” teriak Sumita lagi sambil mencipratkan air danau pada pria itu.
“Hey! Berhenti! Apa ini cara kau memperlakukan dewa penolongmu?!” pria itu menghalau cipratan itu dengan kedua lengannya.
Bukannya berhenti, Sumita terus saja menciprati laki-laki itu.
“Pergi!!! MESUM!!!”
Laki-laki itu memutar bola matanya. Entah bagaimana dia harus menghadapi perempuan liar ini.
Saking gemasnya, pria itu akhirnya mengeluarkan ajian peringan tubuh untuk menghindari cipratan air itu. Dia terbang ke atas tebing dengan sekali hentakan kaki. Selanjutnya dengan sekali kibas, dia mengeluarkan sehelai kain putih yang panjang dan dengan aji-ajiannya dia melilitkan kain itu ke tubuh Sumita hingga mulut.
“Hah, merepotkan sekali perempuan ini!” ucap laki-laki itu.
Dia pun kembali turun tepat di depan Sumita.
“Hmmmpppphh! Hmmmpp!!” Sumita mencoba berontak. Dia pikir karena itu hanya sehelai kain, pasti akan mudah untuk melepasnya. Tetapi, ternyata jangankan lepas merenggang saja tidak.
“Percuma saja. Toh bukannya lebih baik kau menutup tubuhmu sekarang? Karena aku sedang sangat ingin berbicara denganmu. Bukankah kau akan malu kalau aku melepas lilitannya?” Ucap laki-laki itu.
Pikir Sumita, perkataan pria ini ada benarnya juga. Dia pun berhenti berontak. Tetapi mulutnya tetap mencoba berbicara.
“Shkh kmhk!? (Siapa kamu?)”
“Hah?” pria itu membuka helaian rambut yang menutup telinganya. Dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang Sumita katakan.
“Shheph kmkh!?”
“Apa??” pria itu mendekatkan telinganya ke mulut Sumita.
“Khhhh...” gerutu Sumita.
Laki-laki ini sepertinya senang sekali mempermainkannya.
“Iya, iyaaa... Sabarlah adik cantik.” Ucap pria itu.
Kemudian dia menyibakkan lengan bajunya hingga memperlihatkan kulit pria itu yang langsat dan tanpa noda. Kulit mulus pria itu membuat Sumita tertegun.
Bagaimana bisa seorang pria bisa memiliki kulit seindah itu? pikir Sumita.
Tak hanya kulitnya. Rambut hitam panjangnya yang dia ikat separuh atasnya pun begitu lembut saat tanpa sengaja menyentuh kulit Sumita. Dan yang paling membuat Sumita terpesona adalah wajah pria itu. Sumita sungguh iri. Sumita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, karena menciptakan rupa pria ini dengan terlalu sempurna.
__ADS_1
Dibukanya kain yang menutupi mulut Sumita. Seolah telah melakukan perbuatan baik padanya, melihat kedaan Sumita saat ini membuat laki-laki itu tersenyum puas.
“Adik sungguh cantik. Padahal tadinya di sini ada banyak sekali bisul. Sekarang sudah tinggal bekasnya.” Kata pria itu sambil memegangi pipi Sumita dan memperhatikannya dengan seksama.
Mendengar apa yang dikatakan pria itu, Sumita sadar bahwa pria itu sudah memperhatikannya sejak pertama kali Sumita di sini. Artinya, mungkin saja dia juga sering mengintipnya mandi di danau ini.
Menyadari itu, Sumita panik. Wajahnya merah padam karena malu. Ternyata ada orang lain yang melihatnya mandi di danau ini selain Kalya. Padahal selama ini dia dan Kalya tak pernah memakai baju setiap mandi.
Saking malu dan marahnya, Sumita lagi-lagi berteriak, “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKHHH!!!”
“Sssshhh!! Diamlah! Kau sangat berisik!”
Laki-laki itu sudah tidak bisa sabar lagi dan membekap mulut Sumita agar tidak berteriak terus. Tanpa sengaja pria itu juga menutupi lubang hidung Sumita, sehingga dia kesulitan bernapas. Meski begitu, Sumita tetap berontak. Dia takut diapa-apakan oleh pria ini.
Saat itu lah, Kalya tiba-tiba muncul.
“Tuan?!” panggil Kalya.
Pria yang disebut ‘Tuan’ oleh Kalya itu menengok dan akhirnya melepaskan bekapan tangannya.
“...Haaaaah...” Desah Sumita lega.
“Kalya! Bukankah kau sedang ke kota?” tanya pria itu.
“Kalya! Cepat lari! Dia pria mesum yang sudah mengintip kita mandi!”
“Hahahaha! Apa betul Tuan mengintip kami?”
“Sudahlah, Kalya. Sebaiknya kita ke tepi dulu dan segera kau luruskan salah paham ini!” perintah pria itu.
“Sendiko dawuh, Tuan. Akan segera saya sampaikan.”
Kemudian setelah membawa Sumita ke tepi danau, Kalya mulai berbicara.
“Beliau adalah Tuanku, Yang Mulia Jaladi, Dewa penunggu danau ini. Dialah yang telah mengabulkan permintaanmu Sumita. Sebaiknya, berterima kasih lah kau padanya.” Jelas Kalya.
Merasa telah salah menilai, Sumita segera berlutut di depan Jaladi dan memohon ampun, “Maafkan saya, Dewa. Mohon ampuni kecerobohan saya.” Ucap Sumita.
Jaladi lalu mengangkat pundak Sumita dengan lembut.
“Sudahlah, Anakku. Kau tak perlu sungkan. Toh memang benar aku melihat kalian mandi di sini.”
Wajah Sumita semakin merah padam. Dia tak habis pikir. Bisa-bisanya pria ini berkata demikian dengan santai.
“Dasar dewa mesum.” Gerutu Sumita lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Jaladi yang memiliki pendengaran tajam.
__ADS_1
“Hey!” hardik Jaladi.
“Maaf.” Ucap Sumita.
Hari-hari mereka berlalu dengan tenang. Jaladi memperlakukan Sumita dengan baik selayaknya adiknya sendiri. Dan Sumita yang tahu bahwa Jaladi berusia ribuan tahun lebih tua darinya juga menganggapnya seperti orang tua sendiri. Apalagi Jaladi lah yang ternyata memberikannya kesembuhan melalui air ajaib di danau ini.
Tapi itu baru permulaan. Semakin berlalunya tahun, Sumita menjadi semakin dewasa dan semakin cantik. Rasa kasih sayang Jaladi padanya pun kian berubah. Jaladi jatuh cinta pada Sumita.
Segala perhatiannya selama ini yang membuat Sumita lengah dimaanfaatkannya agar terus bisa berdekatan dengan gadis itu. Diberikannya apapun yang Sumita mau.
Hingga suatu hari,
“Tuan, bolehkah saya ke kota? Saya pikir ini sudah saatnya saya kembali bertemu dengan manusia yang lain. Lagi pula, saya ingin juga membantu Kalya dalam menyebarkan kebaikan.” Pinta Sumita pada Jaladi.
“Hmm...” Jaladi berpikir, sepertinya tidak apa-apa kalau dia bersama Kalya. Tetapi dia juga merasa khawatir jika Kalya saja tidak cukup untuk menjaganya.
“Ayolah, Tuan. Saya mohon.” Gadis berusia 20 tahun itu mencoba untuk bertingkah manja pada penyelamatnya itu dan akhirnya Jaladi luluh juga. Jaladi menganggukan kepalanya, tanda bahwa dia mengizinkan Sumita untuk pergi.
Esoknya, Sumita dan Kalya pergi ke perkotaan bersama. Jaladi yang merasa masih khawatir, meminta seekor burung pipit untuk terbang mengawasi mereka. Dengan kesaktiannya, dia membuat apa yang dilihat burung itu dapat langsung terproyeksi di matanya. Sehingga dia bisa langsung mengamati apa saja yang dilakukan dua orang gadis terdekatnya itu.
Dan ternyata, Jaladi justru harus menerima sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa ternyata Sumita dan Kalya telah berbohong padanya.
Sumita dan Kalya hanya bersama hingga pertengahan jalan. Mereka terpisah dan berjalan masing-masing. Kalya menuju kuil dan mengubah dirinya menjadi pria untuk mengajarkan agama, sedangkan Sumita pergi ke sebuah kedai di pasar.
Sampai sini, Jaladi masih berpikir bahwa Sumita mungkin ingin sedikit bersenang-senang dan berbohong karena takut tidak diizinkan. Tetapi yang tak disangkanya, tiba-tiba seorang pria menyapa Sumita dengan akrab. Mereka mengobrol cukup lama. Pria itu juga sesekali memegang punggung dan rambut Sumita.
Hanya seperti itu saja sudah membuat Jaladi panas. Perasaannya seperti terkhianati. Hatinya tercabik-cabik walau mungkin mereka hanya kenalan biasa. Dia juga tak menyangka Sumita akan membohonginya hanya karena ingin bermain dengan pria itu.
Padahal selama ini dia adalah pria yang paling dikenal Sumita. Hanya dia, pria yang pernah menyentuh Sumita. Hanya padanya Sumita pernah bermanja-manja.
Ya. Dia lah yang paling memperlakukan Sumita dengan baik selama ini. Tapi Sumita justru berdusta padanya.
“Ya. Kau lah yang menghianatiku.” Gumam Jaladi dengan penuh kekesalan.
-----------
“HAH!?”
Sumita terbangun dari tidurnya. Badannya gemetaran dan keringat dingin sebesar biji jeruk bercucuran di sekujur tubuhnya.
Sudah lama dia tak memimpikan masa lalu selain bersama Prala. Tak disangka, kejadian kemarin membuatnya terngiang kembali ke masa ratusan tahun lalu.
Mimpi yang baru saja dialaminya menyadarkannya, bahwa kesalahan terfatal dalam hidupnya dimulai dari dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
.