Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 4


__ADS_3

----- ABAD KE-13 MASEHI\, TUMAPEL -----


Seorang gadis berjalan tertatih di tengah hutan yang hangus tanpa arah. Rambutnya yang panjang terurai tak beraturan dan beberapa helai menutupi wajah cantiknya. Seluruh tubuhnya ternodai oleh arang hitam dan darah dari lukanya dan luka orang-orang lain yang senasib dengannya. Jarit warna coklatnya dia kenakan sekenanya saja asal dada sampai atas lututnya tertutup. Kakinya yang terus berjalan tanpa alas mengeluarkan darah lebih banyak dari bagian tubuh lainnya.


Dengan rasa sakit itu, dia terus berjalan. Dia hanya ingin keluar dari sana. Setidaknya dengan keluar dari sana dia bisa memastikan kalau sekarang dirinya aman.


Akan tetapi entah kenapa sepertinya hutan itu tak mempunyai ujung. Rasanya dia sudah berjalan berhari-hari tanpa istirahat, tetapi pemandangan di sekelilingnya tak juga berubah. Masih saja pepohononan dan rumput yang gosong  dan diselimuti abu.


Jujur saja dia sudah lelah. Berkali-kali dia jatuh, tetapi lalu dia bangkit lagi dan kembali berjalan.


Hingga di matanya terlihat sebuah rumah yang cukup ganjil.


Hanya rumah itu yang masih utuh tanpa lecet. Padahal sekelilingnya seperti habis diterpa bencana besar.


Rumah itu terbuat dari kayu dan beratapkan jerami. Di depannya terdapat kendi untuk menyimpan air minum atau untuk sekedar cuci tangan.


Karena rasa hausnya, gadis itu berjalan lebih cepat agar dapat minum dari sana. Dan setelah ada di depan kendi itu, dia langsung membuka tutup lubang yang ada di bagian bawah kendi dan meminum dari sana.


Dia meminum sebanyak banyaknya hingga tersedak.


“Uhuk! Huk!”


Tiba-tiba dari belakangnya, seseorang menepuk-nepuk pundaknya.


“Pelan-pelan, Nduk.”


Suara orang itu seperti seorang pria tua. Suara yang begitu lembut seperti suara kakek yang sangat menyayangi cucunya.


Gadis itu pun menengok ke arah pria tua itu.


Yang terlihat adalah seseorang yang sudah sangat sepuh. Tubuhnya bulat dan agak pendek sehingga tidak jelas, apakah dia seorang wanita atau laki-laki. Wajahnya pun demikian. Akan tetapi dari raut dan suaranya, gadis itu tahu kalau orang itu bukan orang jahat.


“Mo... mohon maaf, Mbah. Saya seenaknya minum tanpa izin di sini.” Gadis itu duduk bersimpuh sambil menyatukan telapak tangan di depan dadanya untuk memberi salam pada orang sepuh itu.


“Tidak apa-apa, Nduk. Mbah tahu kalau kamu sudah sangat lelah.”


Sesepuh itu mengangkat pundak gadis itu agar dia mau berdiri.


“Mari duduk dulu di gubuk reot Mbah dulu.”

__ADS_1


Gadis itu mengangguk. Dia tak menolak karena sudah benar-benar lelah setelah berjalan berhari-hari.


Gadis itu pun duduk di lempong di teras rumah kayu itu.


Mbah itu lalu mengambilkan air minum untuk gadis itu dengan wadah bambu.


“Sini minum lagi.” Kata Si Mbah sembari memberikan gelas.


“Terima kasih, Mbah.” Kata gadis itu, kemudian ia meminum air itu.


Setelah itu sesepuh itu memperkenalkan dirinya, “Panggil saja saya Mbah Sem. Biasanya dipanggil begitu.” Kata Mbah Sem.


“Nama saya Sumita, Mbah.” Sumita pun membalas perkenalan itu.


Sesepuh itu memperhatikan Sumita dengan mata nanar. Beliau seolah tahu apa yang telah terjadi pada gadis belia itu.


Diperhatikannya cincin emas bermata merah yang tersemat di ibu jari Sumita. Sekali lihat saja pasti tahu kalau cincin itu bukan cincin biasa. Dan dia mengenal baik siapa yang memiliki cincin itu sebelumnya.


“Jadi dia gadis pilihan anak itu.” gumam Mbah Sem lirih.


Meskipun lirih, ternyata Sumita mendengarnya.


Mbah Sem tersenyum, lalu menjawab.


“Itu ayah saya yang memberikannya kepada Sanjayawangsa dan pewarisnya agar kelak bisa menjaga anak cucu mereka.”


Sumita terbelalak mendengar nama itu.


“Sanjayawangsa. Maksud Mbah, wangsa (dinasti) yang memimpin negeri ini?” tanya Sumita tak percaya.


Mbah Sem mengangguk mengiyakan.


Sumita hanya tahu bahwa itu adalah cincin yang diwariskan oleh keluarga Prala, kekasihnya yang telah mati. Dia tidak tahu bahwa cincin itu adalah milik keluarga Keraton Singasari. Jadi, selama ini Prala menyembunyikan  identitasnya sebagai putera mahkota?


“Kamu harus segera mengembalikan cincin itu pada mereka.” Kata Mbah Sem.


“Tapi bagaimana? Saya sudah berusaha melepaskannya, tetapi cincin ini tidak mau lepas.”


Sumita memperlihatkan betapa kuatnya cincin itu tersemat di jarinya. Berkali-kali dia mencoba melepasnya dengan berbagai cara, tetap saja tak mau lepas.

__ADS_1


“Raja memberikannya pada putera dan puteri yang disayanginya serta putera dan puteri yang paling menyayanginya. Itulah yang harus kamu cari.” Nasihat beliau.


Kurang lebih Sumita paham apa yang Mbah Sem maksud. Tetapi, akankah dia menemukan orang yang bisa melepas cincin itu?


“Setelah ini, pergilah ke Singasari. Kejar dia. Atau kamu harus menunggu ratusan tahun lagi.” Lanjut Mbah Sem dengan nada agak menekan.


Ratusan tahun lagi? Bukankah saat itu aku sudah mati? Batin Sumita.


Seolah menjawab pertanyaan di hati Sumita, Mbah Sem kembali berkata, “Kamu bahkan bisa hidup sampai ribuan tahun selama cincin itu masih di tanganmu.”


Sumita hanya terdiam. Sebenarnya dia masih tidak ingin percaya dengan apa yang didengarnya. Tetapi, entah kenapa dia merasa orang tua ini tidak berbohong. Tentang asal usul cincin itu maupun tentang kekuatan yang ada di dalamnya.


“Mbah masih ada yang mau dikerjakan. Kamu istirahatlah dulu di sini. Silakan makan apa saja yang di meja sana.” Kata Mbah Sem sambil menunjuk ke meja yang entah sejak kapan sudah tertata makanan di sana.


Beliau pun kemudian beranjak dari sana dan pergi meninggalkan Sumita.


Sumita yang sangat kelaparan mengambil beberapa makanan di meja yang ditunjukkan Mbah Sem. Di sana ada apel, jambu, jeruk, dan buah-buahan lainnya. Saking laparnya, dia memakan buah-buahan itu dengan lahap sampai tak terasa hampir habis semua olehnya.


Karena kekenyangan, lama-lama dia merasa mengantuk. Ditambah angin yang semilir berhembus terasa sangat sejuk. Sumita pun akhirnya menyerah dan mengikuti rasa kantuknya dan tertidur di sana. Dia tertidur dengan lelap selama beberapa jam.


Saat membuka matanya, dia sudah tak berada di rumah itu lagi ataupun di hutan yang beberapa hari ini dia lalui. Dia berada di atas jurang yang mana dari sana bisa dilihatnya sebuah kota yang cukup besar.


“Mbah...” Sumita menengok ke sekelilingnya. Mungkin saja orang tua itu masih di dekatnya dan ternyata nihil.


Dari awal, kemunculan rumah itu di tengah hutan yang terbakar habis dan seorang sesepuh yang tinggal di sana sudah cukup aneh. Dan kini dia di daerah yang tak dia ketahui tanpa siapapun.


Sumita mengingat-ingat lagi nama sesepuh itu.


“Mbah Sem...”


Matanya terbelalak mengingat satu nama lagi yang memiliki awalan sama. Semar.


Dia yang mengayomi para pemimpin di tanah ini. Sosok yang disebut-sebut dekat dengan sang penguasa alam semesta. Mungkinkah itu dia? Apalagi sosok dan gambaran yang dibicarakan orang-orang mengenainya kurang lebih sama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2