
Siang ini adalah giliran Geo untuk menjaga ayahnya di rumah sakit. Biasanya dia baru bisa menjaga ayahnya di malam hari. Akan tetapi, hari ini dia sengaja mengambil pulang cepat dari pekerjaannya.
“Papa, Geo dateng.” Sapa Geo pada sang ayah yang tak memberikan jawaban apapun.
Sudah hampir setahun ini Asep terbaring koma di rumah sakit karena penyakit komplikasi. Semenjak keluar dari penjara, sekitar dua belas tahun yang lalu, Asep memang sudah sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit. Tetapi biasanya tidak sampai koma begini.
Hingga suatu hari, saat Asep akan sholat dengan Geo, tiba-tiba Asep ambruk dan jadi tidak sadarkan diri.
Menurut dokter, ayahnya masih ada kemungkinan sembuh. Akan tetapi jujur saja Geo dan Wina, ibunya, tak bisa terlalu berharap. Apa lagi kondisi perekonomian mereka cukup buruk.
Dulu saat Geo masih kecil, mereka bisa dibilang cukup kaya. Mereka bisa melakukan apa yang mereka mau.
Setelah tahu bahwa itu adalah uang hasil pesugihan dan Asep dipenjara, Wina tak mau lagi menggunakan uang itu. Jadi, dia harus banting tulang sendiri hingga Geo menjadi dewasa dan bisa menjaga diri. Selain itu, berita tentang Asep yang melakukan pesugihan juga menyebar di lingkungan tetangga. Sehingga keluarga mereka menjadi bahan perbincangan bahkan gunjingan hingga saat ini.
“Kenapa kita jadi begini sih, Pa?” Geo duduk dengan kursi di samping ayahnya.
“Dulu, kayaknya kita bahagia banget. Hiks...” Geo yang memegang tangan ayahnya mulai terisak.
Pria berusia 28 tahun itu menggenggam tangan sang ayah dengan kedua tangannya.
Dia memang yang paling sayang dengan ayahnya. Walaupun dulu sang ayah melakukan hal tak terpuji sekalipun, Geo tetap sayang padanya.
Baginya, ayah yang ada dalam kenangan masa kecilnya adalah yang terbaik.
Saat peristiwa naas itu terjadi, Geo dan Wina juga menyaksikan semuanya. Mereka juga tahu bagaimana Handi dan Lastri meninggal. Dia tahu bukan ayahnya yang membunuh orang tuanya sendiri.
Akan tetapi, apakah ada yang akan percaya jika mereka berkata bahwa Handi dan Lastri dibunuh oleh setan?
Apalagi Asep juga bersikukuh untuk menyerahkan diri dan mengaku bahwa dialah pelakunya.
Dan harapan satu-satunya adalah saksi yang lain. Ken, Sumita, dan Dono. Tetapi, setelah peristiwa itu mereka seolah lenyap entah kemana.
Baru tujuh tahun yang lalu Geo mengetahui keberadaan mereka melalui televisi. Ken yang menjadi penyanyi terkenal tak pernah absen dari televisi. Sementara Sumita adalah CEO dari perusahaan entertainment yang mengaungi Ken dan sejumlah artis populer lain.
Lalu, jika sudah seperti itu bisakah Geo mendekati mereka?
Saat Geo mengetahui keberadaan mereka, Asep sudah keluar dari penjara. Jadi, percuma saja meminta pembelaan mereka di pengadilan. Setidaknya, yang Geo inginkan adalah mereka bersedia untuk memperbaiki nama ayahnya. Dan mereka bisa hidup normal lagi tanpa cemoohan warga sekitar.
Jam menunjukkan pukul 13.12 saat tiba-tiba Asep kejang dan alat deteksi jantung di kamar itu berbunyi.
“Papa! Kenapa pa?!” seru Geo panik.
Segera Geo memencet tombol nurse call di dekat bed berkali-kali.
__ADS_1
Tak lama kemudian, petugas medis berdatangan ke kamar ICU itu dengan membawa segala alat yang diperlukan.
“Bapak silakan menunggu dulu di luar, ya. Nanti akan segera kami panggil.” Ujar seorang perawat pada Geo.
Walaupun masih panik, Geo menurut pada perawat itu dan menunggu di luar.
Diambilnya telepon seluler dari saku kemejanya. Dipencetnya panggilan cepat untuk memanggil Ibunya.
“Mamaaa!” seru Geo.
“Ada apa, Sayang?”
“Mamaaa cepet ke rumah sakit hiks... papa kejang-kejang... hiks.”
Geo tak bisa membendung tangisnya. Dia sangat takut terjadi apa-apa pada sang ayah.
“Ya, tuhan... Mama akan segera ke RS, Geo!” sang ibu ikut panik dari seberang telepon.
Dia segera menutup panggilan telepon.
Geo pun duduk di kursi tunggu. Kedua tangannya menyangga kepalanya yang menunduk. Dia sungguh kalut. Dia takut akan kehilangan orang tuanya.
Selama setahun koma, memang berkali-kali Ayahnya mengalami kejang. Tetapi, kali ini rasanya berbeda. Dia seolah-olah tahu bahwa ini tidak seperti sebelumnya yang bisa segera ditangani.
Geo menangis tersedu-sedu tanpa merasa malu akan ada yang melihatnya lemah seperti itu.
Terdengar suara lembut yang dia kenal entah dari mana.
“Papa?” ditegakkan kepalanya. Dia mencari ke segala sudut, untuk tahu dari mana suara itu berasal.
Suara itu pun semakin jelas di telinganya, “Papa minta tolong jaga mama kamu kalau papa pergi.”
“Gak, pa! Papa yang harus jagain mama! Papa pasti bakal bangun!” seru Geo sambil terus mencari-cari sumber suara itu.
“Tolong papa, ya.” Kata suara itu sekali lagi. Dan itu terakhir kalinya Geo mendengar suara itu.
“Papa?? Pa?? pa!?” Geo memanggil suara itu berkali-kali, tetapi tak ada yang membalas.
Selang beberapa lama, seorang perawat keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana papa saya, Bu?” tanya Geo pada perawat itu.
“Dok, bagaimana papa saya, Dok?” tanya Geo lagi setelah dokter penanggung jawab papanya keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Kami mohon kesabaran Bapak. Kami harus menyampaikan maaf, karena kami belum bisa menyelamatkan pak Asep. Kami mohon maaf sebesar-besarnya.” Jelas dokter itu.
Geo tak bisa berkata apapun. Pandangannya kabur. Kakinya lemas hingga dia terjatuh dengan posisi bersimpuh. Geo tahu sejak suara tadi mendatanginya, bahwa papanya tak lagi bisa bersamanya. Kehidupan normal yang dinantikannya selama belasan tahun tak akan pernah terjadi. Dan kini dia hanya bisa menangis.
.
.
.
Sore harinya, jenasah sudah selesai terurus dan dibawa ke rumah duka untuk didoakan.
Beberapa teman dan tetangga mulai berdatangan satu persatu. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Asep.
“Papa kamu itu sebenarnya orang baik. Hanya jalan hidupnya saja yang salah dulu.” Kata seorang tetangga yang sudah lama berteman dengan Asep kepada Geo.
“Terima kasih, Pak.” Sahut Geo pada pria separuh baya itu.
Pria itu menepuk-nepuk pundak Geo dengan lembut.
“Yang sabar, ya.”
Geo hanya bisa mengangguk pelan.
Tetangga yang lain juga mengucapkan kata-kata yang serupa di depan Geo. Hal itu sudah cukup membuat Geo senang, karena ternyata ada kenangan baik ayahnya di mata rekan-rekannya. Biarlah beberapa lainnya yang berbicara buruk di belakangnya. Yang terpenting, Geo tahu bahwa ada orang yang bersedia mendoakan ayahnya.
Di luar, sebuah mobil limusin keluaran terbaru berhenti di depan rumah duka. Dari mobil itu, keluar tiga orang berpakaian serba hitam. Seorang wanita cantik berambut panjang dan dua orang pria bertubuh jangkung.
Salah satu dari pria itu adalah orang yang cukup dikenal oleh orang-orang di tempat itu. Banyak yang tidak yakin dengan dugaan mereka hingga pria itu berjalan di dekat mereka.
“Wah, kok bisa Ken yang terkenal itu di sini?”
“Itu beneran Ken? Penyanyi itu kan?”
“Waw... aslinya ganteng banget!”
Suasana kelam di rumah duka tiba-tiba berubah ramai dengan kasak-kusuk dari para pelayat.
Geo yang menyadari itu pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan ekspresinya saat melihat tiga orang itu juga tak kalah kaget.
Orang yang dicarinya selama ini tiba-tiba muncul di rumahnya.
.
__ADS_1
.
.