Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 14


__ADS_3

Ken meminta Tio untuk ngebut. Sebelum tantenya melakukan lebih jauh, dia harus menemuinya lebih dulu.


Berdasarkan pengalaman, Sumita adalah orang yang bergerak sangat cepat dalam mengatasi masalah. Tetapi jika mengenai Ken, bukan hanya cepat, Sumita menyelesaikannya dengan cukup gegabah. Pada akhirnya Sumita akan merugikan dirinya sendiri.


Ken tahu bahwa Sumita tak ingin menyesal karena terlambat lagi seperti saat kejadian yang menimpanya dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja, Ken berharap Sumita mau menunggunya agar mereka bisa mengatasi masalah bersama sehingga tidak terjadi yang tidak diinginkan nantinya.


“Tadi Bapak saya bilang kalau Nyai dan Bapak sudah meluncur.” Kata Tio begitu mereka di dalam mobil.


“Kamu ada alamatnya kan?” tanya Ken.


“Ada, Mas.” Jawabnya.


Di dalam mobil, mereka berdua bersama sosok wanita tadi nampak gelisah. Terutama sosok wanita itu. Berdasarkan ceritanya, dia adalah kakak dari Sandi yang meninggal tahun lalu, beberapa minggu setelah Sandi dipecat.


“Nama saya Rina, kakak dari Sandi... maksud saya kakak dari pelaku teror kemarin.” Akunya saat masih di tempat parkir.


“Untuk apa kamu ke sini? Membantu adik kamu?” tanya Ken.


Rina menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Mana mungkin saya berani.”


Rina terdiam sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya, “Sa... saya sangat mengagumi Anda. Dan setelah mati, saya juga tahu siapa Anda. Jadi, mana mungkin saya berani.”


Ken masih memandang Rina dengan sinis. Dia tak bisa mempercayainya langsung.


Menurut cerita Rina, seorang rekan kerja Sandi mengetahui bahwa Sandi adalah fans berat Ken dan sampai menjadi admin website klub penggemar Ken. Rekannya itu sebenarnya sudah lama tak menyukai Sandi karena cemburu akan kesuksesannya. Padahal Sandi dan rekan kerjanya itu mulai kerja di hari yang sama dengan jalur

__ADS_1


yang sama.


Pada akhirnya orang-orang lain yang juga tak suka padanya ikut membully-nya. Mereka menyebarkan hobi dan beberapa postingan Sandi di internet pada grup divisi mereka di kantor. Tak hanya itu, dia juga menambahkan kalimat-kalimat negatif di captionnya seperti :


‘Sssst... manajer kita ternyata homo’


‘ya gustiii... tobat! Ternyata selera pak menejer yg gemulai gini’


‘Buset daaah... ini kayak om-om cari sugar baby. Tapi sugar babynya cowok. Wkwkwk’


Awalnya Sandi menganggapnya sebagai candaan biasa. Tetapi lama-lama ia merasa dilecehkan. Bagaimanapun dia termasuk yang memiliki power di perusahaannya saat itu. Dengan pengaruhnya di perusahaan, dia membuat orang yang menertawakannya untuk mengerjakan banyak tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Sandi sendiri dan berpura-pura kalau itu adalah tugas dari mereka. Mengetahui itu, mereka merasa tidak terima. Lalu akhirnya protes dan melaporkan tindakan Sandi tersebut pada HRD dan direktur. Selain itu, disampaikan pula hobi Sandi sehari-hari.


Sandi pun dipecat dari perusahaan itu karena banyaknya petisi yang menyatakan ketidakkompetenannya.


Tak disangka selama perundungan itu terjadi, energi negatif dari kantornya ikut terbawa pulang oleh Sandi. Hal itu membuat energi yang ada di rumah yang semula normal menjadi tidak seimbang.


Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu setelah kedua orang tua mereka meninggal. Sehingga untuk utusan sandang pangan biasanya mereka urus masing-masing.


Akan tetapi sebagai kakak, perbahan sikap Sandi membuatnya khawatir. Apalagi selama mengurung diri, Sandi jarang sekali makan.


Suatu ketika, Rina yang khawatir pun mengetuk pintu kamar Sandi untuk mengajaknya makan. Bukannya mengiyakan atau menolak baik-baik, Sandi justru berteriak tidak jelas. Hal itu terjadi hingga Sandi dipecat dari kantornya.


Sandi tak lagi sering mengurung diri di kamar, tetapi kegiatannya di luar rumah juga tak bisa dikatakan baik. Dia pergi dan pulang dengan waktu yang tak jelas dan membawa kameranya kemana-mana. Lalu saat kembali ke rumah, terkadang Rina mendengar suara aneh dan tidak jelas dari kamarnya.


Beberapa hari berlalu tanpa perubahan. Rina yang semakin sakit, akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Karena inilah perekonomian mereka semakin sulit. Padahal mereka berdua bergantung pada pekerjaan Rina. Karena ini pula, Sandi semakin menjadi-jadi. Dia jadi lebih sering marah-marah pada Rina yang dianggapnya tak berguna. Tentu saja Rina merasa sakit hati.

__ADS_1


Suatu hari, Rina tanpa sengaja melihat isi memori di kamera Sandi. Rina terkejut ternyata yang Sandi lakukan lebih buruk dari yang dipikirkannya. Dia melihat banyak foto Ken di sana. Bahkan ada beberapa foto Ken yang sedang ganti baju di ruang ganti. Ini membuat Rina curiga pada adiknya sendiri.


Hari berikutnya, Rina yang merasa lebih mendingan akhirnya mengikuti di belakang Sandi diam-diam. Ternyata kecurigaannya benar bahwa Sandi menguntit Ken. Untungnya dari pihak Ken sadar dan staf Ken pada saat itu langsung memberinya ultimatum agar Sandi tak mengunggah apapun tentang Ken. Bahkan pihak Ken memberitahu Rina kebenaran tersebut. Tapi apa yang bisa Rina perbuat, sedangkan kondisi tubuhnya juga tidak menentu. Mungkin dia bisa menegur Sandi saat dirasa kondisinya stabil, tetapi bagaimana jika dia sedang kambuh?


Dan hari itu pun datang. Hari saat Rina akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Dan saat itu pula Rina yang sudah menjadi roh mengetahui apa yang terjadi di rumahnya. Ratusan, bahkan ribuan mahluk aneh bertenger di sana tanpa sepengetahuannya. Mereka mempengaruhi Sandi dengan bisikan-bisikan keburukan dan membuatnya menjadi gelap mata.


Yang terburuk adalah setelah dia melihat Ken bermesraan dengan tantenya, Sumita. Dari sorot mata Ken saja Sandi sudah tahu ada sesuatu di antara mereka berdua. Dari awal, dia memang sudah tahu kalau Ken sangat mengagumi Sumita. Menurutnya dulu itu adalah hal yang imut. Tetapi, begitu melihatnya sendiri untuk pertama kali, hal yang dianggapnya imut menjadi menyebalkan.


Atas hasutan salah satu mahluk di rumahnya, akhirnya insiden teror kemarin terjadi. Dan pagi ini, foto-foto aneh tentang Ken menjadi viral.


“Anda harus menghentikannya. Saya mohon.” Kata Rina lagi memohon.


Ken melengos saja dari tempat itu. Tetapi hingga kini Rina masih mengikutinya di mobil. Bagi Ken tak masalah, toh memang saat ini dia bermaksud menyusul Sumita ke rumah Sandi dan Rina.


Sesampainya di sana, Sumita ternyata sudah mulai memberantas semua mahluk halus di depan gerbang yang sekiranya bukan penghuni asli rumah itu.


Dalam sebuah rumah, biasanya sudah ada penunggu tetap yang lebih lama menghuni. Jumlahnya kurang lebih hanya dua sampai empat kali jumlah manusia yang sedang atau pernah menghuni rumah itu. jadi, semakin tua rumahnya, semakin banyak mahluk halus yang menetap. Mereka hidup berdampingan dengan manusia yang juga menghuni rumah itu.


Tetapi sesuai dengan yang dikatakan Rina, di rumah mereka ada ribuan mahluk halus. Padahal rumah mereka tidak bisa disebut tua karena baru dibangun 20 tahun lalu. Dan rumah mereka juga tidak dibangun di atas tanah kuburan yang mana akan jauh lebih banyak lagi penghuninya.


Di depan gerbang yang sudah bersih itu, Dono yang mengawal Sumita masih berpikir mau masuk dengan sopan atau langsung terobos saja.


"Lama amat! Sini!" Karena tidak sabar, akhirnya dia memegang tombak dan siap untuk  menghancurkan gerbang itu. Hingga sebuah tangan memencet tombol bel.


“Ken?!” seru Sumita kaget.

__ADS_1


.


.


__ADS_2