Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 17


__ADS_3

Sungguh pemandangan yang indah. Kalau saat ini Sumita tak merasakan sakit dan gatal di seluruh tubuhnya, mungkin dia akan mengira bahwa saat ini dia sedang berada di nirwana.


Air terjun itu benar-benar ada. Air itu turun dari tebing yang tinggi dan di bawahnya sebuah danau yang airnya mengalir ke sungai kecil. Ini membuat Sumita bertanya-tanya dalam hati, “Sejak kapan ada danau di sini? Bukankan ini masih di dekat bibir hutan? Kenapa tidak ada yang tahu ada danau di sini?”


Sumita berjalan lebih dekat dengan danau. Setelah meminum air danau beberapa teguk, dicarinya wanita yang bernyanyi dengan merdu itu.


Begitu menengok dan melihat ke seluruh penjuru danau, akhirnya dia menemukan wanita itu. Dia begitu cantik dan menawan. Wanita itu berdiri di atas batu terbesar di sisi danau itu. Usianya mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih tua dari Sumita. Rambut hitamnya yang halus tergerai sepinggang dan gaun hijaunya berkibar bersamaan. Matanya yang tertuju pada danau itu nampak sedih. Bibirnya yang merona melantunkan lagu puji-pujian pada dewa seolah meminta pengampunan untuk seseorang.


Sumita pun memberanikan diri untuk mendekati wanita itu. Saat jarak mereka hanya terpaut lima langkah, wanita itu tiba-tiba berhenti. Dia menengok ke arah Sumita dengan tatapan kosong.


“Ma, maaf, saya tak bermaksud mengganggu.” Sumita segera berlutut di depan wanita itu.


Wanita bergaun hijau itu lalu turun dari batu dan menyentuh bahu Sumita lembut.


“Tidak apa-apa. Justru saya sebenarnya telah menunggu nisanak.” Ucap wanita itu membuat Sumita bingung. Apa maksudnya bahwa dia telah menunggunya?


“Bangunlah. Perkenalkan nama saya Kalya.” Lanjut wanita bernama Kalya itu.


Sumita pun terbangun dan memandang Kalya. Semakin dekat Sumita melihatnya, semakin terpesona dia kepada Kalya. Namanya sungguh mencerminkan rupanya. Tak heran jika Sumita berpikir bahwa Kalya adalah seorang dewi atau bidadari dari kahyangan.


“Nama saya Sumita.” Sumita juga memperkenalkan dirinya dengan malu-malu.


“Nisanak terlihat kesakitan dan lemah. Izinkan saya membantu nisanak.” Tawar Kalya.


“Tidak apa-apa. Saya tidak ingin merepotkan nisanak.” Tolak Sumita. Tetapi tubuhnya yang lemah tidak bersinergi dengan apa yang dikatakannya. Keseimbangan tubuhnya turun dan membuatnya jatuh.


Kalya tersenyum lalu mengangkat bahu Sumita yang penuh dengan nanah dan darah itu. Hati Sumita merasa tersentuh, karena Kalya sama sekali tak terlihat jijik dengannya. Berbeda dengan para warga desa tempat tinggalnya. Bahkan sebenarnya Sumita juga merasa jijik pada dirinya sendiri.


“Nanti tangan nisanak kotor kalau pegang saya.” Kata Sumita malu.


“Kalau kotor, ya tinggal dicuci. Di sini kan banyak air.” Sahut Kalya yang kemudian mendudukkan Sumita di atas batu.


“Tunggu sebentar.” Kata Kalya.


Kalya lalu pergi sebentar dan kembali dengan membawa beberapa buah-buahan di tangannya.


“Makanlah. Nisanak harus mengisi tenaga.” Kalya memberikan buah itu pada Sumita.

__ADS_1


“Terima kasih.”ucap Sumita.


Dimakannya satu persatu buah-buahan itu dengan lahap. Dia memang kelaparan. Bukan hanya karena lemas setelah mengalami penyiksaan fisik yang berat, tetapi juga karena dia jarang sekali makan dengan baik setelah ditinggal orang tuanya.


“Luka nisanak terlihat begitu menyakitkan. Mengapa tidak diobati?” tanya Kalya.


Sumita menelan kunyahan buah yang ada di mulutnya, lalu menjawab, “Saya sudah pernah berobat, tetapi tidak berhasil.”


Kalya mengelus kepala gadis berusia 15 tahun itu dengan lembut. Nampak rasa iba dari sorot mata perempuan itu.


“Selesaikanlah makanmu dulu.” Ucap Kalya sambil terus mengelus kepala Sumita lembut.


Selesai makan, Kalya mengantarkan Sumita ke dekat air terjun melalui tepi danau.


“Kemarilah.” Pinta Kalya.


Dengan ragu Sumita mendekati Kalya yang sudah menceburkan diri ke dalam danau yang ternyata tak terlalu dalam itu.


“Nisanak perlu sadar bahwa ini bukanlah dunia manusia.” Ucap Kalya.


“Tetapi tenanglah. Nisanak belum mati.” Ucap Kalya lagi.


“Ini adalah dunia para Dewa yang diturunkan dari langit. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.” Lanjut Kalya.


“Nisanak lihat batu itu?” jari Kalya menunjuk pada sebuah batu di samping air terjun.


Secara kasat mata, batu itu terlihat biasa saja. Selayaknya batu, warnanya abu-abu gelap dan berukuran sedang. Tetapi bagi mata Sumita yang cukup spesial, batu itu mengeluarkan sebuah aura yang mistik.


“Jika nisanak memutar batu itu, air terjun ini akan menurunkan air yang akan menyembuhkan luka nisanak. Memang perlahan, tapi yakinlah. Kurang dari satu purnama, kulit nisanak akan sembuh. Begitu juga luka-luka di tubuh nisanak.” Jelas Kalya meyakinkan.


Sumita tak merasa curiga. Setelah kebaikan yang diberikan Kalya padanya, dia yakin bahwa apa yang Kalya katakan adalah benar. Dia pun tak ragu-ragu untuk lebih mendekat pada batu itu.


Digesernya batu itu perlahan. Memang cukup berat, Sumita hanya bisa menggeser batu itu beberapa centi meter. Tetapi, ternyata itu sudah cukup membuat kecepatan laju air terjun itu berubah lambat. Lama-lama airnya menyusut dan berhenti.


Kalya memperlihatkan senyum terlebarnya.


“Ayo ke tepi dulu, Sumita!” ajak Kalya sambil menarik lengan Sumita.

__ADS_1


Tepat setelah mereka berdua sampai di tepi, air kembali turun dengan deras dari atas tebing itu. Saking derasnya, jika Kalya tak memeganginya, Sumita mungkin akan terbawa arus air terjun itu.


Dari air terjun itu, tercium aroma lain yang tak ada sebelum Sumita menggeser batu itu. Aroma bunga anggrek. Aroma itu semerbak hingga seluruh hutan. Awalnya memang memekik hidung, namun lama-lama aromanya menipis.


Begitu air di danau itu stabil, Kalya berlutut menghadap air terjun itu. Matanya sangat berbinar-binar seolah apa yang dia nantikan akhirnya datang.


“Terima kasih, Dewa! Terima kasih telah mengabulkan permintaan hamba.” Ujarnya.


Sumita hanya memperhatikannya dengan heran.


Kalya lalu kembali berdiri dan memegang tangan Sumita. Kali ini dia berterima kasih padanya, “Terima kasih, Sumita. Berkat kau, air di danau ini kembali menjadi semula.”


Sumita tidak tahu apa yang telah dia perbuat, tetapi dia ikut senang karena sepertinya dia telah membantu seseorang yang kesulitan.


“Nah, Sumita. Sekarang berendamlah di danau ini dan sepenuh hati berdoalah pada dewa agar Sumita dibebaskan dari sakit. Ayo!” Kalya mengarahkan Sumita.


Perlahan Sumita kembali masuk ke danau. Dia mencelupkan seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut di danau itu. Rasanya cukup gatal, padahal tubuhnya sendiri sudah gatal sebelumnya. Tetapi, Sumita meneruskannya.


Sumita berendam di danau itu sambil terus berdoa seperti yang disarankan oleh Kalya. Hingga seminggu kemudian, secara ajaib rasa gatal itu menghilang dibarengi dengan keadaan kulitnya yang membaik.


Ternyata benar apa kata Kalya. Air di danau itu memiliki fungsi untuk menyembuhkan penyakit yang dia derita. Ini sebuah keajaiban. Padahal selama ini Sumita telah berobat ke puluhan tabib dan dukun, tetapi tak ada yang berhasil menyembuhkannya.


Sejak hari dia dibuang ke hutan, Sumita tidak pernah sekalipun pulang ke desanya. Toh tidak ada lagi yang menunggunya di sana. Lagi pula kalau kembali ke desa, mungkin para warga akan menghajarnya lagi. Sehingga, dia memutuskan untuk tinggal di hutan itu walaupun hanya beratapkan pepohonan yang rindang dan beralaskan tanah.


Pada hari ke lima belas Sumita berendam di danau itu, seseorang mendatanginya. Seharusnya hari ini Kalya tidak ada di sana, karena Kalya bilang akan keluar hutan untuk ke kota selama setengah hari. Tetapi Sumita yakin ada seseorang di dekatnya.


“Hay, Cantik.”


Seorang pria berperawakan tinggi dengan pakaian serba putih tiba-tiba menyapa Sumita. Dia berdiri tepat di samping Sumita sambil menyandarkan bahunya di dinding tebing. Sumita yang saat itu tak memakai kain sehelaipun seketika berteriak kencang,


“AAAAAAAAAAAKKKK!!!”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2