
Sumita berusaha mengatur napasnya. Ia begituterengah-engah karena terburu-buru. Persiapan yang harus dilakukannya cukup banyak. Saat ini dia sungguh menyesal karena tidak membawa senjatanya saat itu juga. Seharusnya dia terus membawanya agar bisa digunakan kapanpun dibutuhkan.
Dia bukanlah manusia ajaib yang bisa melakukan banyak hal. Memang Sumita berumur sedikit lebih panjang dan lebih kuat dari manusia yang lain. Tetapi selain itu dia hanyalah manusia. Dia harus berlari dan membutuhkan waktu untuk bersiap-siap.
“Kulenyapkan kau, JIN!!” bentaknya.
Sumita berlari sekencang yang ia bisa sambil bersiap untuk mengayunkan tombaknya.
Begitu jaraknya tak terlalu jauh dari sasarannya, dia menancapkan tombak itu untuk dijadikan tumpuan. Sumita kemudian melompat ke arah jin itu dan menendang jin itu dengan tenaga dalamnya. Serangan pertama itu berhasil membuat jin itu tersungkur, tetapi sepertinya mahluk bengis itu belum menyerah.
Sebelum jin itu berdiri, Sumita memberi perintah,”Don! Bawa Ken dan yang lain menghindar!”
“Baik, Nyai!” sahut Dono tegas.
Lalu dengan sigap Dono menggendong Ken yang masih terikat dan menarik lengan Asep. Dono membawa mereka ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.
Jin itu masih berusaha berdiri ketika Sumita sudah siap dengan serangan berikutnya.
Dengan tombak yang sudah diberi aji aji yang ada di tangannya, Sumita menyerang bagian kepala jin itu berkali-kali. Berkat tusukan itu darah hitam terciprat hingga berceceran di mana-mana. Tusukan dari tombak Sumita itu ternyata cukup ampuh untuk melukai jin raksasa itu.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGHHHH!!!” jerit jin itu.
“GRAAAAAHHHHHHHHHH!!” dari raungannya, siapapun tahu kalau lukanya cukup menyakitkan.
Jin itu lalu mengeluarkan asap gelap dari tubuhnya. Sumita yang tidak ingin terkena asap itu segera menghindar dari sana. Untungnya dia sigap. Terlambat sedikit saja bisa membuatnya melepuh. Berdasarkan ciri-cirinya, dia adalah iblis asap yang merupakan racun.
“Beraninya kalian manusiaaaaaaaaaaa!!!!” amuk jin itu.
Kini dia berdiri dan bersiap mengeluarkan serangan balasannya. Dari mulut jin itu keluar asap yang tak kalah menjijikannya. Sepertinya jin itu mengumpulkan kekuatannya ke sana dan akan menembakkannya pada Sumita.
Tetapi, sebelum bola asap menjijikan itu semakin membesar, Sumita langsung melancarkan aji-ajinya, lalu melemparkan tombaknya menuju mulut jin itu sekuat tenaga.
Lemparannya itu tepat masuk menembus mulut jin itu hingga ke belakang kepalanya dan jin itu pun kembali tumbang.
Sambil lari mendekati jin yang sudah tumbang itu, Sumita mengeluarkan sebuah botol kaca dengan tutup yang terbuat dari dahan kayu pohon jati berusia ratusan tahun.
“AAAAAAAAAGGGGHHH!!!!!” jin itu kembali meraung-raung kesakitan.
Dengan sekuat tenaga Sumita menginjak leher jin itu. dan sekali lagi jin itu meraung. Kelihatannya itu adalah titik vital jin itu.
“Ini adalah balasan untuk membunuh orang yang sedang ku jaga.” Sumita menatap tajam jin itu.
__ADS_1
Jin itu akhirnya tahu siapa yang sedang dihadapinya saat ini.
“HUHI...dAaaaaa!!” ucapannya kini terbata-bata karena mulutnya yang tak lagi sempurna.
Dari raut jin itu dapat terlihat betapa menyesalnya dia telah berurusan dengan Sumita. Bangsa jin tahu jika berurusan dengan manusia ini, mereka tak akan bisa berkutik. Dia begitu gemetaran saat mata Sumita yang menatapnya berubah keemasan. Itu adalah ajian yang dapat mengikat jin sehingga mereka tak bisa bergerak.
“Sa-yo-na-ra.” Ucap Sumita sebelum dia buka tutup botol yang ada di tangannya.
Dalam sekejab jin itu tersedot ke dalam botol itu. Sumita pun menutup botol itu kembali dan pertarungan hari itu pun selesai.
Dengan berat Sumita menghelakan napasnya.
Pemandangan di sekelilingnya benar-benar tak sedap dipandang. Gara gara seekor jin pesugihan, rumah itu hampir tak memiliki genting sekarang. Beruntung tetangga mereka cukup jauh, sehingga keributan ini tak merambah kemana-mana.
Sumita lalu mendekati dua jenasah yang belum terurus sejak tadi.
Bagaimanapun dua orang itu adalah orang yang berjasa baginya.
Dia duduk bersimpuh di sana. Sumita sungguh menyesali kejadian malam ini. Seandainya dia tidak terlambat, Lastri dan Handi mungkin masih hidup saat ini. Dia ingin sekali menangis, akan tetapi air matanya sudah lama mengering. Sumita hanya bisa memandangi jasad-jasad itu.
“Tidak apa-apa, Nyai.”
“Kami senang karena setidaknya kami sedikit menghalau cucu kesayangan kami dari kematian yang lebih cepat.” Kata cahaya itu.
“Berdirilah, Nyai.” Menuruti perkataan cahaya itu, Sumita pun berdiri.
“Sekarang, kami akan benar-benar menyerahkan Ken kepada Nyai.”
Sumita tertawa sinis mendengar kalimat itu, “Bukannya dulu kalian yang bilang tidak percaya pada saya?”
“Hahaha, Nyai masih saja mengingat kebodohan kami.”
“Iya, Nyai. Kami memang berkata demikian. Tetapi, sekarang kami tahu kalau semua kata-kata Nyai saat Ken baru lahir memang benar adanya.”
Memang sesaat setelah Ratmi meninggal, Sumita mendatangi mereka untuk membawa Ken bersamanya. Akan tetapi karena merasa lebih berkewajiban, ayah dan ibu Ratmi sepenuh hati menolaknya.
“Kami seharusnya mendengarkan kata-kata Nyai saat itu. Kami mohon maaf karena tidak percaya.”
“Nyai sudah menyelamatkan cucu kami. Kami sangat berterima kasih.”
“Nyai. Sekarang kami harus pergi. Kami mohon pamit.”
__ADS_1
Sumita menganggukkan kepalanya.
“Hati-hatilah. Saya akan mendoakan kalian. Terima kasih selama ini telah menjaga Ken dengan baik.” Jawab Sumita.
“Baik, Nyai.” Kata dua cahaya itu bersamaan.
Kemudian cahaya itu terbang ke langit dengan diiringi oleh sebuah cahaya lain yang berwarna putih.
“Semoga aku bisa cepat menyusul kalian.” Gumam Sumita sambil terus memandangi tiga cahaya yang semakin lama terlihat semakin menghilang.
.
.
.
Sudah dua puluh tahun sejak tragedi itu terjadi. Ken kini tinggal bersama Sumita dan dua orang tua angkatnya.
Sumita sudah merencanakannya dengan baik sejak tragedi dua puluh tahun yang lalu. Dia meminta tolong pada dua suami-istri yang merupakan anak buahnya untuk mengadopsi Ken. Kemudian dirinya sendiri mengaku sebagai adik dari ayah kandung Ken pada orang-orang di sekeliling mereka agar dia bisa bebas bergerak di samping Ken.
Hari-hari mereka cukup nyaman. Hidup berkecukupan cenderung melimpah dan keluarga yang harmonis tanpa ada pertengkaran yang berarti. Siapa yang akan menyangkal kehidupan bahagia mereka saat ini.
Hanya satu yang Sumita resahkan. Hari yang dia nantikan tak kunjung datang, padahal Ken sudah sebesar ini.
“Apa yang salah, ya?” gumam Sumita.
Ken yang duduk di sofa seberangnya terheran-heran dengan pertanyaan tantenya itu.
“Tante ada masalah?” tanyannya.
Sumita yang tersadar dari lamunannya menatap Ken. Ken pun bangun dan mendekatkan diri untuk duduk di samping Sumita. Dia membalas tatapan Sumita padanya.
“Ken.” Panggil Sumita.
“Iya?” Ken menyahut sambil tersenyum.
Mereka saling menatap satu sama lain tanpa ada yang mau berpaling. Mereka terus diam hingga Sumita bertanya, “Ken, kamu mencintaiku?”
Ken semakin menyunggingkan bibirnya. Dia pikir Sumita mau bertanya apa sampai seserius itu. Ken pun menjawab, “I Love You.”
----------
__ADS_1