Mau Edit Dulu

Mau Edit Dulu
Episode 8


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah duka, sekat di dalam mobil terus tertutup. Tio yang sudah beberapa kali mengalami kejadian ini sudah tidak aneh dengan kelakuan dua majikannya.


Piktor alias pikiran kotor? Ya jelas tidak.


Orang biasanya setelah itu biasanya majikan laki-lakinya mencak-mencak tidak karuan. Biasanya Ken akan minta diantarkan ke ring tinju, game center, atau tempat karaoke. Lalu setelahnya dia nangis-nangis tidak jelas. Jadi, bisa dipastikan yang mereka lakukan di belakangnya bukan hal jorok yang biasanya dilakukan pasangan mesum.


Begitu mereka sampai di rumah duka dan turun dari mobil, semua mata tertuju pada mereka.


Di negara ini, siapa juga yang tidak tahu Ken sang penyanyi terkenal yang melejitkan banyak album dan single.


Dari kasak-kusuk yang mereka dengar secara lirih di tempat itu, banyak yang bingung kenapa orang sekelas Ken datang ke rumah ini. Apalagi letaknya bukan di kawasan elit.


Rumah Asep, Wina, dan Geo ini terletak di sebuah perumahan sederhana di pinggir kota. Jadi, jangan bayangkan kehidupan sehari-hari yang serba mewah. Sebelah rumah mereka adalah sekolah PAUD yang bangunannya sudah agak lusuh. Dan di depannya adalah satu-satunya bangunan mewah di tempat itu. Sebuah masjid berlantai dua dengan satu menara.


Geo menemui mereka dengan agak canggung. Sudah sewajarnya, karena ini adalah pertemuan pertama mereka setelah dua puluh tahun berlalu.


“Lama tidak bertemu, Kak.” Ken menyapa Geo terlebih dahulu.


Geo hanya menanggapinya dengan senyum.


“Silakan duduk dulu. Atau mau...” Geo bermaksud menawarkan Ken untuk menemui jasad ayahnya untuk terakhir kali, tetapi ia urungkan.


Geo tahu bahwa dalam peristiwa dulu, bukan hanya Geo yang merasa kehilangan. Apalagi ayahnya pernah hampir membunuh Ken saat masih kecil.


Tetapi tanpa mempedulikan kecanggungan Geo, Ken langsung menuju peti mati tempat jasad pamannya berada.


Ken menghela napas panjang. Roh yang ditemuinya tadi dan yang ada di depannya terlihat cukup berbeda. Paman yang bertemu dengannya tadi terlihat lebih muda. Hampir sama seperti saat pertama kali mereka bertemu dua puluh tahun lalu. Sedangkan yang ada di depannya tampak lebih kisut dan kurus.


“Pasti paman masih selalu memikirkan kejadian itu.” gumam Ken lirih.


Sementara Ken menemui jasad pamannya dan berdoa, Sumita terus berkeliling ruangan seolah sedang mencari sesuatu.


Tingkah Sumita yang aneh itu mengundang perhatian Geo. Ini adalah rumah duka, kenapa wanita itu justru mondar-mandir? Pikir Geo.


“Tunggu, bukannya dia itu...” Geo tiba-tiba teringat sesuatu.


Saat peristiwa itu terjadi, Geo memang masih kecil. Tetapi bagi anak berusia 8 tahun, tentu saja itu adalah hal yang bisa diingat dengan mudah.


Geo yakin bahwa Sumita adalah wanita yang saat itu muncul.


Tetapi, dengan penampilan yang kurang lebih masih sama seperti dulu, tentu saja itu mengbuat Geo heran. Wanita itu masih tetap terlihat muda meski dua puluh tahun sudah berlalu. Ibunya saja sudah banyak keriput.


“Kamar kecil sebelah mana ya?” sapaan Sumita membuat Geo kaget.


Wanita itu kini berdiri di depan Geo. Tingginya hanya sebatas pundaknya. Artinya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek untuk ukuran perempuan. Karena Geo sendiri berbadan cukup tinggi.


“Mas, saya tau kalau saya cantik. Tapi kalau bengong begitu, ntar kelilipan gorila loh.” Kata Sumita dengan ketus sambil memainkan kukunya.

__ADS_1


“Eh, iya, Mbak. Maaf. Mari lewat sini.”


Geo lalu menunjukkan kamar kecil di rumah itu.


“Di sini, Mbak.”


Karena sepertinya Sumita tak bermaksud untuk berterima kasih, Geo langsung saja meninggalkannya di sana.


Sumita masuk ke kamar kecil berukuran 2 x 2 meter itu, lalu menguncinya dari dalam. Didudukinya kloset duduk berwarna biru muda yang sudah ditutup terlebih dahulu.


“Haa... berisik banget dari tadi.” Keluh Sumita sambil mengorek-korek telinganya.


Dia merogoh isi tas hitam kecil yang sedari tadi dibawanya. Terdapat dua botol bening berukuran sekitar 50 ml. dirogohnya sekali lagi di sekat yang lain. Tapi ternyata nihil.


“Ternyata aku cuma bawa dua botol. Kalau begitu, sepertinya hari ini kalian akan langsung diterbangkan ke neraka.” Ancam Sumita.


Seekor mahluk berbentuk kadal lalu melompat dari dalam bak mandi dan duduk bersimpuh di depan Sumita. Dia lalu berkata sambil bersujud, “Maafkan kami, Nyai!”


Beberapa mahluk halus lainnya kemudian mengikuti mahluk yang sering muncul di air itu. Kini telinga Sumita mulai tenang.


Sedari tadi banyak sekali mahluk yang berisik di sekitarnya, baik itu manusia ataupun yang tak nampak. Yang manusia sih cuma bisik-bisik, jadi masih mending. Tapi yang astral, aduh...


Padahal biasanya kalau sedang bersama Ken, hampir tak ada mahluk halus yang mendekati merek. Pikir Sumita, mungkin karena hari ini ada yang meninggal di rumah ini.


Di dalam kamar kecil itu, ada sekitar empat puluh mahluk halus yang kini bersimpuh di hadapannya. Mereka segera terdiam begitu mendengar ancaman Sumita.


yang memiliki cincin Candra Kirana, pusaka Wangsa Sanjaya yang hilang ratusan tahun lalu.


“Lama tak berjumpa, Nyai.” Salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk menyapa Sumita.


“Kita pernah ketemu?” tanya Sumita.


Dia bukannya sengaja atau pura-pura tak kenal mahluk berkepala ikan dengan badan manusia itu. tetapi, saking banyaknya mahluk serupa, Sumita jadi benar-benar tak ingat siapa saja yang dia temui.


“Sekitar dua ratus tahun yang lalu, Nyai.” Jawabnya.


Sumita memutar bola matanya. Siapa pula yang bisa ingat pertemuan dua ratus tahun yang lalu? Memangnya mahluk itu se-spesial apa?


Menanggapi mahluk itu, Sumita hanya mantuk-mantuk


“Ya sudah. Aku cuma mau tanya.”


Begitu Sumita mengungkapkan maksudnya, beberapa mahluk langsung merasa lega dan langsung siap sedia mendengarkan kelanjutannya.


“Kemana Qorin pria itu? Aku mencarinya dari tadi, tapi baunya saja tidak ada.”


Semua mahluk ghaib di ruang itu saling memandangi satu sama lain dengan tatapan penuh tanya. Lama-lama mereka berdiskusi, tetapi kelihatannya memang tidak ada yang tahu.

__ADS_1


“Nu... nuwun sewu, Nyai. Kami tidak tahu. Kami sendiri bingung, karena raga Pak Asep pulang tanpa Qorinnya.” Jawab mahluk berkepala ikan tadi. Kelihatannya dia adalah pimpinan di rumah ini, karena hanya dia yang berani menjawab Sumita.


Qorin adalah jin yang mengikuti seorang manusia sejak lahir hingga mati. Biasanya Qorin inilah yang  memperlihatkan diri pada orang lain ketika manusia yang diikutinya sudah meninggal. Dia akan menyerupai manusia yang diikutinya, sehingga orang mengira roh manusia itu lah yang bergentayangan.


Mungkin akan baik jika Qorin ini memperlihatkan diri agar manusia lain mendoakan roh manusia yang diikutinya dulu. Tetapi, ada juga yang memperlihatkan dirinya untuk menghasut manusia lain. Atau bahkan menakut-nakutin orang yang dulu dibenci oleh manusia yang dia ikuti.


Inilah yang dikhawatirkan Sumita. Apalagi jika manusia yang diikutinya seperti Asep. Dulu dia pernah bersekutu dan menyembah jin. Bagaimana kalau Jin Qorinnya masih terikat dengan asal usul jin pesugihan itu?


“Dasar gak guna!” bentaknya.


Mendengar bentakan Sumita, semua mahluk di kamar itu kembali gemetaran.


Sumita lalu berdiri dan membuka pintu kamar kecil itu untuk keluar. Akan tetapi sebelum keluar, mahluk berkepala ikan itu berkata, “Kami akan berjaga-jaga jika Qorin itu datang, Nyai.”


“Terserah.” Tanggap Sumita ketus.


Dia lalu keluar dari kamar mandi itu untuk bertemu dengan Ken yang masih bersama dengan jasad pamannya.


Ditepuknya pundak Ken dari belakang, lalu berkata, “Sayang, kita langsung pulang, ya.”


Mendengar panggilan ‘sayang’ dari tantenya, Ken langsung mengangguk dengan semangat.


“Kak Geo, Tante Wina, kami pulang dulu. Maaf kami tidak bisa berlama-lama.” Ijin Ken pada dua orang di sampingnya.


“Terima kasih, Ken, sudah mau ke sini.” Ucap Wina.


Mereka lalu bersalaman dan meninggalkan rumah itu.


Sumita merangkul lengan Ken menuju mobil mereka. Karena inilah lagi-lagi kasak-kusuk terdengar obrolan tentang Sumita dan Ken.


“Dia pacarnya?”


“Bukan ah!”


“Tapi mesra begitu.”


Dst...


Kasak kusuk itu juga terdengar dari para penghuni kamar mandi rumah itu. Semua mahluk di sana setuju kalau mereka tak akan mengusik Sumita dan Ken. Terutama Ken, mereka harus berbuat baik atau setidaknya menghindar darinya.


Padahal sikapnya pada mereka tadi sangat kasar dan tidak sopan. Tapi begitu dengan Ken, Sumita nampak seperti orang lain.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2