Melewatkanmu

Melewatkanmu
Prolog


__ADS_3

Jakarta, 2015


Malam ini, cuaca sangat buruk bahkan perkiraan cuaca melesat sangat jauh. Hujan turun sangat lebat disertai guntur dan kilatan petir yang seolah membelah langit. Malam ini seolah menggambarkan isi hati Elena yang kacau. Bagaimana tidak keluarga yang awalnya menyetujui hubungannya dengan Dava tiba-tiba berubah hanya karena pendapat tidak masuk akal dari sang kakek.


“ Elena, PUTUSKAN HUBUNGANMU DENGAN DAVA” ucap kakek tegas


Mendengar hal itu, Elena hanya bisa memelototkan mata tidak percaya. Situasi apa yang tengah terjadi sehingga tiba-tiba kakeknya mengucapkan kalimat itu dengan keras hingga jantung Elena berdegup tak menentu.


Hingga tangan lain menyentuh pundak Elena membuat Elena kaget tetapi mampu menenangkannya. Tangan itu begitu lembut dan menghangatkan meskipun memang tak lagi halus karena kerutan yang mulai nampak di kulit cantiknya. Tetapi tetap saja, tangan itu adalah obat bagi Elena, dan bahu rapuhnya adalah tempat ternyaman bagi Elena menumpahkan segala perasaannya. Dia adalah mami Elena, Elena sangat dekat dengan maminya. Bagi Elena mami adalah temannya, sahabatnya dan ibu yang luar biasa.


“Elena, dengarkan mami. Mami sangat menyayangi kamu, mami juga sayang dan menyukai Dava seperti anak mami sendiri. Dava anak yang baik, sopan, bertanggung jawab dan juga tampan. Tapi sayang, mami juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamu ataupan Dava” kata mami Elena dengan suara lirih dan berusaha menenangkan putrinya.


“Tapi mi, mami sendiri yang kemarin membela Elena bahkan meyakinkan Elena bahwa Dava adalah yang terbaik yang bisa mengerti dan memahami Elena. Kenapa mi? kenapa sekarang mami berubah? Apa yang terjadi? Hal buruk apa maksud mami? ” ucap Elena tidak mengerti dengan keadaan ini.


Mami Elena hanya bisa memeluk Elena dengan kuat, pelukan itu membuat air mata Elena pecah dan terisak di bahu sang mami.


“Kenapa mi, jawab Elena? Kenapa? Hiks hiks hiks “ ucap Elina sambil melepaskan pelukan maminya.


Mami Elena hanya bisa menunduk dan kemudian menatap wajah sang kakek. Elena sungguh dibuat tak mengerti dengan keadaan ini. Ia kemudian berlari kearah sang papi yang sedari tadi hanya duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“ Papi, hiks hiks hiks....... Papi lihat Elena, Papi tahu bukan apa yang terjadi? Papi bilang tangis Elena adalah neraka bagi Papi, apa sekarang dunia Papi sudah runtuh? Aa ...apa paaa pi ? Elena perlu jawaban hiks hiks hiks.....” ucap Elena bersimpuh di kaki papinya.


“Sayang, jangan seperti ini. Bahkan Papi tidak bisa melihatmu seperti ini” Ucap Papi Elena sambil menutup wajahnya dengan tangan yang ditumpukan pada pahanya.


Mendengar jawaban sang Papi justru Elena Semakin menangis tak karuan, ia tidak bisa memahami apa yang terjadi. Ia tidak menemukan jawaban yang bisa membantunya memahami situasi ini, ia kemudian bangun dan melihat sang kakek yang tengah berdiri dan menatapnya tajam. Tatapan itu bukan tatapan sayang yang selalu kakek tunjukkan pada Elena melainkan tatapan membunuh dan seolah meminta seseorang yang melihatnya untuk tunduk dan melakukan apa yang dia perintahkan tanpa menuntut alasan. Elena sangat paham akan makna tatapan itu, rasa takut akan tatapan itu sama besarnya dengan rasa ingin tahu dan kecewanya Elena terhadap sang kakek sehingga Elena tetap beranjak dan berdiri di depan kakeknya dengan sorot mata yang tak kalah mengintimidasi.


“Kakek, aku tidak mau melupakan bahwa yang berdiri di hadapanku saat ini adalah KAKEKKU” ucap Elena sambil membersihkan air matanya dengan tangannya kemudian mengatupkan tangannya seolah memohon kepada sang kakek, dengan sesenggukan Elena melanjutkan ucapannya,


“seseorang yang sangat aku banggakan dan aku hormati selama ini Kakek, jika ada yang salah maka katakan biar aku berusaha membenahinya. Tapi jangan paksa aku dalam situasi ini, aku bahkan tidak bisa memahami hal ini” Elena masih berusaha memohon dengan tangan yang bergetar.


“ELENA KAMU CUCUKU, JANGAN BERTINDAK BODOH DAN LAKUKAN SAJA. CEPAT PUTUSKAN HUBUNGANMU DENGAN DAVA” Kake Elena sangat tegas dan tidak terpengaruh oleh kondisi cucunya yang sangat menyedihkan itu.


Mendengar teriakkan sang kakek, Elena justru semakin tidak percaya dengan situasi yang terjadi. Bagaimana bisa kakeknya dengan sangat lantang mengucapkan hal yang semakin membuat emosi Elena tak tertahankan. Sedangkan Mami dan Papi Elena yang melihat dan mendengar itu tidak percaya situasinya semakin tak terkendali. Mami Elena segera merangkul Elena dan mengelus pundak Elena untuk menenangkan putrinya yang mulai tersulut emosinya. Ia takut putrinya tidak bisa mengendalikan emosinya dan justru berdampak buruk.


Elena tidak menghiraukan Maminya yang terus mengelus pundaknya danmengatakan “Sudah sayang, jangan seperti ini”


Tanpa sadar tatapan Elena berubah menjadi raut kebencian dan menuntut pada sang Kakek, mereka beradu tatap cukup lama, tetapi tatapan sang kakek tak kalah mengerikan dengan Elena. Setelah cukup lama beradu tatap dengan sang kakek, Elena akhirnya kembali membuka mulutnya


“Baik, AKU ELENA PUTRI RAHARJA TIDAK AKAN MEMUTUSKAN HUBUNGANKU DENGAN DAVA MAHENDRA BAGASKARA” ucap Elena penuh ketegasan dan kemudian memilih pergi ke kamarnya.


Tetapi, saat menapaki tangga menuju kamarnya, teriakkan Mami dan Papinya membuat Elena berbalik dan bergegas kembali turun


“ AYAHH” ucap Mami Elena sambil berlari menuju kakek


“AYAH, kau kenapa?” ucap Papi Elena yang khawatir dengan kondisi ayah mertuanya


Melihat kakeknya terkulai lemas sambil memegang dada sebelah kirinya membuat Elena kembali meneteskan air matanya. Rasa bersalah tentu saja hinggap di hati Elena yang tanpa sadar ia meluapkan amarahnya kepada sang kakek yang selalu ia banggakan itu.


“Apa yang terjadi Papi, bagaimana ini.? Kakek, kakek dengar aku, bangunlah kakek maafkan Elena ” ucap Elena khawatir dan memegang tangan kakeknya.


“Pak Kardi, SEGERA SIAPKAN MOBIL KITA KERUMAH SAKIT” panggil Papi Elena pada sopir keluarga sambil memapah Kakek keluar rumah dan diikuti Elena yang merangkul maminya.


Didalam mobil pikiran Elena sangat terganggu karna bagaimanapun kondisi kakek Elena menjadi seperti ini karena Elena.

__ADS_1


“Bagaimana bisa aku hilang kendali dan menyebabkan kakek seperti ini, kakek maafkan aku, aku sungguh tak berniat melukai ataupun menyakiti kakek. Aku sangat menyayangi kakek, tapi situasi tadi benar-benar diluar kendali ku” guman Elena dalam hati


****


Sesampainya di Rumah Sakit, Elena masih terus meneteskan air matanya. Papi Elena merangkul Elena dan memberi kekuatan untuk Elena. Sedangkan mami Elena terus mondar mandir di depan UGD.


“Elena, jangan salahkan dirimu seperti ini. Kamu harus kuat untuk Mami” ucap Papi Elena sambil merangkul putri satu-satunya.


1 jam berlalu


“Bagaimana Dokter?” ucap Mami Elena dengan tubuh yang masih gemetar dan langsung mendekati dokter yang menangani kakek Elena


“Saat ini, kondisi kakek sangat lemah. Kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk itu, kami menyarankan agar kakek tetap dirawat disini sampai keadaannya benar-benar stabil. Beruntung anda cepat membawanya kemari, karena telat sedikitpun mungkin akan fatal” ucap dokter


“Baik dokter, terimakasih” ucap Papi Elena, dokter hanya mengangguk dan kemudian pergi.


Mendengar penjelasan dokter akan kondisi kakeknya membuat Elena semakin hancur, ia benar-benar merasa bersalah karena hal ini. Bahkan jika tidak segera ditangani tadi mungkin saat ini Elena akan menjadi seseorang dengan predikat pembunuh. Elena terduduk lemas di lantai dan menangis, hatinya memaki dan merutuki kebodohan dirinya karena emosinya yang tak terkendali. Melihat keadaan putrinya, hati mami Elena sangat sakit, ia tahu saat ini hati putrinya sedang berkecamuk, Elena seperti dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia harus melepaskan cintanya atau mengorbankan kakeknya.


“Sayang, Putri Mami” panggil mami Elena, menyadarkan Elena


“Mami, hiks hiks hiks, maafkan aku mami, aku tidak ingin kehilangan kakek tapi aku juga tidak ingin kehilangan cintaku. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Bagaimana aku bisa menjadi seperti ini? Bagaimana bisa ...hiks hiks hiks” ucap Elena yang tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya dan langsung dipeluk oleh maminya


**********


Hari telah berlalu, tak terasa sudah 3 hari Elena berdiam diri di kamar setelah mendengar kakeknya telah siuman dan stabil. 3 hari ini Elena hanya diam di kamar, makanpun tidak terurus. Elena benar-benar menerima guncangan hebat sejak kejadian itu, ia menuntut dirinya untuk memahami situasi yang benar-benar sangat sulit bagi dia. Hingga akhirnya, Elena mengambil keputusan untuk menghubungi Dava dan memintanya bertemu di taman seperti biasa.


To : Dava


‘’Sayang, bisakah kamu menemuiku di taman hari ini? Aku tunggu disana jam 3, sampai jumpa”


Dava yang menerima notif pesan dari Elena pun langsung tersenyum karena selama 3 hari ini ia merasa ada yang aneh dengan sikap Elena sewaktu ditelpon maupun di chatt room. Ia merasa Elena seperti menutupi sesuatu dan tidak banyak cerita seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa banyak berpikir lagi Dava pun membalas pesan Elena.


To : Elena


“okey sayang, sampai nanti,


I love you”


Setelah mengirim balasan pesan Elena, Dava berpikir untuk membawakan bunga dan juga coklat almond kesukaan Elena. Bagi Dava, Elena adalah gadis yang telah memenuhi seluruh hati dan pikirannya, ia tidak ingin melihat Elena bersedih bahkan cemberut sedikitpun. Bahkan selama 4 tahun pacaran ini pun Dava tidak pernah marah ataupun berteriak kepada Elena. Karena, pantang bagi Dava untuk membentak seorang gadis apalagi Elena adalah hidup dan semangat bagi Dava.


****** Taman


Elena telah tiba terlebih dahulu dan duduk di sebuah kursi dekat air mancur, ia memilih tempat itu karena kursi ini adalah tempat dimana Dava dan Elena sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar bercanda ataupun makan disela kesibukkan mereka sebagai mahasiswa. Elena meraba dan mengelus kursi itu seolah membuka setiap kenangan mereka. Tanpa sadar, air mata Elena terus jatuh dan membasahi wajahnya. Elena teringat banyak hal yang telah dilaluinya bersama Dava selama 4 tahun ini. Terkadang mereka harus LDR karena orang tua Dava ada di Singapura sehingga Dava sering meninggalkan Elena. Tapi keadaan itu justru membuat cinta mereka semakin kuat, kepercayaan mereka satu sama lain justru menjadi hal yang dicemburui banyak pasangan lainnya.


“Kuatlah Elena, semua akan baik-baik saja, kamu hanya perlu mengakhirinya. Maafkan aku Dava, kamu boleh berpikir apapun tentang aku nantinya. Aku juga tidak bisa melawan semua ini, aku tidak mau kehilangan kakek dan keluargaku, maafkan aku harus egois” guman Elena untuk tetap kuat dan terlihat baik-baik saja sambil merapikan penampilan dan menutupi wajah sembabnya dengan memoles bb cushion.


Tak lama kemudian, Dava datang dari belakang Elena sambil membawa paper bag berisi coklat almond dan buket bunga mawar favorit Elena. Dava mencoba membuat kekasihnya itu terkejut, meskipun sebenarnya hal itu kerap dilakukan Dava jika memberi kejutan untuk Elena. Dava menutup mata Elena dari belakang dengan satu tangan dan tangan satunya membawa buket dan coklat almond di depan Elena. Elena yang menyadari hal itu hanya tersenyum seolah sudah mengerti maksud Dava.


"Tebak aku" ucap Dava ditelinga Elena


"Siapa lagi kalau bukan pacarku" Ucap Elena sambil mengerucutkan bibirnya, hal itu justru membuat Dava semakin gemas oleh tingkah Elena, ia seakan sudah lama tidak melihat kekasihnya itu.


"Sayang, ini untukmu" ucap dava memberikan buket dan coklat almond kepada Elena sambil duduk disamping Elena.

__ADS_1


"Ahhhh, terimakasih sayang" ucap Elena dan langsung membuka coklat almond dan memakannya, ia juga menyuapi Dava dan memakan bersama coklat almond itu. Dava pun tersenyum melihat Elena menikmati coklat almond yang ia bawa.


"Sayang, kamu tidak merindukan aku, kamu malah sibuk menikmati coklat mu" ucap Dava


Tiba-tiba Elena teringat maksud dia menemui Dava, ia seketika menunduk dan menutup coklatnya. Tanpa terasa ia kembali meneteskan air matanya. Dava yang menyadari hal itu, bingung dan juga khawatir terhadap Elena, ia langsung mengangkat dagu Elena agar menatapnya dan menghapus air mata Elena.


"Sayang, apa ada masalah? " ucap dava lembut dengan kedua tangannya memegang pundak Elena.


Seketika tubuh Elena gemetar mendengar ucapan Dava, sungguh ia tidak sanggup untuk mengatakan apa yang harus ia katakan. Bagaimana ia menyampaikannya, bahkan ia tidak sanggup untuk melepaskan Dava begitu saja. 4 tahun bukan waktu sebentar untuk sebuah hubungan, bagaimana setiap waktu mereka bisa membagi waktu untuk sekedar memberi kabar, memberi semangat, dan menuangkan banyak cinta dan perhatian. Semua terasa tidak ada artinya setelah mengucapkan kata tamat dalam sebuah hubungan. Tapi Elena juga tidak bisa memilih ataupun bernegosiasi. Elena memilih mengorbankan perasaannya demi kakeknya, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan Elena masih bisa melihat kakek dan Dava.


Memikirkannya membuat Elena semakin terisak, Dava langsung menarik Elena dalam pelukannya. Elena terus menumpahkan segala perasaannya yang sedang berkecamuk, sedangkan Dava yang tidak paham situasinya menjadi sedih mendengar isakan tangis Elena yang ikut menyayat hati Dava. Sungguh Dava tidak suka dengan keadaan jni, bagaimana bisa kekasihnya manangis seperti ini, tanpa tahu penyebabnya. Sedangkan beberapa menit yang lalu ia masih tersenyum dan bersikap manis dengannya.


Elena yang sudah mulai mengendalikan dirinya, meregangkan pelukan Dava. Ia menghapus air matanya dan menatap Dava. Dava masih bingung dengan apa yang terjadi memilih diam dan menunggu Elena berbicara.


"Dava, maaf membuatmu bingung. Aku hanya ingin menangis tadi, sungguh maafkan aku" ucap Elena lirih dan memalingkan wajahnya menatap air mancur di depannya.


"Tidak apa-apa sayang. Apa sekarang sudah lega? " ucap Dava lembut sambil tersenyum


"Iya, Terimakasih. Aku tidak akan seperti itu lagi" ucap Elena


"Kenapa? Aku senang jika aku mampu membuatmu lega, meskipun jujur aku tidak sanggup mendengar isakan tangismu dipelukanku tadi. Tapi tidak masalah, aku akan menjadi sandaran yang kuat untukmu, hingga kamu selalu bisa merasa nyaman bersamaku" ucap dava yang memancing perasaan Elena lagi dan membuat Elena meneteskan air matanya lagi


"Hey sayang, apa aku salah, apa kata-kataku salah" ucap dava bingung yang melihat Elena menangis lagi.


"Tidak, kamu yang terbaik. Sungguh" ucap Elena sambil menghapus air matanya dan memasang 2 jarinya yang berarti serius. Dava hanya bisa tersenyum melihat tingkah Elena dan kemudian menggenggam erat tangan Elena.


Hari sudah semakin gelap, Dava mengantarkan Elena pulang kerumah. Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara Dava dan Elena. Tangan Dava tetap menggenggam tangan Elena dan tangan satunya untuk menyetir mobil. Sesekali Dava melihat Elena yang mencoba menutup matanya.


Sesampainya di depan rumah, Elena menahan Dava saat akan keluar mobil. Elena mencoba mengendalikan dirinya, dan menuntaskan segalanya. Elena tidak ingin semakin jauh menyakiti Dava. Dava yang menyadari hal itu kemudian menatap Elena dengan lembut seolah mencari tahu alasannya pada sorot mata Elena. Elena mencoba memberanikan diri dan membuka percakapan.


"Dava, aku tidak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana. Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya" ucap Elena sambil menarik nafas, sedangkan Dava hanya bisa menunggu Elena menyelesaikan kata-katanya.


"Dava, kamu tau. Aku tidak pernah terpikir akan memiliki kamu disampingku seperti saat ini. Terimakasih telah menjagaku, menjadi moodbooster ku selama 4 tahun ini. Tapi maaf Dava, aku pikir aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku ingin mengakhirinya, kamu harus bahagia tanpa aku setelah ini. Kamu harus menemukan cintamu yang baru setelah ini" ucap Elena tanpa memandang Dava, sedangkan Dava masih melotot tidak percaya apa yang telah ia dengar


"Dava, maaf mari kita putus. Mulai saat ini kita tidak memiliki hubungan apapun, jangan ingat tentang aku, mulailah buka lembaran barumu, jangan lagi mencari ku" ucap elena dengan nada dingin dan kemudian membuka pintu mobil dan keluar berlari masuk gerbang rumahnya. Sedangkan Dava masih mematung mencoba mencerna ucapan Elena.


Dava yang sangat emosi dengan ucapan Elena merasa kacau dan memukul-mukul kemudi, Dava berteriak seperti orang gila di dalam mobilnya, tanpa ia sadari tangannya terluka karena memukul-mukul kemudinya. Dava keluar dari mobil dan menekan bel rumah Elena, tetapi tidak ada yang datang. Dava terus menekan bel dan menggedor pintu gerbang Elena seperti orang tidak waras.


"Elena, keluar kamu Elena. Jelaskan padaku, kenapa? "


"Jika ada yang salah mari kita perbaiki, jika kamu bosan ceritakan padaku, ayolah Elena"


"Elena aku tahu, kamu bisa mendengar aku"


"Elena, kamu tidak bisa melakukan hal ini"


"Elena, ayo katakan padaku apa salahku'


"Mari kita selesaikan ini Elena"


"Keluar Elena"


"Aaaaaaaargghhh" teriak Dava sambil memukul pintu gerbang rumah Elena dan mengacak rambutnya frustasi

__ADS_1


Mendengar suara bising dari Dava beberapa tetangga dan satpam komplek mendatangi Dava dan memintanya untuk pergi dan tidak membuat keributan yang justru mengganggu banyak orang.


Akhirnya karena desakan banyak orang, Dava mengalah dan pergi dari rumah Elena. Dava pulang kerumah dengan kondisi menyedihkan dan seperti orang gila. Rambut acak-acakan, pakaian kucel, tangan luka dan wajah sembab. Karena meskipun Dava laki-laki tetapi Dava tetaplah manusia, ia juga bisa menangis, terlebih bagi Dava Elena adalah segalanya, Elena adalah alasan yang membuat Dava tetap tinggal disini dan jauh dari orang tuanya. Bahkan Dava sudah mengganggap bahwa Elena lah takdir dan cinta sejatinya.


__ADS_2