
Marine Caffe
Sore ini, Elena memilih menikmati kopinya sendiri di sebuah caffe di mall. Itu sudah menjadi kebiasaan Elena jika ia mendapatkan shift pagi, ia tidak ingin segera pulang karena ia tahu, ia masih belum mampu menjalani kehidupan normalnya setelah memutuskan Dava. Ia sengaja menyibukkan diri dengan bekerja, jalan-jalan ataupun sekedar ngopi untuk melupakan hatinya yang masih saja terasa sakit.
Sejujurnya, rasa bersalah telah membuat Elena menyakiti dirinya sendiri. Ia pernah berniat untuk membuka hatinya kembali dengan dekat dengan senior Elena di kampus. Tetapi, ketika orang itu mengungkapkan perasaannya, justru hati Elena menolaknya. Pikiran Elena justru semakin teringat Dava dan hal-hal yang pernah Elena lakukan bersama Dava. Hingga Elena dijuluki dengan wanita PHP. Hal itu membuat Elena tidak percaya diri kembali untuk dekat dengan laki-laki lain. Ia memilih menjaga jarak dengan lawan jenisnya karena Elena tidak ingin menyakiti hati orang lain lagi.
FLASHBACK On
“*El, nanti setelah praktik pulang bersama ya?” kata Arya yang merupakan senior Elena
“Oke kak, aku tunggu di depan nanti” jawab Elena dengan senyum manisnya
Elena yang telah selesai praktik pun kemudian berjalan menuju jalan di depan kampus, ia memperhatikan sekitar mencari sosok Arya. Hingga kemudian Arya memanggil Elena seraya berlari kecil menuju Elena.
“Elena”
“Ah, ku pikir aku dikerjain” ucap Elena dengan senyum di bibirnya
“Tidak mungkin, maaf membuatmu menunggu. Ayo kita ke sana sebentar, banyak yang bilang makanan disana enak” ajak Arya dengan menunjuk restoran korea di seberang jalan dan Elena hanya mengangguk
Sesampainya di restoran dan selesai menikmati makanannya. Arya memegang tangan Elena dan memberikan sebuah kotak persegi panjang untuk Elena
“Apa ini?” Tanya Elena
“Bukalah”
“Kalung?” ucap Elena terkejut
“Hmmm, kau suka?”
“Apa maksudnya kaka memberikan aku ini” Tanya Elena yang khawatir jika sikap baiknya selama ini disalah artikan oleh Arya
“El, kita sudah lama kenal meskipun waktu untuk kita menjadi dekat belum cukup lama tapi aku rasa ini sudah saatnya” kata Arya yang kemudian beranjak mendekati Elena
“Elena Putri Raharja, maukah kamu menjadi kekasihku, kita akan saling mengenal lebih jauh setelah ini?” Tanya Arya yang kini telah bersimpuh di depan Elena
“Kakak, maaf” jawab Elena yang masih terkejut dan tidak percaya dan disaat yang bersamaan pikiran Elena tertuju pada Dava. Memorinya bersama Dava muncul kembali dan membuat Elena meneteskan air matanya.
“Kenapa, ada apa? Apa aku terlalu cepat?” Tanya Arya yang langsung berdiri
“Kaka, saat ini aku hanya menganggapmu sebagai teman dan kakak laki-laki untukku. Aku menghormatimu sebagai seniorku” jawab Elena dengan menunduk
“Iya benar aku nyaman bersama kakak, tapi maaf kakak, aku benar-benar tidak memiliki perasaan yang lebih jauh seperti yang kakak kira. Aku harap kaka bisa mengerti” lanjut Elena
“Lalu kenapa kau tersenyum saat bersamaku, hah? Apa kau mau mempermainkan aku? Kau pikir kau siapa bisa melakukan itu padaku? Seenaknya begitu” kata Arya yang kesal dengan jawaban Elena
“Apa maksud kaka? Aku hanya tersenyum untuk menyapa kaka, dan apa kaka pikir aku hanya tersenyum denganmu. Kaka aku selalu mencoba ramah dengan siapapun, aku ingin memiliki banyak teman dan mencoba memulai hidupku kembali” jawab Elena terkejut dengan perubahan sifat Arya
“Bodoh, aku bodoh karena dibutakan olehmu”
“Ternyata kau sama dengan wanita lain yang hanya memanfaatkan wajah cantikmu” ucap Arya dengan marah
“Apa maksudmu bicara begitu, aku masih menghormatimu sebagai seniorku dan jangan mencoba melewati batasanmu” kata Elena yang mulai emosi dengan Arya
__ADS_1
“Well, dasar perempuan PHP. Kau pikir kau bisa melukai aku? Hah? Aku bersyukur mengetahui sifatmu ini, dasar PHP” tegas Arya dengan kasar mengambil kotak kalung dan pergi meninggalkan Elena*
Flashback off
Sejak itu, Elena menutup dirinya dengan orang lain, terutama lawan jenisnya. Bahkan Elena juga menutup akses komunikasi dengan teman-temannya sekolah dulu, terutama teman dan sahabatnya sewaktu SMA. Ia masih belum mampu bertemu dengan mereka yang nanti mungkin saja akan mempertanyakan hubungannya dengan Dava.
Karena itu, Elena sering kesulitan dengan perasaannya sendiri, sudah cukup lama Elena tidak membagikan beban pikirannya dengan orang lain. Meskipun saat ini, Elena memiliki Jiyo, Bobby dan Rendy sebagai sahabatnya. Tetapi Elena tidak pernah berbicara banyak tentang dirinya, ia hanya sesekali meminta sahabatnya itu untuk menemani ngopi, main game ataupun bercanda untuk melupakan pikirannya yang kacau.
“*Aku telah berniat melupakanmu, aku juga telah mencoba membuka hatiku”
“Kenapa justru menjadi begini, aku bahkan kehilangan caraku menikmati hidup ini. Kini aku bahkan tidak tahu untuk apa aku bertahan seperti ini, apakah aku harus menghapus luka? Menyembuhkan luka? Atau aku harus membiarkannya saja, menunggu waktu menyembuhkan luka ini sendiri yang pada akhirnya nanti akan terluka lagi?” guman Elena dengan memainkan cangkirnya*.
Tanpa Elena sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan Elena. Dia adalah Tasya teman serta sahabat dekat Elena sewaktu SMA dulu. Tasya adalah saksi dimana Elena dan Dava memulai hubungan mereka. Dulu, Tasya adalah teman yang akan selalu dihubungi Elena untuk membagikan keluh kesahnya, mereka bahkan sangat lengket. Tidak hanya dekat dengan Elena, tetapi Tasya juga kenal dekat dengan Dava.
"Elena" panggil seseorang dari meja sebelah Elena, Elena hanya menoleh dan menatap seorang yang memanggilnya
"Apa kau tidak ingat aku" ucap Tasya yang kini berada di samping meja Elena
"Tasya. Apa kabar? " tanya Elena tersenyum
"Ahhhh, aku lega kau mengingatku" jawab Tasya
"Boleh aku duduk" tanya Tasya
"Tentu" jawab Elena mengangguk dengan senyum
"Elena, boleh aku bertanya sesuatu?"kata Tasya sedikit ragu
"Hmmm" jawab Elena mengangguk seraya meminum kembali kopinya
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu apa salahku. Aku bingung ketika kau tiba-tiba menutup akses denganku. Aku mencoba menghubungimu tetapi nomermu tidak aktif, aku juga mengontak teman-teman yang lain tetapi mereka juga tidak tahu tentang kamu. Aku mencoba menghubungimu melalui media sosial tetapi kamu tidak menerimanya. Elena maafkan aku jika aku memiliki salah padamu, kau tahu kau adalah sahabat terdekatku. Aku benar-benar kehilangan kamu, dan maaf aku baru bisa menemuimu kali ini" ucap tasya dengan menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya.
"Tasya, aku minta maaf jika aku menyakitimu. Maaf, dulu ponselku rusak dan aku mengganti nomorku jadi aku kehilangan kontak kalian semua dan untuk media sosial kau juga tahu bukan bahwa aku tidak sering membukanya" jawab Elena dengan menepuk tangan Tasya
"Kau yakin, hanya karena itu?"
"Hmmm" jawab Elena mengangguk dan tersenyum
"Baiklah kalau begitu, sekarang berikan aku kontakmu lagi" kata Tasya
"Tentu, ini" jawab Elena seraya memberikan kartu namanya
"Wahh, sahabatku ini sudah menjadi dokter" kata Tasya dengan menggoda Elena
"Jawab panggilanku nanti ya"
"Pasti"
******
Apartemen Elena
"Hal yang aku takutkan satu persatu akan muncul"
__ADS_1
"Ternyata menghindar hanya mengulur waktu"
"Meskipun aku bahagia bertemu lagi dengan sahabatku, tapi rasanya aku belum siap" guman Elena
Drtt drtt.....
Suara ponsel Elena membuyarkan pikiran Elena, ia kemudian membuka ponselnya dan membalas pesan dari Tasya.
Tasya : "Selamat malam dokter cantik, dari sahabat paling cantikmu Tasya"
Elena : “Oke bu guru cantik aku save nomormu, kau puas"
Usai membalas pesan sahabatnya, Elena kembali merebahkan dirinya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya tetapi tidak bisa. Akhirnya ia bangun dan membuka laci meja riasnya, ia mengambil obat tidur yang sering ia minum karena insomnianya. Tetapi, belum sempat Elena memasukkan obat tidur ke mulutnya, ponselnya kembali bergetar. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menerima panggilannya.
"Elena ini papi, sayang mami masuk rumah sakit. Sekarang mami sedang ditangani dokter"
"Apa kamu bisa kesini, papi membawa mamimu di rumah sakit tempatmu bekerja" ucap papi Elena
"Baik, aku segera kesana" ucap Elena dengan khawatir
Elena kemudian mengambil jaketnya dan mengedarai mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya disana, Elena langsung berlari menuju UGD, diluar ruangan dilihatnya Papi Elena masih duduk dengan raut wajah khawatir. Ia kemudian duduk di samping Papinya.
"Papi bagaimana keadaan mami" Tanya Elena
"Dokter belum keluar, Papi tadi menemukan mamimu sudah pingsan di kamar" jawab Papi Elena yang kemudian memeluk putrinya
Tidak lama kemudian, Dokter yang menangani mami Elena keluar. Elena dan Papinya langsung mendekati dokter dan menanyakan keadaan maminya.
"Dokter vian, bagaimana keadaan mami saya" Tanya Elena dengan dokter vian yang merupakan rekan kerjanya di rumah sakit.
"Mami dokter Elena baik-baik saja, dokter Elena dan Bapak tidak perlu cemas. Ia hanya kekurangan darah dan kami sudah memasang infus. Beliau boleh pulang setelah infusnya habis. Untuk kedepannya mungkin harus diperhatikan pola makannya dan jangan sampai kelelehan"
"Saya rasa, dokter Elena juga paham dengan hal ini" jawab Dokter Vian
"Terimakasih dokter"
"Kalau begitu saya permisi"
Di dalam ruang rawat maminya, Elena duduk disamping maminya yang masih tidak sadarkan diri. Elena menangis melihat kondisi maminya.
"Mami, mami kenapa?" Tanya Elena dengan menggenggam tangan maminya
"Mami tidak apa-apa sayang, mami hanya kelelahan" jawab mami Elena yang ternyata sudah sadarkan diri
"Jangan banyak beraktivitas di luar lagi Mami, jaga kesehatan Mami. Elena tidak mau terjadi apa-apa dengan mami, Elena tidak mau mendengar atau melihat mami begini lagi" ucap Elena dengan penuh penekanan, sedangkan mami Elena hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ocehan putrinya yang ia rindukan itu.
Papi Elena yang melihat putrinya terus berbicara kemudian ikut bersuara.
"El, apa harus sampai mamimu sakit baru kau mau menemui papi dan mami" Tanya papi Elena
"Bukan begitu pi, Elena hanya sedang sibuk saja. Apa papi mau memojokkan aku dengan kondisi ini" jawab Elena
“hmmmm, Baiklah papi dan mami ngalah denganmu. Tapi, jika kau tidak ingin melihat mami mu sakit pulanglah kerumah lebih sering. Papi, mami dan kakek sangat merindukan kamu” titah papi Elena yang menatap lembut putrinya
__ADS_1
“Baiklah, sekarang jangan pikirkan apapun. Mami istirahatlah” ucap Elena menghentikan percakapan.