
Beberapa hari telah berlalu, kini Elena masih tetap sibuk dengan mempelajari sesuatu di dalam ruangannya setelah selesai tugas jaga. Elena memang lebih memilih menyibukkan diri di Rumah Sakit daripada harus pulang ke rumah ataupun ke apartementnya. Baginya, disinilah ia bisa sedikit melupakan perasaan yang sampai sekarang masih sangat membuat dirinya hancur, bertemu dengan banyak pasien yang memiliki cerita dan harapan-harapan untuk bangkit dan sembuh menjadikan semangat baru untuk Elena bisa melanjutkan hidupnya.
Menjadi dokter adalah cita-cita terbesar Elena sejak kecil, meskipun keluarganya memiliki perusahaan yang cukup besar, tetapi sejak dulu Elena tidak memiliki minat terhadap dunia bisnis. Ia selalu membicarakan sains sejak kecil dan kini ia telah menjadi seorang dokter umum di salah satu Rumah Sakit ternama di Jakarta. Keluarga Elena juga tidak pernah mengekang Elena terhadap pilihan karirnya, mereka mempercayakan semua pada Elena.
Tok tok tok.....
“Masuk” jawab Elena
“Selamat malam dokter, kau belum pulang?” Tanya suster amel yang memang dekat dengan Elena
“Belum, mungkin sebentar lagi. Kau bertugas malam ini?” ucap Elena
“Iya Dokter, kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku. Pulanglah hati-hati dokter”
“Baik, Terimakasih Suster Amel selamat bertugas” jawab Elena dengan tersenyum
Setelah mengecek beberapa laporannya Elena mematikan komputernya dan bersiap pulang. Hari ini, Elena tidak membawa mobilnya karena sedang di service. Elena keluar dari Rumah Sakit dan berjalan menuju jalan depan untuk mencari taxi. Ia melangkahkan kakinya dengan santai seraya menikmati ramainya jalan dimalam hari, sesampainya di depan jalan yang merupakan sebuah halte, Elena duduk dan menghembuskan nafas panjang. Bukan karena lelah bekerja, tetapi karena kesunyiannya membuat Elena kembali merasakan sakit hati. Ia merasa sesak di dadanya karena tiba-tiba memori tentang dirinya dan Dava kembali bermain dalam pikirannya.
BAYANGAN ELENA
“Sayang, apakah kau bisa menjemputku? Sopir papiku belum datang, dan aku sangat lelah hari ini” ucap Elena pada Dava via telephone
“Tentu saja, aku sedang di jalan. Tunggulah sebentar sayang” jawab Dava
Beberapa waktu kemudian Dava datang dan memeluk Elena yang sedang kesal menunggu
“Apaaku terlalu lama?” Tanya Dava
“Sangat lama, sampai pipiku keriput karena menunggumu” jawab Elena manja dengan menunjuk pipi chubbynya
“Benarkah? Ah sayang maafkan aku” ucap Dava kemudian mengelus pipi Elena dan kemudian mereka tersenyum bersama
Sadar dari bayangannya, Elena kemudian memukul dahinya sendiri. Ia merasa bodoh karena masih sering teringat hal-hal yang pernah ia lalui bersama Dava.
“Bodoh? Kau tidak boleh seperti ini” maki Elena pada dirinya sendiri dengan menggelengkan kepalanya dan memegang pipinya.
__ADS_1
Tin tin tin.....
“Ahhhhh” teriak Elena yang terkejut dengan suara klakson mobil yang berhenti di depannya
Kemudian kaca mobil itu turun dan menampilkan wajah tanpa dosa dengan senyum bodohnya yang membuat Elena berdecak kesal.
“Apa kau gila ha??” Tanya Elena pada jiyo yang masih tersenyum di dalam mobilnya
“Aku gila karenamu” jawab Jiyo santai dan Elena hanya menggelengkan kepalanya kesal dengan tingkah sepupunya.
“Cepatlah masuk, aku antar kamu” ucap Jiyo yang direspon Elena dengan cemberut dan segera masuk mobil.
“Ahhh, tahu begitu aku tidak usah keluar rumah sakit untuk mencari taxi” kata Elena dengan meregangkan tangannya dan Jiyo hanya tersenyum melihat wajah kesal Elena
“Pulang atau mampir ngopi dulu?” Tanya jiyo
“ Apa yang lain ikut?” Tanya Elena
“ Aku Tanya El, kenapa kau balik Tanya sih?” kesal Jiyo
“Baiklah aku hubungi mereka” jawab Jiyo yang kemudian menghubungi Bobby untuk bertemu di caffe biasa dan memintanya mengajak Rendy.
*****
---Caffe---
“Hey kalian sudah sampai” Tanya jiyo yang melihat Bobby dan Rendy sudah meneguk kopinya
“Tentu saja, kita sudah disini sejak tadi” jawab Bobby dan Elena yang mendengar mereka hanya mengangguk
Jiyo kemudian langsung memesankan kopi dan camilan untuk Elena dan lainnya. Sambil menunggu pesanan datang, Elena menyandarkan kepalanya ke meja dengan ditumpu kedua tangannya. Elena merasa lelah dan tidak bersemangat setelah teringat bayangan yang tadi sempat memenuhi pikirannya. Teman-temannya yang melihat pun menepuk bahu Elena mencoba untuk membuat Elena kembali semangat. Jiyo yang menyadari perubahan mood Elena pun hanya menghela nafas panjang.
“ El, are you okey?” Tanya Jiyo dan Elena hanya mengangguk dan kemudian mengangkat kepalanya melihat
ketiga teman-temannya.
__ADS_1
“Sorry guys, I’m fine. Apa aku merusak malam kalian?” Tanya Elena
“No, jangan bicara seperti itu. Kita bukan orang lain, kita keluarga, kau sudah seperti adikku” jawab Bobby dengan menatap Elena
“Tidak masalah, kau bisa cerita bila kau mau. Jangan terlalu lama memendam segala sesuatu sendirian” Lanjut Rendy
“Kau dengar El, Kita semua selalu ada untukmu. Jangan berpikir kau sendiri” Kata Jiyo dengan menepuk bahu Elena
“Terimakasih kalian selalu ada untukku” jawab Elena dengan berkaca-kaca sedangkan yang lainnya hanya saling memandang karna tidak biasanya Elena sampai menunjukkan kelemahannya dengan wajah seperti itu di depan mereka.
“Aku merasa kalian sudah tahu tentang ku? Apa aku benar?” Tanya Elena kembali dan hanya direspon dengan tatapan oleh ketiga temannya
“ Apa karena itu kalian khawatir dengan ku?”
“ Apa maksudmu El” Tanya Bobby
“Selama ini, aku seperti orang bodoh yang menutup diri dari kalian. Tetapi aku tahu sebenarnya kalian pasti tahu entah dari mami atau papiku” Kata Elena sambil mengusap air mata yang tanpa ia sadari menetes begitu saja
“Hey, dengarkan kita. Kita tidak pernah menganggapmu lemah ataupun bodoh, setiap orang memiliki masalah dan masa lalu. Kita ada untukmu karena kita peduli denganmu, kau tidak boleh berpikir macam-macam, kau tidak perlu bercerita dengan kita jika kau tidak ingin. Jangan membebani dirimu sendiri, kita adalah teman, sahabat dan kakak yang siap melindungi mu, kita minta maaf karena kita terlambat mengetahuinya” Jawab Bobby yang direspon dengan anggukan dan tetesan air mata yang mengalir di pipi Elena.
“Maaf, kalian jadi melihatku seperti ini, terima kasih telah berpura-pura tidak tahu selama ini” jawab Elena dengan membersihkan wajahnya dengan tisu.
“Tidak masalah, kau bisa menjadi dirimu sendiri dengan kita, tidak perlu menutupinya lagi” terang Rendy dengan mengusap rambut Elena
“Sudah bersihkan wajahmu sana, jika tidak ingin bercerita tidak masalah tapi jangan menangis seperti ini lagi” ucap Jiyo
“Baiklah aku ke toilet sebentar” Jawab Elena
Di dalam toilet, Elena mencuci wajahnya dan merapikan penampilannya yang tadi tampak kacau. Saat ini, perasaan
Elena sedikit lega karena sikap teman-temannya yang selalu bisa membuat Elena tenang. Elena bukannya tidak ingin menceritakan apa yang selama ini ia pendam dengan teman-temannya tetapi ia masih perlu waktu bahkan sampai sekarang perasaan Elena masih sama sakit dan bingungnya seperti saat tiba-tiba diminta untuk memutuskan hubungannya dengan Dava.
“Aku tahu bahwa bertahan dengan masa lalu hanya akan menyakiti diriku, tetapi aku hanya ingin memastikan bahwa dia telah bahagia, setelah itu aku akan siap untuk membuka kembali hatiku” guman Elena di
dalam hati.
__ADS_1