
Pukul 23.00 WIB Dava dan Kevin mendarat di Bandara Soekarno-hatta, ia sudah dijemput oleh supir yang dipilih papanya. Ia kemudian pergi menuju apartemen yang sudah dipersiapkan oleh Kevin atas perintah Dava. Sebenarnya Dava juga memiliki rumah di jakarta, tetapi Dava memilih untuk tinggal di apartemen karena rumah tersebut terlalu besar untuk dirinya tinggal sendiri.
Di perjalanan, Dava hanya diam dan melihat kearah luar. Ia mengendalikan perasaanya yang benar-benar membuatnya hampir gila. Dava terus menahan dirinya untuk tetap bersikap cool di depan Kevin dan supirnya. Ia terus menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kevin yang menyadari sesuatu yang aneh pun tetap tidak berani menanyakannya pada dava. Ia memilih diam dan menerka-nerka sendiri apa yang terjadi pada tuannya itu.
"Aneh, dari tadi tuan terus diam dengan tatapannya itu. Apakah aku akan mati muda jika begini terus? "guman Kevin
"Tidak, tidak boleh aku harus menikah lebih dulu sebelum mati" lanjut Kevin dalam pikirannya dengan menggelengkan kepalanya.
Hal itu dilihat oleh Dava dan pak udin selaku supir yang bingung dengan tingkah kevin. Kevin yang menyadari hal itupun langsung mengibaskan tangannya dan salah tingkah.
"Tidak, saya tidak kenapa-kenapa. Jangan berpikir tidak-tidak" ucap Kevin
"Kau bicara dengan siapa? Siapa yang bertanya kau kenapa? " Tanya Dava dengan dingin
"Tidak tuan, maafkan saya" jawab Kevin menundukkan kepalanya
Setelah itu, keadaan menjadi sangat hening di dalam mobil. Pak udin hanya fokus menyetir dan Kevin hanya diam saja dengan sesekali melihat tab nya sedangkan dava hanya terus menatap kearah luar.
******
Dirumah sakit Elena telah menyelesaikan pekerjaannya dan sedang membuat laporan, tetapi tiba-tiba ponselnya bergetar dan membuatnya menghentikan kegiatannya.
Drttt drrrttt drrrttt.....
"Halo"
"El, ini gue jiyo.. Lu bisa kesini nggak, gue habis kecelakaan ini"
"Hah? Jangan bercanda deh"
"Serius gue nggak bercanda, gue ada di rumah sakit sekarang. Gue shareloc sekarang... Cepetan kesini"
Mendengar sahabat yang juga sepupunya kecelakaan membuat Elena segera pergi, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobilnya Elena juga menghubungi Bobby dan Rendy untuk menyusulnya ke alamat yang diberikan jiyo.
Ketika di lampu merah, mobil Elena bersebelahan dengan mobil yang membawa Dava. Tetapi karena panik, Elena tidak memperdulikan sekitarnya dan terus menatap lurus ke depan dengan sesekali membunyikan klakson mobilnya. Dava yang kesal dengan suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Elena pun kemudian menatap kearah mobil tersebut.
"Shittt!!! Itu orang nggak liat apa kalo lampu merah, gila tu orang bikin sakit kepala" Ucap Dava kesal dengan pengemudi mobil di sebelahnya yang tak lain adalah Elena.
__ADS_1
Saat berada tepat di samping mobil Elena, Dava mencoba melihat pengemudi mobil yang terus membunyikan klaksonnya. Kemudian ia tersentak karena menyadari wajah pengemudi itu adalah sosok yang selama ini terus ia coba lupakan tetapi tetap saja menganggu pikirannya.
"Elena" ucap Dava
Tiba-tiba lampu sudah kembali hijau, Elena kembali melajukan mobilnya dengan cepat. Sedangkan Dava masih terdiam menatap mobil Elena sampai mobil tersebut tidak terlihat lagi. Kevin yang menyadari tuannya memanggil nama seseorang pun hanya menatap tuannya dari kaca mobil.
"Apa tuan melihat wanita yang dia sebut saat mabuk itu" guman Kevin dalam hatinya
Kini pikiran dava terus tertuju pada elena, banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Dava.
"Mau kemana dia semalam ini? Apa yang mau dia lakukan? Apa dia sudah gila mengendarai mobilnya begitu cepat?" pikir Dava
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, kini mobil yang membawa Dava telah sampai di depan gedung apartement. Kevin sudah turun dan membukakan pintu untuk Dava. Dava yang menyadari hal itu segera keluar dan masuk ke gedung apartement diikuti oleh Kevin.
Dava dan Kevin saat ini berapa di lift untuk segera naik ke unit apartement milik Dava.
"Tuan, semua sudah disiapkan sesuai keinginan tuan" kata Kevin yang hanya di jawab oleh anggukan Dava
Sesampainya di unit apartementnya, Dava memperhatikan desain interior yang telah diatur sesuai keingannya. Selesai melihat-lihat seluruh ruangannya, Dava kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi. Saya tidak tinggal disini, saya membeli apartement di kawasan lain yang lebih sesuai dengan apa yang saya cari" terang Kevin
"Oke, terserah kau saja" jawab Dava dengan sikap dinginnya
********
Di tempat lain, Elena telah sampai di alamat yang diberikan oleh Jiyo. Ia memarkirkan mobilnya dan melihat kembali alamat yang diberikan jiyo untuk memastikan benar tidaknya. Kini Elena sudah berada di parkiran basement salah satu Rumah Sakit di Jakarta, tetapi ketika elena akan turun dari mobilnya, mobil Rendy dan juga Bobby terlihat mendekat. Elena yang menyadari kehadiran teman-temannya itupun menunggu mereka agar bisa berbarengan menemui Jiyo.
"El, kau juga baru sampai?" Tanya Bobby
"Iya, ayo" jawab Elena yang kemudian direspon dengan anggukan bobby dan rendy
Sesampainya di lobby rumah sakit Elena langsung bertanya pada bagian informasi terkait ruang rawat jiyo.
"Permisi, saya ingin bertanya ruang rawat atas nama Jiyo Permana, dia masuk hari ini akibat kecelakaan" tanya Elena
"Baik, tunggu sebentar" Jawab petugas
__ADS_1
"Atas nama tuan Jiyo Permana ada di ruang VIP dengan nomor kamar 3A nona, saya akan meminta petugas untuk mengantar anda" lanjut petugas informasi
"Oh, Baik terimakasih" jawab elena
Elena, Bobby dan Rendy kini sudah sampai di ruang rawat jiyo. Jiyo saat itu baru keluar dari toilet dengan memegang tiang infus dan terdiam melihat teman-temannya. Elena, Bobby dan Rendy menatap jiyo dari kepala hingga ujung kaki dengan mengerutkan dahi mereka, jiyo yang menyadari tingkah teman-temannya pun segera kembali duduk di ranjangnya"
"Apa ini?" Tanya Elena dengan memincingkan matanya karena melihat Jiyo baik-baik saja, sedangkan Bobby dan Rendy hanya diam dan terus melihat kearah Jiyo
"Apa? Kalian kemari mau menjenguk ku kan" jawab Jiyo santai sedangkan Elena yang sudah kesal dengan sikap Jiyo langsung memukul punggung Jiyo.
"Apa kau gila? Kau bilang kecelakaan tapi keadaanmu baik-baik saja, kau bahkan bisa berjalan sendiri" ucap Elena kesal dan Jiyo langsung menyentil dahi Elena
"Heh, kau berharap aku kenapa-kenapa? Lihatlah adek gw ini gengs, harusnya dia senang kan melihat gw baik-baik aja" ucap Jiyo
"Lo gila ya, kita semua panik langsung pergi ninggalin kerjaan kita demi liat lo dan yang kita liat lo nggak kenapa-kenapa bahkan nggak keliatan sakit" jawab Bobby yang juga kesal
"Tau gini, gue tetap main game konsol gue aja" jawab rendy tak kalah kesal
"Yaelah kalian semua jadi temen nggak ada yang waras, lo semua nyumpahin gue kenapa-kenapa" jawab Jiyo yang kesal dengan pertanyaan teman-temannya
"Kau serius kecelakaan?"tanya Elena yang ragu setelah melihat kondisi Jiyo
"Iya gue kecelakaan tadi, mobil gue nggak sengaja nabrak pohon gara-gara ngindari kucing lewat tiba-tiba. Terus gue ditolongin orang dan gue dibawa kesini" terang Jiyo yang hanya direspon dengan gelengan kepala teman-temannya.
"Terus apa kata dokter yang nangani?" Tanya Elena
"Dokter itu bilang gue baik-baik aja, gue hanya syok dan kaget" Jawab Jiyo dengan bangganya
"Ahh bodoh, aku mau pulang. Masih banyak laporan yang harus aku selesain gara-gara kau Jiyo" jawab Elena semakin kesal dan berjalan keluar.
"Gue ikut El" seru Bobby dan Rendy.
*Thanks yg sudah mau membaca ceritakuu🤗
Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan 🙏🙏
Author minta komen dan like nya ya readers😊*
__ADS_1