Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 9


__ADS_3

Hari telah berlalu, kini Elena disibukkan lagi oleh jadwalnya di rumah sakit. Ia melakukan kunjungan pada beberapa pasiennya, menangani pasien baru  yang seakan tidak ada habisnya dan membuat laporan di akhir shiftnya. Elena beruntung karena meskipun pekerjaan ini cukup melelahkan dan menguras pikirannya dimana ia harus tetap fokus, tenang dan bertidak cepat dalam segala kondisi pasiennya, tetapi dengan hal itu segala pikiran lain akan teralihkan sehingga tidak ada ruang bagi Elena untuk memikirkan segala permasalahan yang tengah ia hadapi.


“Dokter Elena, aku dengar kau akan mengambil program lanjut untuk spesialis” ucap Dokter Masya yang merupakan rekannya


“Iya, aku sudah memikirkannya” jawab Elena


“Baiklah, Fighting!!!!. Semoga semua yang kau inginkan akan terpenuhi, aku yakin kau bisa” seru Dokter Masya


            Selesai shift pagi, Elena memutuskan untuk segera pulang ke apartemen. Setelah insiden dimana Elena mendapatkan pesan yang berisi fotonya dengan Dava di caffe tempo hari, ia menjadi sangat was-was jika ada seseorang yang membuntuti ataupun akan mencoba membuat masalah dengannya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya dan sampai di parkiran gedung apartemennya, tidak butuh banyak waktu untuk sampai di unit apartemen miliknya. Sesampainya di depan pintu apartemennya, ia dikejutkan dengan sebuah memo yang ditempelkan di pintunya, di dalam memo itu hanya ada sebuah tanda huruf “A” dengan tinta merah.


            Elena yang menyadari situasinya pun memilih segera masuk kedalam apartemenya. Ia kemudian duduk di ruang tamu dan mengamati memo tersebut, ada sorot takut dan bingung yang ditunjukkan Elena. Disaat Elena dengan serius memandang memo tersebut, ponselnya berdering dan dilihatnya ada beberapa pesan berupa foto yang diambil baru saja tepat ketika ia sampai hingga menuju unitnya. Karena rasa terkejutnya, ia tanpa sengaja melempar ponselnya dan jatuh begitu saja, perasaan cemas dan takut Elena semakin menjadi. Elena meringkuk sendirian dan menangis sesenggukkan, tetapi ia masih mencoba mengendalikan dirinya dengan berpikir jernih. Ia menguatkan dirinya untuk tidak terlihat seperti ini, seseorang yang sedang mencoba bermain dengan Elena pasti akan senang dan merasa menang jika melihat dirinya merasa takut dan cemas.


            Ponsel Elena kembali berdering, kali ini panggilan masuk dari nomor yang disembunyikan. Elena pun beranjak dan mencoba mengambil ponselnya, dilihatnya panggilan itu dan dengan perasaan tidak karuan Elena memberanikan diri untuk menerima panggilan itu. Saat panggilan tersambung hanya suara tawa yang bisa


Elena dengar.


“Hahahaha”


“Siapa kau?”


“Hahahaha”


“KU BILANG SIAPA KAMU? BRENGSEK” Tanya Elena dengan perasaan marahnya yang kemudian panggilannya terputus begitu saja.


            Elena kembali meringkuk dan mengusap kasar rambutnya, ia benar-benar tidak paham dengan apa yang ia alami. Disaat masa lalunya kembali datang dan membuat rasa bersalah, rindu dan cintanya berkecamuk di dalam dirinya disaat itu pula ancaman tak terduga muncul dari seseorang yang bahkan Elena tidak mengetahuinya. Ia kemudian berpikir apakah ia harus menceritakan hal ini kepada papinya atau kepada sahabatnya Jiyo, Bobby dan Rendy. Elena ragu jika harus memberitahu papinya, karena ia tahu akan seperti apa respon papinya. Tetapi jika memberitahu Jiyo, Bobby dan Rendy maka sama saja mereka akan bertingkah berlebihan dan membuat Elena tidak nyaman bahkan mungkin saja membuat mereka terlibat dengan hal yang Elena sendiri tidak tahu.


            Elena kemudian mengurungkan segala niatnya untuk memberitahu Papi maupun sahabatnya, ia memilih untuk menahannya sendiri. Ia akan melihat sejauh apa orang itu mengusik Elena, dengan itu ia akan mengambil langkahnya. Ia akan berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja dan mengabaikan gangguan kecil yang ia terima seperti pesan tanda A dan beberapa foto dirinya yang ia terima.


****


-----Apartemen Dava-------

__ADS_1


Di dalam apartemennya, Dava masih berkutat dengan beberapa dokumen dan laptopnya. Wajar, karena perusahaan yang sedang diurus oleh Dava adalah perusahaan yang hampir saja bangkrut karena ulah bodoh direktur sebelumnya. Jadi Dava harus mati-matian bekerja keras untuk mengembangkan kembali perusahaannya, untung saja ada Kevin yang dengan cekatan membantu Dava mengatur beberapa permasalahan dan membangun


relasi-relasi baru yang menguntungkan sehingga Dava bisa sedikit mengurangi bebannya.


Tidak bisa dipungkiri, semenjak Dava bertemu lagi dengan Elena, ia jadi sering uring-uringan tidak jelas seperti orang PMS. Jika sudah seperti itu, Kevin lah yang akan menanggung kekesalan Dava, ia sering marah hanya karena dokumennya tidak disusun kembali sesuai jadwal penerimaannya ataupun karena warna kemeja yang dia anggap tidak cocok untuk dirinya. Jika mau jujur, Dava begitu karena Dava sangat ingin mendengar kabar Elena, ia merasa kesal karena pertemuan pertamanya dengan Elena justru terjadi tanpa ia tahu dan dengan situasi yang tidak ia pahami dari Elena.


“Kevin, susun kembali dokumennya. Jangan sampai ada kesalahan lagi!!, atau kau tahu akibatnya” kata Dava yang telah selesai memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen di meja ruang kerjanya


“Baik tuan, kau istirahatlah karena besok akan ada jadwal meeting pagi dengan beberapa klien dari Tiongkok” jawab Kevin


“Ya aku tahu, cepat kerjakan tugasmu. Aku akan segera ke kamar, jika sudah selesai kau boleh pulang”


“Baik tuan, selamat malam”


            Sesampainya di kamar, Dava mengacak rambut frustasi dan merebahkan dirinya di ranjang. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan memandanginya, ia tahu tidak akan mungkin ia menerima notif pesan apalagi dari Elena, seseorang yang sudah membuat hatinya terluka cukup dalam tetapi anehnya masih saja ia ingin tahu tentangnya sampai saat ini.


“Ahhhrgggg, bodoh. Untuk apa aku begini, dia saja mungkin sudah melupakan semua tentangku” Ucap Dava seraya mengembalikan ponselnya di atas nakas


            Malam ini, Dava tidak bisa tidur karena terus memikirkan Elena, pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Elena hingga ia terlihat takut. Ia juga menyalahkan dirinya karena sikap dingin dan gengsinya, kalau saja ia bisa mengesampingkan egonya dan memilih bersikap santai dengan Elena mungkin ia tidak akan segusar sekarang. Ia terus menyesali kesan pertemuannya dengan Elena sewaktu di caffe, kalau saja ia dengan cepat mengambil ponsel Elena yang ia jatuhkan dan langsung memeriksanya mungkin ia akan tahu apa yang menjadi penyebab raut ketakutan yang ditunjukkan Elena. Atau, andai saja ia ikut menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Elena mungkin ia tidak akan sangat menyesali pertemuannya.


“Kevin, apa kau sudah tidur” kata  Dava sewaktu  Kevin menerima panggilannya


“Belum tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya Kevin


“Berikan aku alamat apartemen mu!”


“Apa? Apa maksud tuan”


“Jangan banyak bertanya, dan segera kirimkan alamatmu” perintah Dava yang kemudian mematikan sambungan telephonenya.


            Kevin yang hanya bisa menuruti perintah tuannya pun segera membagikan lokasi apartemennya. Setelah menerima pesan shareloc dari Kevin, ia langsung mengarahkan mobilnya menuju apartement Kevin. Ia hanya ingin melihat seperti apa apartemen yang dipilih asisten yang juga sahabatnya itu. Sesampainya di parkiran apartemen Kevin, Dava kemudian berkeliling dan melihat-lihat gedung apartement itu, ia berpikir ada kelebihan apa dibanding apartemen yang ia pilih sehingga Kevin memilih tinggal disini dan tidak satu gedung dengan Dava. Ia menyusuri lobi dan memilih naik menuju rooftop apartemen, ia berpikir mungkin pemandangan disana akan menunjukkan keindahan kota dan bisa membantunya menjernihkan pikirannya yang kacau.

__ADS_1


            Sesampainya di rooftop ia melihat seorang gadis berdiri  memegang secangkir kopi dengan posisi memandangi arah kota, Dava kemudian mengernyitkan dahinya dan berjalan untuk melihat pemandangan kota tanpa memperdulikan keberadaan gadis itu. Gadis yang menyantap kopinya pun menyadari langkah kaki seseorang yang saat ini tengah berada cukup jauh dari sampingnya. Dava yang dengan tenang berdiri disana pun akhirnya menoleh kearah gadis itu, begitu juga gadis itu yang secara bersamaan mereka saling bertatapan dan betapa terkejutnya mereka.


“Kau” Ucap Dava yang masih menatap lekat gadis dengan penampilan sederhananya memakai kaos putih dengan cardigan dan celana panjang ditambah rambut yang dicepol sembarang tetapi masih terlihat cantik sedangkan gadis itu hanya diam dan mengangguk pelan pada Dava.


Entah itu kebetulan apa memang takdirnya lagi untuk bertemu dengan Elena, Dava hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan kemudian diam. Elena yang melihat respon Dava pun hanya bisa tersenyum kecut dan kembali memalingkan wajah dan menikmati kopinya.


“Sedang apa kau disini?” Tanya Elena tanpa menatap Dava


“Kau bertanya padaku?” jawab Dava menoleh kearah Elena dan menunjuk dirinya


“Lupakan jika tidak ingin menjawab, aku permisi” respon Elena tanpa mengarahkan pandangannya ke Dava yang kemudian melangkah kearah pintu, tetapi langkah Elena terhenti karena ucapan Dava. Elena masih mematung dengan posisi membelakangi Dava, ia mengendalikan dirinya yang saat ini tengah kacau ditambah ia harus bertemu dengan Dava lagi. Setelah mengatur nafasnya, Elena berbalik dan menatap Dava yang saat ini juga menatapnya begitu lekat, Elena seakan terhanyut dengan tatapan  Dava yang begitu ia rindukan.


“Kenapa terus menghindar? Apa itu kebiasaanmu?” Tanya Dava


“Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanya Elena


“Cihh, harusnya aku yang menanyakan itu” Ketus Dava yang kemudian duduk di sebuah kursi panjang. Elena hanya diam dan kemudian ikut duduk di ujung kursi tempat dimana Dava duduk, ia meremas kaosnya dengan jari yang sudah basah karena keringat dan mencoba memberanikan dirinya untuk membuka percakapan dengan Dava.


“Maaf” Kata Elena lirih tetapi ia yakin bahwa Dava masih bisa mendengar ucapannya


“Untuk?” Tanya Dava dengan sikap dinginnya


“Apapun yang pernah aku lakukan” jawab Elena yang masih menunduk dan meremas ujung kaosnya.


“Bisakah kita melupakan apa yang telah terjadi dan bersikap sewajarnya? Kau tidak perlu menyapaku jika tak ingin, kau bisa berpura-pura tidak mengenalku jika kau mau, aku hanya tidak ingin membuat keadaan tidak nyaman” lanjut Elena


“Kau pikir aku masih belum bisa melupakanmu? Bodoh, aku sudah tidak peduli denganmu” jawab Dava dengan sorot mata tajam yang mengintimidasi


“Bagus, kau sudah melakukan hal yang tepat. Sudah selesai, aku permisi” kata Elena yang mencoba menatap Dava sekilas dan kemudian memalingkan wajahnya dan segera kearah pintu.


            Elena masih menunggu lift, ia menguatkan dirinya untuk tidak menangis ataupun terlihat kacau. Pikirannya terus membuatnya kalut ditambah rasa sakit di hatinya yang perlahan membuat tubuhnya lemas, ia mengabaikan semuanya dengan tetap berdiri kokoh dengan raut dinginnya. Setelah beberapa waktu, pintu  lift pun terbuka dan ia masuk. Tetapi saat pintu lift akan menutup seseorang mencoba menahannya dan ikut masuk ke dalam lift, dia adalah Dava. Kini dua orang itu ada di dalam satu lift dengan aura dingin masing-masing, Elena kemudian menekan tombol 6 untuk kembali ke unit apartemennya sementara Dava menekan tombol LG untuk kembali ke lantai dasar. Sesampainya di lantai 6, Elena langsung keluar tanpa memperdulikan Dava.

__ADS_1


Thanks guys, sudah mampir dan membaca cerita ini :)


Semoga sehat selalu ya....:)


__ADS_2