Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 15


__ADS_3

Mencintai dan dicintai adalah hal yang sempurna untuk semua orang, tetapi terkadang dua hal tersebut tidak bisa sepenuhnya di dapatkan seseorang. Ada fase seseorang harus memilih salah satunya, pilihan itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semuanya relatif entah dari mana memaknainya. Ini bukan hanya perihal siapa yang mau menyakiti ataupun disakiti tetapi ini tentang bagaimana seseorang tulus memberi dan menerima cinta itu sendiri.


-----


Malam ini, Dava benar-benar tidak bisa tidur, pikirannya terus berpusat pada Elena. Bayangan saat ia melihat Elena terbaring lemah dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya membuat ia begitu tak tenang, terlebih dengan pembicaraan yang ia dengar mengenai Elena tadi benar-benar menyita seluruh pikirannya.


"Apakah kau juga merasakan rasa sakit yang sama El?" guman Dava


"Apa yang sebenarnya terjadi?" keluh Dava dengan mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena pertanyaan yang terus memenuhi pikirannya.


Sadar ataukah tidak, semua yang Dava rasakan saat ini adalah bentuk rasa cinta yang masih ada untuk Elena. Rasa yang selama ini terus Dava sangkal karena begitu kecewanya dia. Dan kali ini, mungkin saja ia tidak hanya dipertemukan lagi dengan Elena tapi juga dengan harapan baru tentangnya.


----


Pagi hari, Dava tiba di ruangan dengan wajah lesu karena tidak bisa tidur semalaman dan terus terganggu dengan bayangan dimana Elena memutuskan dirinya dulu. Ia kemudian teringat beberapa hal janggal di waktu itu. Pikirannya membawa ia kembali di saat Elena memintanya bertemu setelah beberapa hari tidak ada kabar dan di hari itu juga ia harus ditinggalkan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas seolah Elena menyembunyikan sesuatu yang besar.


"Tuan apa Anda tidak enak badan?" Tanya Kevin yang baru saja masuk ke ruang kerja Dava dan melihatnya tampak kurang sehat


"Tidak, kenapa?"


"Anda terlihat tidak baik-baik saja sejak pergi kemarin, apa ada masalah?" Seru Kevin yang khawatir dengan kondisi Dava


"Tidak ada, apa jadwalku hari ini Kev?"


"Anda ada meeting dengan kontraktor proyek siang ini tuan"


"Baiklah, setelah meeting antarkan aku ke Rumah Sakit Sentul. Kosongkan semua jadwal seusai meeting"


"Rumah Sakit tuan?"


"Iya, ada seseorang yang ingin aku temui"


"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi" pamit Kevin yang kemudian keluar dan segera menyiapkan segala keperluan pekerjaanya


----


Sementara di Ruang ICU, Papi Elena sengaja mengambil sesi besuk untuk bisa menemui Elena. Beberapa saat mencoba menguasai situasi ini ternyata tidak semudah kelihatannya. Meskipun begitu Papi Elena harus tetap tenang menghadapinya, karena selain dirinya ia juga harus menguatkan istrinya yang kini tengah drop setelah mendengar fakta dari dokter Ilham tentang putrinya.


"El, ini Papi nak. Elena dengar Papi kan? Papi Kangen putri cantik Papi, segera bangun ya nak" sapa Papi Elena seraya mengusap kepala Elena


"Sayang" lanjut Papi Elena dengan beralih memegang tangan Elena

__ADS_1


"Papi ingin bilang sama kamu nak kalau apapun yang kamu lewati ingat kamu tidak sendiri, Papi akan selalu ada untukmu. Jangan bebankan segala hal untukmu sendiri, bahu Papi masih mampu dan akan selalu kuat untuk putri Papi"


"Segera bangun ya nak, kita semua menunggumu disini" seru Papi Elena dengan matanya sudah memerah


"Papi janji akan membuatmu bahagia sayang, Papi akan berusaha untuk memperbaiki segalanya. Kamu harus mampu lewati semua ini, putri Papi sangat kuat" guman Papi Elena dalam hati dan segera keluar dari ruang ICU.


Diluar ruang ICU, Papi Elena menunggu sendiri karena Jiyo, Bobby dan Rendy ada keperluan mendesak yang harus diurus. Ia duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk seolah beban berat di kepalanya sudah tak mampu lagi ia pikul. Di sisi lain Dava dan Kevin sampai di depan ICU. Dava memperhatikan sebentar Papi Elena dan kemudian segera menyapa Papi Elena.


"Selamat sore om, Apa kabar?" Seru Dava sambil mengulurkan tangannya


"Sore Dava, kabar om sama seperti yang kamu lihat semuanya tampak mudah tapi ternyata sangat sulit melewatinya" jawab Papi Elena yang tampak sedih


"Sabar ya om, kami doakan yang terbaik untuk Elena. Lalu bagaimana perkembangan Elena om?"


"Keadaan Elena sudah stabil tapi dia masih belum sadar, dia belum memberikan respon apapun" Terang Papi Elena lemas


"Kamu mau melihatnya masuk?" Lanjut Papi Elena


"Uhm, Apakah boleh om?"


"Tentu saja boleh, tapi tunggu beberapa saat lagi ya" jawab Papi Elena dengan melihat jam di tangannya


"Baik om, terimakasih sebelumnya"


--------


Beberapa saat kemudian, setelah diijinkan untuk menemui Elena, Dava melangkah masuk ke dalam ruang rawat Elena, dilihatnya wajah pucat Elena yang masih terlihat ayu meskipun banyak memar dan luka di beberapa bagian. Dava memberanikan dirinya untuk duduk di samping Elena, sedangkan Papi Elena dan Kevin sengaja melihatnya dari kaca luar ruangan, tak kuasa menahan perasaan sedihnya, Papi Elena segera menyeka air matanya sebelum jatuh saat melihat Dava dan Elena bersama dalam keadaan seperti ini.


"El, ini aku Dava. Bagaimana kabarmu? Apa saja yang kau lakukan selama ini? Selamat ya ku dengar kamu sudah menjadi dokter. Itu adalah pertanyaan yang ingin aku katakan di pertemuan kita sebelumnya, tapi aku justru mengacuhkanmu dan bahkan menyela perkataanmu" Sapa Dava mengawali kata-katanya dengan mengusap tangan Elena


"Sekarang kamu juga mengacuhkan ku sama seperti dulu saat kamu mengakhiri segalanya, apakah kau tahu aku mencoba tetap terhubung denganmu tapi kamu menutup semuanya. Bukankah aku pernah bilang padamu bahwa apapun yang terjadi aku akan selalu di pihakmu, jangan lihat aku sebagai pasanganmu jika kamu terbebani tapi lihat aku sebagai sahabatmu El"


"Kamu memang melukai ku begitu dalam dan bahkan sangat dalam El, aku butuh waktu lama untuk bisa bangkit. Dan setelah sekian lama, akhirnya aku melihat kamu untuk pertama kali sejak kamu meninggalkanku malam itu rasanya aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri" lanjut Dava lirih dengan mencoba tetap tenang


"Dan sekarang, apa yang terjadi padamu kali ini? Aku bisa melihatmu mengacuhkan ku dan bahkan meninggalkan ku, tapi tidak dengan melihatmu terdiam dengan kondisimu ini El. Tolong segera bangun El, semua orang khawatir denganmu"


"Mohon maaf, sesi besuk sudah habis tolong segera keluar" susul suster yang berjaga di ruang ICU


"Baiklah sus, saya segera keluar"


"El, aku harus keluar sekarang. Aku akan mengunjungi kamu lagi, ku harap kamu sudah sadar dan membaik di pertemuan kita selanjutnya" pamit Dava dengan mencium tangan Elena

__ADS_1


---------


Keluar dari ruangan Dava kemudian di peluk oleh Papi Elena, meskipun sangat lirih, bisa Dava dengar isakan yang ditahan oleh Papi Elena. Menyadari hal itu, Dava lantas membalas pelukan itu dan menenangkan Papi Elena.


"Sejak dulu Elena selalu mampu mengatasi hal sulit, kali ini Elena juga akan melewatinya dengan baik om" seru Dava seraya menepuk pundak Papi Elena


"Terimakasih Dava"


"Sama-sama om, om yang kuat ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja" lanjut Dava yang hanya direspon anggukan oleh Papi Elena


"Kalau begitu, saya pamit pulang ya om. Oh iya, tolong kabari saya bagaimana perkembangan Elena ya om, ini kartu nama saya" pamit Dava dengan memberikan kartu namanya dengan Papi Elena


-------


Sewaktu di mobil, Dava terus menatap kearah luar. Hatinya hancur melihat kondisi Elena jelas di hadapannya begitu lemah, wajah cantik yang selama ini ia rindukan kini putih pucat dengan memar yang semakin kontras di kulitnya. Kevin yang menyetir pun hanya bisa diam tanpa berani bertanya apapun. Terusik dengan beberapa kali tatapan Kevin melalui kaca depan, Dava pun akhirnya membuka mulut bertanya dengannya.


"Kau penasaran Kev?" Seru Dava yang sudah risih dengan tatapan Kevin


"Eh, Iya Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud untuk mengganggu Anda" Jawab kevin ragu-ragu


"Dia Elena, seseorang yang membuatku harus pergi dari kota ini dulu dan membuatku seperti saat ini" jelas Dava dengan tetap mencoba tenang dan melihat kearah luar


"Jadi dia adalah man.... " Jawab Kevin tampak ragu


"Iya, dia mantan kekasihku tetapi dia masih sahabatku" terang Dava dengan cepat sebelum Kevin menyelesaikan kalimatnya


"Maaf Tuan, tapi saya seperti sudah pernah melihatnya Tuan"


"Dia tinggal di gedung apartement yang sama dengan mu, jadi mungkin saja kau pernah melihatnya atau berpapasan dengannya"


"Oh iya benar, jadi dia wanita cantik yang jutek waktu itu" guman Kevin lirih tetapi masih bisa terdengar


"Apa katamu?"


"Eh, bukan Tuan. Saya akan fokus menyetir lagi sekarang. Anda lebih baik istirahat Tuan"


------


Thank you sudah membaca cerita ini :)


Maaf author baru up lagi karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan 🙏🙏

__ADS_1


Kedepannya author akan berusaha update terus, mohon untuk tetap support author dengan memberikan like dan juga komen agar author makin semangat update nya yaaa :)


Sehat selalu ya ❤


__ADS_2