Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 16


__ADS_3

Kali ini Dava berdiri di balkon apartemennya, ia memandang hujan yang seolah memberinya memori yang sejujurnya ingin ia lupakan. Memang tidak mudah untuk seseorang melupakan masa lalu yang menurutnya  masih samar dan butuh penjelasan. Waktu yang telah ia lalui dengan pergi dari kota ini rasanya hanya seperti jeda dan kini waktu juga mengantarkannya kembali untuk menuntut jawaban atas segala tanya yang selama ini tak pernah ia dapatkan.


Tanpa sadar air mata Dava akhirnya luruh, sekelumit bayangan tentangnya dan Elena membuatnya berpikir dan kembali mempertanyakan, Apakah memang tak seharusnya kita melangkah sejauh itu El? Jika memang salah, berarti akulah yang salah karena  meyakinkanmu dengan sesuatu yang belum tentu bisa aku atasi.


Flashback (bayangan Dava)


"Maaf Dava, kau tahu selama ini kita bersahabat. Aku tidak berani melangkah lebih jauh, hubungan ini sudah sangat istimewa untukku. Aku tidak ingin serakah atas dirimu nanti Dava, aku tidak bisa kehilangan sosok sahabat sepertimu jika nanti hal buruk terjadi dan kita putus. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan, tidak ada yang bisa menjamin kita akan selalu bersama tanpa saling menyakiti. Jangan buat diriku berharap terlalu banyak Dava, aku tidak bisa menerima perasaan lebihmu untukku tapi terimakasih telah jujur padaku"


"Aku tahu, aku akan sulit untuk membuatmu yakin dan mau menerima perasaan ini. Tapi aku tidak bisa terus menahan perasaan yang terus membuncah di dalam diriku, setiap denganmu semuanya terasa berbeda El. Aku tidak tahu kapan perasaan itu ada, tapi ketika aku menyadarinya aku ingin kamu juga mengetahuinya"


"Maaf Dava, aku tidak seberani yang kau kira. Aku sungguh takut kehilangan dirimu sebagai sahabatku"


"Sssttttt, kamu cukup katakan bahwa kamu juga memiliki perasaan itu untukku El. Katakan jika kamu juga merasakan apa yang aku rasakan denganmu" seru Dava yang kemudian mendekati Elena dan memegang bahunya dan direspon anggukan oleh Elena


"Ku mohon katakan El" pinta Dava


"Aa a... Aku juga memiliki perasaan yang tidak bisa aku kendalikan untukmu Dava" jawab Elena dengan tangis yang tidak bisa ia tahan dan Dava segera memeluknya


"Terimakasih Elena, Aku mencintaimu. Aku janji aku akan membuatmu yakin. Kamu tidak akan kehilangan aku sebagai sahabatmu atas apapun yang akan terjadi diantara kita nanti"


--Flashback off--


"Kamu benar El, seharusnya aku tidak serakah dalam hubungan kita"


"Kali ini Aku akan memenuhi janjiku padamu El, aku juga salah. Aku janji akan tetap berada di sampingmu sebagai sahabatmu. Aku yakin kau memiliki alasan saat itu" guman Dava


---


Di sisi lain, ada Bobby, Jiyo dan Rendy yang tengah menikmati kopi di rooftop rumah sakit. Rasanya terasa berbeda karena sosok Elena tidak bergabung bersama, meskipun Elena hanya sering diam tetapi makna hadirnya Elena sangat besar untuk mereka. Mereka ingin mengembalikan senyum dan keceriaan Elena kembali, mereka ingin menebus waktu sulit yang telah dilewati Elena tanpa mereka.


"Pahit" Seru Bobby setelah menyeruput kopinya


"Lo bener, pahit gila" respon Jiyo setuju dengan Bobby


"Gue ga bisa tenang sama kondisi Elena" Seru Rendy yang hanya memainkan cup kopinya


"Gue juga. Selama ini, kita udah coba sebisa mungkin menjaga dia tapi akhirnya kecolongan juga dengan hal yang tak disangka" keluh Jiyo


"Mungkin memang harus begini dulu untuk Elena bisa kembali menemukan dirinya" jawab Bobby seraya duduk dan segera mendapat tatapan penuh tanya dari keduanya

__ADS_1


"Apa maksud lo?"


"Kalian inget Dava yang dateng kemarin? Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan mereka kembali" terang Bobby


"Gue rasa dia masih ada perasaan sama Elena" lanjut Bobby dengan yakin


"Gue juga sempet mikir gitu, semoga pertemuan mereka kali ini akan mengembalikan semuanya" ujar Rendy penuh harap


"Gue ikhlas asal Elena bahagia" ujar Jiyo


--


Keesokan harinya Dava bertemu dengan Tasya untuk menanyakan beberapa hal yang mungkin diketahui Tasya mengingat pertemuannya dengan Elena yang terjadi tanpa kesengajaan juga karena Tasya, jadi Dava berpikir mungkin saja ia tahu sedikit banyang tentang Elena belakangan ini.


"Ada apa? Tumben ngajak gue ketemu" seru Tasya to the point kepada Dava


"Lo kan udah lebih dulu ketemu lagi sama Elena, jadi lo pasti tahu kan bagaimana Elena belakangan ini"


"Maksud lo? Gimana Elena setelah kita semua lost kontak sama dia?" Tanya Tasya memperjelas maksud Dava dan direspon anggukan oleh Dava


"Jujur sih, gue ngerasa Elena nggak kayak dulu. Dia banyak berubah" Terang Tasya


"Lo kenapa nanyain itu? Oiya Elena gimana sekarang keadaanya? Gue belum sempet nengokin dia lagi"


"Gue cuma mau tahu aja, Elena masih sama kayak kemarin kita dateng"


"Gue kasian deh sama Elena, semoga cepet sadar dan kembali lagi bareng bareng sama kita. Lo kapan mau nengokin dia lagi?"


"Sore ini gue kesana, lo mau ikut?"


"Sore ini banget ya, aduh gue harus nganterin mama gue check up. Besok kayaknya gue kesananya deh, gue titip salam dulu ya"


"Oke, kalau gitu gue cabut Sya"


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Dava mencerna kembali perkataan Tasya. Dava juga menghubungkan hal itu dengan apa yang ia dengar sebelumnya di rumah sakit mengenai kemungkinan Elena mengalami trauma dan gangguan insomnia yang Elena alami. Dava juga mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Elena di rooftop apartemen tempo hari, meskipun bersikap acuh tetapi Dava masih cukup ingat dengan raut wajah Elena yang tampak kacau dan menyimpan beban yang entah itu apa.


"Harusnya aku tanya kabarmu, bagaimana keadaanmu? Bagaimana harimu Elen?" Sesal Dava


-----

__ADS_1


Sore hari, perawat ICU tengah memeriksa keadaan Elena dan memastikan segala kebutuhan pasien terkontrol secara baik tetapi ketika akan mencatat keseluruhan data medis terkait Elena, ia melihat Elena menggerakkan jarinya. Dengan sigap perawat tersebut menekan tombol merah untuk memanggil tim dokter ke ruang ICU. Tidak butuh waktu lama dokter dan tim pun segera berlari menuju ruang ICU.


Melihat tim dokter berlari masuk ke ruang ICU membuat orangtua Elena, Jiyo, Bobby dan Rendy terkejut dan cemas dengan keadaan Elena. Begitupun dengan Dava yang baru keluar dari lift segera ikut mempercepat langkahnya karena mengkhawatirkan Elena.


"Apa yang terjadi dok?" Seru Papi Elena menghentikan salah satu asisten dokter yang ikut berlari


"Maaf kami harus melihat keadaan pasien terlebih dahulu untuk lebih jelasnya, biarkan nanti dokter yang akan menyampaikan terkait kondisi pasien"


"Om, Tante?" Sapa Dava


"Apa yang terjadi dengan Elena?" Tanya Dava yang hanya direspon gelengan kepala Papi Elena sementara Mami Elena masih tidak bisa fokus dengan keadaan sekitar dan hanya melihat Elena dari kaca luar ruang ICU


"Kami belum tahu, tiba-tiba dokter berlari dan masuk ke dalam. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Elena" sela Jiyo menjawab pertanyaan Dava


Sementara di dalam ruangan, tim dokter segera memeriksa keadaan Elena dan menanyakan apa yang terjadi kepada perawat yang memanggilnya.


"Apa yang terjadi?"


"Saya melihat pasien menggerakkan jarinya tadi dok"


"Semuanya normal dok" seru salah satu tim dokter yang ikut masuk setelah memeriksa tanda vital Elena


"Nona Elena? Apakah Anda mendengar apa yang saya katakan?"


"Jika iya, tolong berikan respon kepada kami" seru dokter memastikan respon Elena tetapi Elena tidak kunjung memberikan respon seperti yang disampaikan perawat sebelumnya


Beberapa saat kemudian setelah tim dokter mulai ragu dan berniat untuk keluar, akhirnya Elena memberikan respon dengan menggerakkan jarinya kembali. Mereka segera mendekati Elena dan memeriksa seberapa jauh Elena mampu merespon keadaan di sekitarnya saat ini. Setelah memastikan beberapa hal, tim dokter akhirnya keluar ruangan dan segera menginformasikan hal tersebut kepada keluarga.


"Apa yang terjadi dokter? Putri kami baik-baik saja bukan? Tidak terjadi apa-apa kan dok? " Tanya Mami Elena yang segera mencecar pertanyaan kepada dokter yang baru keluar ruangan


"Jangan khawatir bu, saat ini kondisi putri ibu sudah menunjukkan kemajuan. Pasien sudah mulai memberikan responnya melalui gerakan jari. Semoga dengan ini pasien bisa segera sadar sepenuhnya. Kami juga akan terus memantau dan memberikan yang terbaik untuknya, untuk sementara pasien tidak boleh dikunjungi dulu. Kami harus melakukan observasi lanjutan setelah ini, jadi biarkan pasien tetap tenang dan tidak terganggu hal-hal lain terlebih dulu" terang dokter


"Syukurlah, terimakasih dokter"


"Sama-sama pak, bu, kalau begitu kami permisi dulu"


-----


Terima kasih telah membaca cerita ini :) 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2