Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 13


__ADS_3

Kebahagian dan kesedihan itu bak satu paket,


Setiap manis yang bahagia tetap akan memunculkan pahit yang menyedihkan


----------------------------------------


Seusai Mami Elena keluar menemui putrinya, ia menumpahkan segala rasa sesak yang terasa mencekik dirinya. Ia terperosok begitu dalam dari dunianya, sedih dan begitu hancur. Jika bisa memilih ia memilih untuk menggantikan posisi Elena saat ini, biar dirinya yang merasakan sakit.


“Kenapa harus selalu putriku yang merasakan sakit?” teriak Mami Elena dengan histeris di pelukan suaminya.


“Mami tenang ya, sabar. Elena juga sedang berjuang untuk bangun, kita akan mengusahakan yang terbaik untuknya” sahut Papi Elena yang terus berusaha tenang


“Tante, aku yakin Elena akan baik-baik saja dan kembali dengan kita. Kita doakan bareng-bareng ya” sahut Rendy


“Kalian tahu, semalam sebelum Elena berangkat ke Bogor dia pulang kerumah membawakan makanan kesukaan kita. Kita makan bersama-sama rasanya tante seperti sedang bernostalgia, melihat senyum cerah Elena kembali, menyiapkan cemilan dan sarapan favoritnya” papar Mami Elena dengan suara yang begitu lirih


“Tante mencoba memahami keinginan Elena, tante tahu Elena terluka selama ini. Itu sebabnya tante tidak melarang Elena tinggal sendiri, tante hanya ingin ia kembali menjadi gadis periang. Tante membiarkan dia menyembuhkan dirinya sendiri. Sejujurnya tante juga terluka melihat Elena selama 4 tahun ini, rasa bersalah tante teramat besar bahkan malu untuk mengungkapkannya pada Elena. Apa kalian tahu tante sering diam-diam melihat Elena dari kejauhan untuk sekedar mengobati rindu. Dia memang tangguh, dia berhasil membohongi semua orang seolah dirinya baik-baik saja. Tapi tante ibunya, tante tahu senyum dia selama ini bohong, semakin dia tersenyum justru semakin terlihat jelas dirinya hancur dan itu membuat tante merasa sangat bersalah padanya”


“Kini tante sudah cukup bersabar kan? tante ingin egois sekarang, tante ingin Elena. Tante ingin memperbaiki semuanya, tante ingin melihat senyum lepas Elena. Jika tante tahu perasaan tak karuan beberapa hari terakhir ini adalah pertanda buruk, tante tidak akan mengijinkan Elena pergi. Elena juga berjanji dia akan sering pulang kerumah setelah dari Bogor, dia ingin banyak menikmati quality time dengan kita. Tapi kenapa justru dia terluka lagi sampai begini?” terang Mami Elena dengan gemetar dan tangis yang hampir sudah tidak bisa bersuara lagi.


Papi Elena, Jiyo, Bobby dan Rendy hanya bisa diam mendengar semua kata-kata Mami Elena. Mereka merasakan sakit dan getir dari setiap perkataannya, sama seperti Mami Elena yang menginginkan Elena kembali menemukan dirinya yang dulu, mereka juga rela melakukan apa saja asal Elena bahagia. Tapi dinding yang Elena bangun selama ini cukup tinggi, mereka tidak bisa menyentuhnya dan hanya bisa terus menjaganya tetap aman agar tidak ada yang berani mengoyaknya lagi. Di saat semuanya hening dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari ponsel Elena yang disimpan Jiyo.


“Siapa ji?” Tanya Bobby


“Nggak tahu, disini sih namanya Tasya. Gue angkat nggak nih?”


“Angkat aja siapa tahu penting”


“Yaudah gue angkat dulu ya”


Drrttttt drtttttt......


“Halo”


“Halo, ini siapa? bukankah ini nomor Elena?”


“Iya benar, ini nomor Elena. Ini siapa ya?”


“Saya sahabat Elena, boleh saya bicara dengan Elena? Ada yang harus saya bicarakan dengannya”


“Maaf, saat ini Elena sedang tidak bisa bicara dengan siapapun?”


“Jangan main-main ya, ini siapa sih? Nggak biasanya Elena begitu, jangan main-main ya sama sahabat gue”


“Sorry sebelumnya, tapi Elena bener-bener nggak bisa bicara sekarang. Kalau lo sahabat Elena tolong bantu doakan Elena saja ya”

__ADS_1


“Apa maksudnya? Elena kenapa? Dan lo siapa?”


“Gue kakaknya Elena, Elena mengalami kecelakaan dan sekarang masih dirawat di rumah sakit”


“Apa?? Lo bukan penipu kan? Elena di rumah sakit mana?”


“Rumah sakit Sentul, sudah ya gue tutup dulu tolong bantu doain Elena”


Setelah menerima telephone, Jiyo kembali duduk di ruang tunggu bersama yang lainnya. Melihat kondisi Mami Elena, Jiyo jadi khawatir dan memintanya untuk istirahat dan memulihkan dirinya terlebih dahulu. Ia berjanji akan menjaga Elena bersama Bobby dan Rendy, dengan terus memaksa dan meyakinkan Mami Elena yang juga tantenya itu akhirnya ia mau untuk menuruti Jiyo dan kembali ke ruang rawat terlebih dulu bersama suaminya.


Sementara di tempat lain, Tasya kebingungan setelah mendengar kabar mengenai Elena. Ia kemudian menghubungi Dava untuk menginformasikan hal itu, ia yakin meskipun Dava terlihat sudah tidak peduli dengan Elena tapi Dava masih sangat mencintai dan menginginkannya kembali.


Drrtttttt, drtttttttttt


“Halo”


“Halo Dava, gue ada kabar buruk”


“Ada apa? Gue lagi bener-bener sibuk, jadi cepet lo ngomong apa yang mau lo sampein”


“Ini tentang Elena”


“Gue serius nggak ada waktu buat bahas hal nggak penting ya Sya”


Tut tut tut............


[Angkat Dav, Lo nggak mau nyesel kan kalo terjadi apa-apa sama Elena?]


[Gue dapet kabar Elena kecelakaan]


Dava segera melonggarkan dasinya setelah membaca chat tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat mengkhawatirkan Elena. Ia bahkan hampir limbung saat ingin duduk, beruntung Kevin dengan sigap membantu tuannya.


“Anda baik-baik saja tuan?”


“Iya, aku tidak apa-apa. Kevin apa jadwalku setelah ini?”


“Anda dijadwalkan untuk menghadiri rapat dengan koordinator proyek dan juga makan malam dengan investor dari Tiongkok tuan”


“Tolong reschedule semuanya Kevin, Aku ada urusan mendesak”


“Tapi tuan, agenda hari ini sangat penting untuk perusahaan”


“Aku harus pergi sekarang, tolong handle semuanya”


Tanpa basa-basi, Dava segera pergi dan menghubungi Tasya kembali sembari mengendarai mobilnya keluar dari gedung perusahaan.

__ADS_1


“Halo”


“Kenapa?”


“Kasih tahu gue gimana keadaan Elena, dan sekarang dia ada dimana?”


“Gue belum tahu keadaan Elena, gue masih dalam perjalanan. Elena dirawat di Rumah Sakit Sentul, kalau lo mau kesana juga nanti gue tungguin lo di lobby RS ya”


“Oke, gue otw sekarang”


Sepanjang perjalanan, Dava terus kalut dalam pikirannya yang tak menentu. Ia terus berharap dan berdoa Elena baik-baik saja. Ia juga menyesal karena pertemuannya kembali dengan Elena terus saja tidak baik, kalau saja ia mau menurunkan sedikit saja egonya untuk pelan-pelan mendengarkan Elena dan tidak memotong pembicaraannya malam itu dengan kasar mungkin ia bisa tahu alasan Elena memutuskan dirinya tanpa sebab waktu itu dan mungkin saja hubungannya dengan Elena bisa sedikit membaik setidaknya kembali menjadi seorang teman seperti waktu sekolah dulu. “Maafkan aku El, harusnya aku bisa lebih sabar tapi rasa sakit dan benciku teramat besar untukmu hingga menutupi perasaanku yang sebenarnya” guman Dava merasa bersalah dan tanpa sengaja menitikan air matanya.


Setibanya di rumah sakit, Dava berlari menuju lobby dan menemukan Tasya tengah berbincang dengan resepsionis disana. Dava kemudian menghampiri Tasya, setelah mendapatkan informasi dari resepsionis tersebut mereka segera menuju ruang ICU tempat Elena dirawat. Disisi lain, orangtua Elena juga sedang berjalan kearah yang sama untuk memastikan kembali keadaan putrinya.


Di depan ICU, kini sudah ada orangtua Elena, Jiyo, Bobby dan Rendy yang menunggu dokter memeriksa keadaan Elena. Dava dan Tasya mendekat kearah mereka dan menyapa orangtua Elena.


“Om, Tante” Sapa Tasya


“Tasya, kamu Tasya kan? Sahabat Elena sejak SMP dulu?”


“Iya tante, ini Tasya. Bagaimana keadaan Elena tante?” Tanya Tasya dan hanya direspon gelengan kepala oleh Mami Elena


“Elena masih belum sadarkan diri sejak kemarin, saat ini dokter sedang memeriksa keadaanya” jawab Papi Elena


“Ini siapa? Om sepertinya kenal dengannya” sambung Papi Elena menanyakan pada Tasya dengan menunjuk Dava dan yang lain ikut melihat kerahnya


“Ini Dava om” seru tasya dan kemudian mempersilahkan Dava


“Selamat sore, Om Tante” sapa Dava dengan mengulurkan tangannya kepada orang tua Elena tetapi jusru disambut pelukan oleh Papi Elena, sementara Jiyo dan yang lain hanya bisa beradu pandangan tak percaya


“Sudah lama ya Dava, terimakasih kamu sudah mau datang melihat Elena” seru Papi Elena


Saat Papi Elena ingin mulai berbicara lagi dengan Dava, tiba-tiba dokter yang memeriksa Elena keluar di dampingi dua perawat yang membantunya.


“Bagaimana keadaan putri saya dok?” Tanya Mami Elena


“Mohon maaf saya tidak bisa menyampaikan banyak karena memang belum ada perkembangan signifikan dari pasien, kita sama-sama berdoa agar pasien segera sadar dan kami akan terus melakukan yang terbaik. Oiya, ada yang ingin saya sampaikan dengan bapak dan ibu terkait hasil pemeriksaan pasien, boleh saya meminta bapak dan ibu keruangan saya?”


“Boleh dok”


“Baik, mari ikut dengan saya”


 


Thanks ya sudah membaca :) Author terharu masih banyak yang membaca cerita inii...

__ADS_1


Mohon support nya dengan memberikan like ataupun komen ya, biar author bisa makin semangat nulisnya :)


Tetap sehat selalu ya, jangan lupa tetap prokes :)


__ADS_2