
Hari ini Elena mengantarkan maminya pulang kerumah setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit. Elena mengurus segala administrasi dan membawa maminya pulang. Sesampainya di rumah, Elena disambut dengan asisten rumah tangga yang membukakan pintu.
"Selamat datang tuan, nyonya dan nona muda" sapa asisten rumah tangga yang membukakan pintu rumah
"Terimakasih bibi" jawab Elena.
"Papi ayo bawa mami langsung ke kamar, mami harus banyak istirahat" lanjut Elena pada papinya dan papinya hanya mengangguk menuruti putrinya
"Mami, jangan sakit lagi" ucap Elena setelah membantu maminya berbaring di kamar
"Iya, mami akan baik-baik saja sekarang. Jangan khawatirkan mami, kau juga harus jaga kesehatanmu" jawab mami elena dan dijawab anggukan dari elena
"Dan juga papi, jangan terlalu banyak kerja di kantor dan meninggalkan mami terlalu lama di rumah" lanjut Elena menatap papinya
"Kau ya, sudah berani memerintah papimu?" Jawab papi elena dan Elena hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya
"Baiklah, sekarang mami istirahatlah, aku akan melihat kakek setelah ini" kata Elena merapikan selimut maminya
"Papi, elena akan menemui kakek sebentar" lanjut Elena kepada Papinya yang dijawab anggukan oleh papinya
***
Kamar Kakek Elena
Sesampainya di depan kamar kakek, Elena menghirup nafas panjang. Elena bukannya membenci kakenya, ia hanya mencoba mengendalikan dirinya untuk tetap terlihat baik-baik saja. Sejak saat itu, Elena dan keluarganya tidak pernah membahas hubungan Elena dengan Dava lagi. Kakeknya juga bahagia setelah mendengar Elena memutuskan hubungannya dengan Dava.
Karena tidak ingin membuat kakeknya kembali drop, jadi Elena memilih untuk tidak pernah membicarakan ataupun mengungkit kejadian waktu dulu. Ia tidak bisa mengorbankan keluarganya demi dirinya, meskipun rasa penasaran akan alasan sebenarnya masih teramat besar di hati dan pikiran Elena. Tetapi perasaan itu ia kesampingkan, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin semua ini telah takdirnya.
Setelah merasa cukup baik, Elena mengetuk pintu kamar kakeknya.
Tok tok tok....
"Masuk" titah kakek dari dalam kamarnya
"Kakek, aku datang" kata Elena dengan nada manisnya dan tersenyum kepada kakeknya
"Wah, cucuku sayang. Kau sekarang sudah sangat sibuk, bahkan untuk mengunjungi kakek pun tidak sempat" ujar kakek Elena menyindir cucunya
"Ahh, bukan begitu. Kakek kan tahu aku dokter yang bertugas di IGD, jadi seluruh waktuku aku habiskan di rumah sakit" jawab Elena
"Sungguh, aku tidak berbohong. Aku benar-benar hanya dirumah sakit" lanjut Elena menjelaskan pada kakeknya
"Kenapa hanya dirumah sakit, kau juga harus berjalan-jalan menikmati hidupmu" ujar kakek elena dengan menepuk pundak Elena yang kini duduk disamping kakeknya
__ADS_1
"Oke, jika kakek yang memintaku maka akan aku lakukan" jawab Elena dengan tersenyum
"Kakek seperti sudah lama tidak melihatmu tersenyum" guman kakek
"Kenapa kakek berbisik, aku ada disini" kata Elena yang mendengar kakeknya berguman lirih
"Tidak, kakek hanya mengatakan bahwa cucuku sekarang sangat cantik" jawab kakek
"Ahh, aku tahu.. Hehe, Baiklah kakek, aku pamit sekarang. Jaga kesehatan kakek, aku akan sering mengunjungi kakek" kata Elena
"Baiklah bu doker, kau juga jaga kesehatanmu" jawab kakek
********
Di perusahaan Dava
Hari ini, Dava mengalami masalah dengan cabang perusahaannya yang ada di Jakarta. Ia mendapatkan laporan bahwa proyek pembangunan hotelnya mengalami kendala akibat korupsi yang dilakukan orang kepercayaannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi" ucap Dava membentak Kevin dan melempar dokumen yang diberikan Kevin
"Maaf tuan, saya akan mencari tahu detailnya" jawab kevin menunduk dan Dava hanya mengibaskan tangannya sebagai tanda menyuruh kevin untuk keluar ruangannya
Dava masih kesal dengan kabar yang diberikan kevin, ia tidak menyangka akan ditipu oleh orang kepercayaannya yang ditugaskan mengelola cabang perusahaannya. Saat itu pula, Papa Dava masuk ruangan Dava dan memarahi Dava.
"Iya, aku sedang mengurusnya" jawab Dava
"Kau tahu itu proyek besar bukan, papa tidak mau tahu dalam minggu ini semua harus sudah ditangani" tegas papa dava
"Akan aku usahakan" jawab Dava
"Papa akan menyuruhmu mengelola perusahaan itu, kau akan dipindahkan kesana" terang papa dava
"Kenapa? aku bisa mengurusnya dari sini" terang Dava tidak menyetujui papanya
"Papa tidak mau mendengar pendapatmu, itu perintah. Papa akan segera mengurus kepindahanmu" Jawab papa dava seraya meninggalkan dava
Setelah mendengar keputusan papanya, Dava semakin kalap dalam kemarahannya. Ia meluapkan emosinya kepada Kevin dan juga Kayra. Ia juga membanting barang-barang di ruangannya.
*****
Sementara di lain tempat, Elena sedang melihat isi kamarnya di rumah orang tuanya. Ia melihat foto-foto yang tergantung di dinding kamarnya, ia juga menyapa boneka-bonekanya.
"Rasanya sudah lama sekali, ah benar ini sudah 4 tahun aku meninggalkan rumah" guman Elena menatap bonekanya
__ADS_1
Ceklek
"Papi"
"Kau merindukan kamarmu?" Tanya papi Elena yang dijawab dengan senyuman Elena
"El, jangan membohongi hatimu lagi" kata Papi Elena menatap putrinya
"Papi, aku pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa terkadang lebih baik memilih terlihat bahagia, karena tak ingin menjelaskan mengapa" jawab Elena dengan mata berkaca-kaca
"Ada saat kamu juga harus memikirkan hatimu, kau pantas untuk bahagia" lanjut papi Elena
"Bahkan sekarang, aku masih tidak bisa mengendalikan hatiku" jawab Elena yang tak kuasa menahan air matanya
"Maafkan Elena papi, Elena akan pergi sekarang" lanjut Elena
"Menangislah jika membuatmu lega sayang, kamu adalah putri papi satu-satunya. Papi akan berusaha membuatmu bahagia kembali apapun caranya. Jangan ragu untuk menunjukkan kesedihanmu pada papi dan mami, sekeras apapun kamu mencoba menyembunyikannya pada akhirnya kami tetap akan mengetahuinya" terang papi elena menenangkan putrinya
"Dava, apa sangat berat juga untukmu?" Guman Elena dalam hatinya
*******
Di malam hari, Dava memilih untuk minum di bar diikuti oleh Kevin. Dava minum terlalu banyak dan terus meracau tidak jelas dan membuat Kevin bingung dengan Dava.
"Kau tahu, aku sudah mengubur masa lalu ku dan sekarang aku akan dipindahkan ke kota itu lagi" ujar Dava dengan terus meneguk minumannya sementara Kevin hanya bisa mendengarkan bosnya itu mengoceh tidak jelas
"Aku memang sangat merindukannya, tapi aku juga membencinya"
"Apakah dia sudah melupakan aku? Hah?" Bentak Dava pada Kevin
"Tuan, sepertinya anda sudah banyak minum" terang Kevin
"Hahahaha"
"Kenapa kamu lakukan itu ha? Perempuan jahat" lanjut Dava yang kemudian tidak sadarkan diri
"Ayo tuan, saya akan mengantarkan anda pulang" kata kevin membangunkan Dava
"Kau? Hahhaa, kau puas melihatku begini?" Ujar Dava yang sudah tidak sadarkan diri
"Elena kau jahat tapi aku masih mencintaimu" lanjut Dava dan Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak meyangka bosnya yang selalu bersikap dingin ternyata menyimpan masa lalu yang menyakitkan.
"Ternyata kau tidak sekuat sikapmu tuan" guman Kevin di dalam hatinya
__ADS_1