Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 10


__ADS_3

Pagi telah datang, Elena mengerjapkan matanya karena terganggu oleh sinar matahari yang masuk dari sela-sela tirainya. Matanya seakan masih berat untuk membuka, beberapa kali ia mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa energi yang ia miliki. Kini ia hanya membuka matanya dan menatap tanpa arah yang pasti, air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya yang masih memerah.


“Benarkah cinta dan luka selalu berdampingan?


Orang bilang, setiap kamu mencintai, kamu juga harus siap melukai ataupun dilukai..


Kupikir cinta berarti bahagia,


Tetapi nyatanya,


Untuk mulai mencintai aku harus mampu mencukupkan diri hanya untuk melihat (tidak lebih),


Dan, ketika aku telah memiliki, itu adalah awal untuk kita saling menjaga dan tidak membiarkannya rapuh,


Saling mengingatkan apabila keliru,


Dan apabila, telah sampai batasnya harus menyerah kita perlu yakin bahwa cinta bukan berarti harus terus bersama


Elena mengusap air matanya yang terus mengalir, ia bangkit dan beranjak untuk memulai aktivitasnya. Elena menyadari bahwa apapun yang telah terjadi dalam hidupnya adalah pilihannya dan ia harus melaluinya. Percuma jika akan menyalahkan keadaan, ia hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa ini adalah takdirnya. Elena masih percaya bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu hal yang indah untuknya nanti.


****


----Rumah Sakit----------


Seperti biasa, Elena mengunjungi beberapa pasien dan memeriksa keadaannya. Banyak kondisi pasien yang ia temui, tak jarang mereka juga menceritakan masalah pribadi yang mereka alami. Terkadang dengan cerita-cerita merekalah Elena dapat terus berjalan maju, setidaknya Elena masih bersyukur tentang apa yang Elena rasakan. Sakit hati, terluka, kecewa tentang kisah cintanya tetapi Elena masih memiliki kehidupan lain yang tidak melulu terkait cintanya. Elena paham bahwa ada bagian di dalam hatinya yang tak bisa menerima kenyataan, tetapi jika ia terus hidup dan memikirkan hatinya saja maka ia tidak akan bisa maju dan menggapai apa yang menjadi impiannya saat ini.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, banyak perubahan yang terjadi tetapi tidak dengan Elena. Mungkin saja Elena yang tidak ingin untuk mengubah apa yang ada atau memang karena ia tidak bisa mengubahnya. Elena merasa bahwa kebahagiaan yang ia miliki mungkin telah meninggalkannya sendirian, mungkin juga karena ia yang tak bisa memegangnya erat dan membiarkannya menjauh dari hidupnya.


Seperti kisah kupu-kupu, kapan ia akan menemukan hidup dan kebahagiaanya? Tentu saja saat ia terbang dan sesekali hinggap pada bunga-bunga. Begitupun Elena, kapan ia bahagia? Tentu saja saat hatinya kembali terbuka dan terbang bersamanya. Tetapi anehnya, hati itu seolah hanya mau membuka untuk satu nama, sedangkan nama itulah yang membuat Elena rapuh dan kehilangan dirinya sendiri di dalam cahaya.


“Dokter Elena” sapa suster amel saat melihat Elena keluar dari bangsal


“Hai”


“Dokter, kau terlihat agak pucat, apakah semuanya baik-baik saja?”


“Kau selalu memperhatikan aku ya, aduh bagaimana ini aku tidak punya coklat untukmu”


“Astaga, kau masih bisa bercanda ya dokter”


“Baiklah dokter, jaga dirimu”


Elena hanya mengangguk dan tersenyum melihat suster Amel, ia kemudian beranjak pergi menuju ruangannya. Disana Elena hanya duduk diam memandangi PC dengan sorot mata yang begitu sendu, ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin dan mengubur semua rasa sesaknya. Ini adalah kali pertama bagi Elena menumpahkan rasa sakitnya di tempat kerja, ruangan kecil yang penuh dengan rak tumpukan berkas dan buku-buku itu menjadi saksi bagaimana Elena juga seorang manusia yang tidak bisa selalu on point.


Kenapa begitu sulit untuk tetap baik-baik saja? keluh Elena yang tanpa sadar membuat air matanya ikut mengalir. Elena benar-benar tak kuasa menahan bebannya, ia bahkan belum bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk menerima apa yang telah terjadi pada hidupnya tapi semesta menuntutnya berdamai dan keadaan seakan membunuh sisa-sisa harapan yang telah Elena kumpulkan selama ini. Dengan tekad ingin bangkit saja ternyata tidak cukup, butuh effort lebih besar untuk bisa berdiri kokoh dengan kedua kaki yang menompangnya. Bahunya saja ternyata tak bisa untuknya jadikan sandaran ketika memeluk dirinya sendiri.


Tak terasa Elena telah cukup menghabiskan waktunya dengan dirinya sendiri, hingga dering ponselnya menyadarkan ia untuk berhenti. Elena membaca beberapa notif ponsel dan melihat panggilan yang masuk, ia segera mengatur dirinya kembali dan menerima panggilan tersebut.


Drttt drrttt drrrttt...............


“Halo?”

__ADS_1


“Ya, Ada apa Pak Rey?”


“Dokter Elena, apakah akhir pekan ini Anda ada agenda?”


“Kalau boleh saya tahu memangnya kenapa ya?”


“Begini Dokter, kami ingin meminta anda menghadiri seminar di Bogor menggantikan Dokter Rena untuk mewakili rumah sakit. Apakah bisa?”


“Oh, maaf tapi apakah harus saya?”


“Sebenarnya ini rekomendasi dari Dokter Rena, Anda jangan khawatir terkait jadwal dan surat tugas juga akan kami sampaikan untuk memudahkan koordinasi, kebetulan seminar ini juga tidak berlangsung lama”


“Uhm, Baiklah kalau begitu saya bersedia kebetulan memang saya tidak bertugas di akhir pekan besok”


“Syukurlah kalau begitu, kami akan segera mengurus semuanya dan mengirimkan undangan serta surat tugas untuk Anda... Terima kasih banyak atas kesediaanya Dokter, selamat bertugas kembali”


Keputusan Elena untuk mengambil agenda seminar di jadwal liburnya membuat ia berpikir mungkin dengan dia pergi keluar kota nanti, ia juga bisa menikmati suasana baru disana. Setidaknya, ia akan bisa menenangkan dirinya dan fokus pada hal lain selain rasa sakitnya. Selama ini, Elena mungkin berhasil berusaha kuat dan baik-baik saja tanpa terpengaruh orang-orang di sekitarnya tapi, Elena tidak memikirkan kemungkinan lain ketika ia harus bertemu dengan masa lalunya. Ia belum sepenuhnya mempersiapkan hal itu, karena selama ini yang ia pikirkan dan lakukan adalah menutupinya bukan menghadapinya.


Dan hari yang panjang ini berhasil dilewati oleh Elena, meski begitu banyak hal membuatnya ingin mundur tetapi ia selalu diberikan satu alasan yang membuatnya tetap tinggal. Aneh, tapi skenario semesta siapa yang tahu? Seberapa keras menolak pada akhirnya akan luluh, patuh dan pasrah. Jika orang bilang tahanlah sebentar, maka artinya nikmatilah rasanya, sabar, dan pasrahkan bukan menunggu dengan meratapi perihnya. Logika dan akal itu pasti tetapi saat perasaan lebih menguasai hanya sisa asa yang menjerit ingin paling dimengerti. Elena sadar bahwa membiarkan rasa kecewa menjadi benci adalah salah, karenanya ia menghapus segala kemungkinan rasa itu pada orang lain dan membiarkan dirinya sendiri berkecamuk. Padahal menjadi egois juga bukan sebuah kesalahan, pilihan yang Elena ambil mungkin pilihan terbaik versinya tetapi ia lupa bahwa mengubah dirinya dan menutup dirinya juga luka bagi orang terdekatnya. Jika seperti ini bukankah rasa luka itu relatif?


 


Terima kasih masih terus membaca kelanjutan kisah Elena ini, mohon support author dengan memberikan like ataupun komen ya,,, Boleh komen apapun kok, hihi,


See ya, Sehat selalu guys, jangan lupa tetap prokes :)

__ADS_1


__ADS_2