Melewatkanmu

Melewatkanmu
Part 1


__ADS_3

Jakarta, 2019


Drt drt drt.....


Grup unfaedah 📲


Bobby : “gengs, keluar yokk”


Jiyo : “nape luh? “


Bobby: “pusing gw, kerjaan gak ada kelarnya. Nongki enak”


Jiyo : “Cih, kaya lo becus aja, songong luh”


Jiyo :”tapi ayolah, bosen juga gw”


Bobby :” ni grup isinya pada mati kalik ya.. Tapi gw nggak dapet berita lelayu”


Elena: “yuhu”


Jiyo: “ aduh calon bini gw, jadi pen cepet ketemu”


Bobby: “ yaelah ******, mana mau elena sama lu.. Bagusan juga gw”


Elena: “ ayok katanya ngopi, aku udah di tempat biasa ini”


Rendy: “seriusan lo el, gw meluncur sekarang”


Bobby: “ee bujuk, gercep amap lu obos paku.. Oke gw otw cantik”


Tidak lama kemudian jiyo datang lebih dulu di cafe biasa mereka nongkrong, jiyo melihat elena duduk sendiri dengan menyantap caffe latte dan menatap keluar jendela. Jiyo langsung mengetuk meja elena untuk menyadarkan elena dari lamunanya.


Tuk tuk tuk,


“Cewe cantik sendiri aja, boleh ditemenin nggak” ucap jiyo menggoda elena


“Gilak, nggak lucu” ucap Elene dengan nada dingin

__ADS_1


“Emmmpt, kenapa sih badmood? “ ucap jiyo dengan menaikkan satu alisnya.


“enggak, mana yang lain? “ ucap Elene menatap sekitar


“entahlah, paling lagi berendem mau ketemu elu”ucap jiyo sambil terkekeh


“Diam kamu, nggak lucu” ucap Elena kesal yang kemudian mengambil ponsel dan membuka media sosialnya.


Jiyo adalah sepupu Elena, ia memang menyukai Elena sejak dulu tetapi Jiyo mengurungkan semua perasaannya karena mereka adalah saudara. Jiyo tidak ingin memiliki hubungan buruk dengan Elena, jadi Jiyo memilih untuk menahan perasaannya yang terpenting bgi jiyo Elena harus bahagia dengan siapapun ia nanti. Selama 1 tahun ini jiyo baru mengetahui tentang kisah cinta Elena dengan Dava dari mami Elena. Karena Elena adalah orang yang tertutup, bahkan ia tidak pernah membicarakan hal-hal pribadi dengan siapapun. Bahkan sejak mengakhiri hubungannya dengan Dava, Elena cenderung menyendiri, ia menutup dirinya pada orang-orang termasuk keluarganya. Ia juga memilih tinggal sendiri di apartementnya.


Setelah mengetahui cerita dari mami Elena, Jiyo sering mengontak Elena meskipun hanya sekedar basi-basi dan jarang dijawab oleh Elena. Ia juga sering menggoda Elena, Ia berharap Elena kembali menjadi Elena yang selalu usil seperti waktu kecil dulu. Jiyo selalu khawatir dengan keadaan Elena, kekhawatiran Jiyo bukan tanpa alasan melainkan Jiyo paham betul bahwa Elena yang sekarang tidak pernah mau mengungkapkan apapun yang ia rasakan. Terlebih lagi Elena adalah seorang dokter yang bertugas di IGD jadi ia sering khawatir jika Elena tidak memperhatikan dirinya.


Saat Jiyo akan duduk ia melihat Bobby dan Rendy datang, mereka kemudian langsung saling menyapa dan kemudian memesan kopi. Elena yang melihat tingkah teman-temannya itu hanya melirik dan lanjut memainkan ponselnya. Rendy dan Bobby yang melihat itu hanya bisa menghela nafas mengerti bahwa teman kecilnya itu sedang badmood.


Berbeda dengan Jiyo yang memang saudara sepupu Elena, Rendy dan Bobby adalah teman Elena sewaktu kecil dulu. Tetapi mereka sempat berpisah sewaktu SMP dan bertemu lagi 3 tahun yang lalu. Rendy dan Bobby juga mengetahui kisah cinta Elena dari Jiyo. Mereka sangat terkejut saat mengetahui kisah Elena, mereka ikut kesal dengan apa yang terjadi. Mereka mencoba memahami keadaan Elena, perubahan sikap Elena yang menjadi dingin, muram dan hanya berbicara seadanya. Berbeda dengan Elena yang mereka kenal dulu, Elena yang ceria, usil dan penuh perhatian.


Mereka memiliki usia lebih tua dibanding Elena, bagi mereka Elena bukan hanya teman atau sahabat. Elena sudah seperti adik mereka, mereka selalu berusaha menjaga dan menghibur Elena.


Persahabatan mereka bahkan membuat banyak orang iri, karena Elena dikelilingi laki-laki tampan dan juga tajir yang selalu siap saat Elena menghubungi mereka. Bahkan saat Elena hanya mengatakan bahwa ia ingin ngopi ditengah malam pun mereka langsung meluncur menuju apartemen Elena. Mereka paham dengan mengatakan hal itu berarti Elena sedang tidak baik-baik saja, atau mungkin Elena teringat masa lalunya.


Meskipun sangat dingin dengan orang lain, Elena juga sering tersentuh dengan tingkah teman-temannya. Ia bersyukur bisa memiliki mereka disaat sulit seperti ini.


“Ahhhhhh, akhirnya gadisku bicara juga” ucap jiyo lega dan mengelus dadanya Sedangkan Elena hanya menatap tajam kearah Jiyo.


“Tidak sayang, ayo apa yang mau kita lakukan. Haruskah kita mabar saja” ucap Bobby bersemangat


“Bodoh, beri ide yang bagus dong” ucap rendy menjitak kepala Bobby


“Ah, itu boleh juga. Ayo kita mabar saja” ucap Elena sambil mengambil kembali ponselnya.


Melihat tingkah Elena, Rendy, Jiyo dan Bobby hanya saling menatap dan mengangguk. Mereka tidak bisa menolak dan membuat mood Elena buruk lagi. Mereka kemudian membuka ponsel dan log in pada aplikasi game masing-masing.


Selama bermain game, Elena terkadang kesal saat dirinya diserang musuh ataupun kekuatan yang dimiliki musuh lebih unggul daripada miliknya. Elena juga meluapkan kekesalannya dengan sedikit berteriak. Tetapi hal itu justru membuat teman-temannya tersenyum, setidaknya Elena bisa melupakan kesedihannya ataupun sedikit meluapkan kekesalannya.


“Ahhhhhhh, mampus kamu. Ayo segera maju dan hancurkan geng” ucap Elena yang tengah menikmati permainannya


“Okey” ucap Bobby, Jiyo dan Rendy bersamaan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Elena kembali bersuara. Kali ini, ia terlihat lebih baik karena permainan mereka menang.


“Ahhh, sudah kuduga. Meskipun lawan kita tadi memakai skin yang bagus tapi sepertinya mereka tadi pemula. Mereka tidak bisa memanfaatkan dan menggunakan skill nya” ucap Elena puas sambil meminum kembali caffe latte nya.


“Tull, mereka hanya menang skin hhhh” ucap Jiyo puas melihat Elena


“Damn! Bisa-bisanya mereka bermain seperti itu. Bukankah tadi terlalu mudah untuk kita” ucap Bobby kesal


“Apa kau bilang, bukankah kau tadi berteriak bantu aku, aku diserang ayo kumpul” ucap Rendy menirukan kata-kata Bobby selama bermain game tadi


Elena hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi teman-temannya. Ia kemudian melihat arlojinya dan ia segera meneguk habis caffe lattenya. Bobby, Jiyo dan Rendy yang melihat tingkah Elena mengerti bahwa Elena akan bergegas pergi.


“Mau kemana?” ucap Jiyo melihat Elena seperti terburu-buru


“Pulang” ucap Elena tanpa melihat teman-temannya dan mengaduk caffe lattenya.


“Kenapa buru-buru? Pulang kerumah atau apartemen?” Ucap Jiyo sedikit khawatir dan bingung dengan tingkah Elena.


“Apartemen lah, aku shift pagi besok. Jadi aku harus pulang dan tidur sekarang” ucap Elena membuat teman-temannya mengangguk paham


“Yaudah, kita anter” ucap bobby, jiyo dan rendy bersamaan dan saling menatap elena, sedangkan Elena yang melihat tingkah teman-temannya hanya menggelengkan kepala dan langsung beranjak keluar dari caffe.


Jiyo langsung memanggil pelayan dan meletakkan beberapa uang di atas meja kemudian berlari menyusul Elena bersama Bobby dan Rendy. Elena sudah masuk kedalam mobilnya dan disusul oleh Bobby, Jiyo dan Rendy. Mereka mengendari mobil mereka masing-masing, teman-teman Elena mengikuti Elena untuk memastikan Elena sampai di apartementnya dengan selamat. Elena yang mengetahui kebiasaan teman-temannya yang sering mengikutinya sampai di depan apartemennya pun hanya bisa tersenyum melihat kearah spion mobilnya.


Pada saat akan memasuki gedung apartementnya Elena membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangannya kearah teman-temannya tadi. Melihat Elena sudah masuk ke gedung apartementnya teman-teman Elena langsung bergegas untuk pulang kerumah masing-masing.


*** Apartement Elena***


“Ahhhhhh” ucap Elena langsung merebahkan diri di atas ranjangnya, ia seolah menumpahkan rasa lelahnya ia mencoba memejamkan matanya tetapi tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu dan langsung bangun melihat kalender yang ada di atas meja disamping tempat tidurnya.


Elena menatap tajam kalender itu dan tiba-tiba air matapun jatuh dari mata indahnya. Elena teringat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Dava, ia teringat bahwa dulu ia selalu membuat kesal Dava disaat ulang tahunnya dan kemudian memberikan kejutan untuk Dava. Saat ini, Elena hanya bisa meringkuk di atas ranjangnya, air matanya terus mengalir dan pikirannya seolah menampilkan banyak memori tentang Dava.


"Selamat ulang tahun Dava Mahendra Bagaskara" guman Elena sambil menutup wajahnya, ia tidak sanggup menahan perasaannya kali ini.


“Aaaaaaaaahhhhhhhh, Bagaimana melupakan bisa semenyakitkan ini, kata orang untuk bisa melupakan perlu waktu lebih panjang melebihi waktu kita bersama. Tapi bukankah ini juga sudah lama.. hiks, hiks, hiks ” keluh Elena kesal dengan hidupnya yang terus seperti ini, ini sudah tahun ke 4 bagi Elena melupakan Dava.


“Kenapa? Kenapa harus seperti ini...... kenapa setiap kali aku berusaha melupakannya justru senyumnya selalu muncul....... hiks hiks hiks, Apa ini hukuman untukku?” teriak Elena menggema di apartemen miliknya.

__ADS_1


“Dava, maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.... Hiks hiks hiks, aku sangat ingin sekali melihatmu lagi, bahkan perasaanku masih sama saat ini.... Sampai kapan perasaanku ini akan menyiksaku seperti ini” guman Elena dalam hatinya.


“Dava aku berharap kamu tidak seperti aku, aku harap kamu baik-baik saja dan sudah melupakanku”ucap Elena yang masih terisak.


__ADS_2