
Pagi ini, Elena tidak memiliki jadwal apapun di rumah sakit, jadi ia memutuskan untuk bersih-bersih apartemen dan membeli beberapa bahan makanan untuk persediaan. Ia mengikat rambutnya asal dengan membentuk cepol dan segera memulai kegiatan bersih-bersihnya.
“Ah, ternyata sangat kotor”
“Baiklah, semangat untukku”
Kali ini ia mengambil vaccum cleaner dan menyedot seluruh debu di sofa, bantal, kasur dan karpet miliknya, kemudian ia mencuci piring dan mencuci baju. Setelah 5 jam akhirnya pekerjaan rumah Elena selesai. Elena benar-benar merasa lelah dengan seluruh kegiatannya dan merebahkan diri di sofa ruang tamu dengan meminum air
mineral dan menikmati roti dengan selai strawberry favoritnya karena tidak ada bahan makanan apapun selain roti yang tersisa.
“Baiklah, sudah cukup istirahatnya. Aku harus mandi dan segera membeli beberapa bahan makanan”
Elena segera beranjak dan bergegas mandi, ia berdandan dan memakai baju santai kaus hitam tanpa motif dan celana dengan model rok dengan panjang diatas lutut untuk tetap menunjukkan kesan feminimnya ditambah sling bag dan sepatu kets miliknya.
“Okey, sudah siap saatnya me time Elena”
Elena turun dari unit apartement menuju parkiran dengan santai tetapi tetap tidak menghilangkan kesan dingin di wajahnya. Tanpa sadar ketika Elena akan mengeluarkan kunci mobil dari tasnya, ia menabrak seorang pria dengan tubuh atletis dan juga tampan.
BRUKKK......
“Maaf, maafkan saya” ucap Elena seketika setelah menyadari dirinya menabrak seseorang dan segera mengambil kuncinya yang jatuh
“Tidak masalah nona, lain kali hati-hati” Jawab seseorang yang ditabrak Elena dengan mengamati tingkah Elena yang ia rasa sangat manis.
“Baik, Terimakasih. Saya permisi” jawab Elena tanpa memperhatikan wajah seseorang yang ia tabrak dan segera menuju mobilnya sedangkan pria tersebut terus memperhatikan Elena sampai mobil Elena meninggalkan tempat itu.
“Cantik, tapi sangat dingin” guman pria itu.
Kini Elena berada di supermarket dengan troli yang ia dorong telah terisi penuh dengan segala kebutuhan dan keperluannya dan segera mengantri di kasir. Selesai membayar Elena membawa beberapa kantong belanjaan dan memasukkannya di bagasi mobil. Saat ini waktu masih cukup terik, tetapi Elena sudah menyelesaikan agendanya.
“Bersih-bersih sudah, belanja sudah... ahhh harusnya aku tidak melakukannya dengan cepat, sekarang aku harus melakukan apa lagi” kesal Elena dengan dirinya yang sangat cekatan dengan melajukan mobilnya
“Tidak mungkin bukan, aku berkeliling tanpa arah tujuan sendirian seperti ini. Jiyo, Rendy dan Bobby pasti juga sibuk dengan pekerjaan mereka saat ini” Runtuk Elena
Drtttt drrrrttttt..........
“Ya, siapa?” Jawab Elena tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya
“Astaga El, kau tidak menyimpan nomorku?” jawab Tasya Kesal dengan sapaan Elena
“Ahhh, Tasya maaf aku tidak melihat namamu dan hanya segera menerimanya” Jawab Elena jujur
“Ooo, Baiklah.. El apa kau sibuk? Jika tidak mari kita makan bersama di caffe C, aku ingin memberitahu sesuatu”
“Sekarang ya? uhm, baiklah, aku segera kesana sekarang”
“Baiklah aku menunggumu, aku sudah di parkiran caffe. Sampai jumpa”
***
-----Caffe C-----
Entah kebetulan apa mungkin takdir, ternyata di Caffe tersebut juga ada Dava yang sedang meeting dengan klientnya. Sewaktu memasuki caffe dan mencari tempat duduk yang nyaman untuknya dengan Elena, mata Tasya tak sengaja menangkap seseorang yang sangat ia kenal, ya dia adalah Dava Mahendra Bagaskara. Tasya
kemudian berjalan mendekatinya dan memanggil Dava untuk memastikan apakah benar yang ia lihat. Karena setahu Tasya, Dava telah pindah ke Singapura.
__ADS_1
“Dava!!” sapa Tasya dengan melambaikan tangannya sedangkan Dava hanya menatapnya dan kemudian bersalaman dengan beberapa orang klientnya yang kemudian menghampiri Tasya.
“Kau sungguh Dava bukan?” Tanya Tasya
“Apa matamu sudah tidak beres sehingga aku harus menjawabnya” Jawab Dava ketus
“Ya benar, kau Dava jika begini. Kapan kau kembali? Kau bilang tidak akan kembali ke Jakarta dan akan menetap di Singapura, apa yang membuatmu berubah pikiran? Apa kau masih belum bisa move on?” Tanya Tasya
“Kenapa aku harus menjawab pertanyaan bodohmu? Terserah aku mau kembali apa tidak, bukan kau yang membayar kebutuhan hidupku”
“Hihhh, Rupanya kau tetap menyebalkan Dava. Oke baiklah ayo kita duduk terlebih dahulu” ajak Tasya yang hanya dijawab anggukan singkat dari Dava kemudian mereka sama-sama duduk dan memesan minuman.
“Dava, kau akan menetap di Jakarta atau hanya karena ada urusan?”
“Mungkin menetap, tapi ini karena perintah papaku yang menyuruhku untuk mengurus perusahaan disini”
“Ooo, aku mengerti”
Di dalam caffe itu Dava dan Tasya banyak bercerita, entah apa saja yang mereka bicarakan tetapi mereka memang tidak membahas sedikitpun tentang Elena. Sejujurnya Tasya mengerti jika Dava memang belum bisa sepenuhnya melupakan Elena, Tasya yang mengetahui bahwa Elena yang memutuskan hubungan dengan Dava pun hanya bisa menunggu Elena untuk mau membicarakannya. Terlebih Tasya dan Elena juga baru saja bertemu setelah lost contact, mungkin canggung bagi Elena untuk memulai bercerita atau memang karena Elena tidak ingin menceritakannya.
Tasya mengetahui akhir kisah Dava dan Elena dari Dava karena setelah diputuskan Elena, Dava sering bertanya tentang Elena dengannys yang ia yakini dekat dengan Elena tetapi ternyata Elena juga mematikan akses komunikasi mereka. Hingga akhirnya, Dava memilih menyerah pada keadaan dan memilih kembali ke Singapura karena merasa tidak ada jalan untuk bisa bertemu dengan Elena setidaknya untuk sekedar menanyakan alasan yang sebenarnya kepada Elena, kenapa semua terkesan tiba-tiba dan dipaksakan.
Mungkin, jika Elena menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi keadaanya tidak akan seperti ini. Mungkin saja mereka masih bisa bertahan atau setidaknya mereka masih bisa berteman. Tetapi pilihan Elena membuat Elena terlihat sebagai wanita jahat dan tanpa perasaan begitu saja memutuskan sebuah hubungan yang sudah lama terjalin. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya, cinta dan kebahagian tidak bisa untuk selalu diikat bersama, terkadang mereka harus bercerai dan berdiri sendiri-sendiri.
Siang itu, Elena sampai di caffe C untuk menemui sahabat lamanya. Ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk mencari keberadaan sahabatnya. Mata Elena terus menelisik kesetiap sudut caffe, hingga suara yang ia kenali memanggilnya dari arah belakang.
“Elenaaaa, disini” panggil Tasya yang kemudian ditanggapi oleh senyuman di bibir Elena
Ketika berjalan menuju ke meja Tasya, Elena sempat heran karena melihat seorang pria duduk di depan Tasya dengan arah membelakangi posisi Elena. Elena berpikir mungkin saja pria itu adalah kekasih Tasya, tetapi semakin dekat justru Elena semakin terusik pikirannya, ia seperti mengetahui siapa pria itu hanya dari perawakan tubuhnya dari belakang. Pikiran Elena pun tidak tenang ditambah dengan perasaannya yang tiba-tiba berubah tidak karuan membuatnya ragu untuk terus melangkah.
“Maaf, apa kau menungguku lama Tasya?” tanya Elena dengan posisi tepat di belakang Dava
“Tidak masalah, aku juga jadi bertemu sahabat lama karena menunggumu” Jawab Tasya dengan santai, tetapi jawaban Tasya semakin memperkuat perasaan tidak karuan yang Elena rasakan, tangan Elena basah bekeringat dan pikirannya semakin mengatakan bahwa Elena mengenal sosok yang sedang duduk dengan posisi membelakanginya tersebut.
“El, apa kau hanya akan berdiri saja? Ayo duduklah” Ajak Tasya yang melihat Elena masih mematung di depannya dengan mengarahkan tangannya di kursi sebelah kanannya.
“Oh iya” jawab Elena ragu dan segera menarik kursi tanpa melihat wajah sosok yang sedari tadi mengganggu pikiran dan hatinya.
Sesaat setelah ia duduk dan masih mengarahkan pandangannya ke Tasya yang hanya diam dengan wajah sedikit cemas membuat Elena bingung dan menoleh melihat siapa pria yang ada di sebelahnya. Elena seketika terkejut, apa yang menganggu pikirannya tadi ternyata benar, bahwa pria yang saat ini duduk disebelahnya adalah Dava.
Sosok yang selama ini masih memenuhi pikiran dan hatinya dengan raut dingin dan senyum yang dipaksakan menatap dan menyapa Elena dengan kaku.
“Hai, Lama tidak bertemu” Ucap Dava dengan senyum yang dipaksakan dan mengajaknya bersalaman
“Ah, iya. Lama tidak bertemu” jawab Elena pelan karena masih mencoba mengurangi rasa terkejut dan gugupnya dengan segera ia menyambut uluran tangan Dava untuk bersalaman
Tasya yang melihat interaksi keduanya menjadi merasa bersalah karena harus menahan Dava disaat ia memiliki janji dengan Elena. Dengan rasa ragu Tasya mencoba untuk membuka percakapan ditengah situasi yang terlihat tidak nyaman tersebut.
“Baiklah El, aku akan memanggil pelayan, kau mau pesan apa?” Tanya Tasya yang mencoba membuat
suasana canggung mereka teralihkan
“Hmmm, aku jus strawberry tanpa susu saja” Jawab Elena
“Baiklah, biar aku yang pesankan saja kesana karena aku mau ke toilet sebentar” kata Tasya yang hanya dijawab anggukan dari Elena. Sejujurnya Tasya memang sengaja meninggalkan keduanya.
__ADS_1
Setelah Tasya beranjak ke toilet, Dava dan Elena hanya saling diam karena bingung untuk memulai apa yang bisa mereka bicarakan. Elena hanya terus mengamati sekeliling caffe sementara Dava hanya diam dengan pandangan lurus dan sesekali mengamati Elena.
“Apa aku membuatmu tidak nyaman?” Tanya Dava
“Ahh, Tidak. Bukan begitu” Jawab Elena yang kemudian teralihkan karena pesanannya datang dan
segera mencoba jus favoritnya itu
“Bukankah aku yang seharusnya menanyakan itu” guman Elena lirih tetapi masih bisa di dengar
“Kenapa?” Jawab Dava dengan santai tanpa mengurangi kesan dinginnya
“Hah.. ah tidak, tidak apa-apa” Terang Elena dan Dava terus menatap Elena
Melihat tidak ada perkembangan dari Elena dan Dava, Tasya pun memutuskan kembali ke meja mereka dan mencoba mencairkan suasana
“Dava, Elena apa kalian akan terus diam seperti patung begini?” Tanya Tasya kesal
“Sudah selesai?” tanya Elena yang hanya di respon anggukan oleh Tasya dan kemudian membuka ponselnya yang bergetar.
“Kalau begitu, ayo kita bicara!! Kalian membuatku tidak selera makan kalau hanya diam terus begini” ketus
Tasya
“Apa yang harus dibicarakan, kalau mau makan ya makan saja” jawab Dava dengan meneguk minumannya, sementara Elena masih berkutat dengan ponselnya yang kemudian tersentak dan menjatuhkan ponselnya.
“Astaga El, kau kenapa? Apa tanganmu sudah tidak kuat memegang ponsel” Kesal Tasya yang kaget karena Elena tiba-tiba menjatuhkan ponselnya.
Raut wajah Elena berubah seketika, ia terlihat takut dan mencoba mengarahkan pandangannya ke segala arah. Tasya yang melihatpun ikut khawatir dengan tingkah sahabatnya itu, ia baru sekali melihat Elena tampak seperti ketakutan terhadap sesuatu. Tasya kemudian berpikir apakah mungkin karena sebuah pesan yang diterima Elena, ia segera mengambil ponsel Elena. Tetapi ketika akan membukanya, Elena merebut kembali ponselnya dari tangan Tasya. Dava yang melihat langsung tingkah Elena pun sebenarnya juga khawatir tetapi ia menahan perasaannya
agar tidak terlihat di depan Elena. Dava hanya memperhatikan raut wajah Elena dengan ikut mengikuti pandangan mata Elena.
“Maaf, sepertinya aku harus pergi” ucap Elena dengan tubuh yang masih gemetar dan mengambil tasnya
“Kenapa? Apa ada masalah?” Tanya Tasya yang khawatir dengan kondisi Elena
“Tidak, tidak ada apa-apa. Maafkan aku membuat kalian terkejut” Jawab Elena yang masih terlihat gusar
“El aku tidak tahu apa itu dan mungkin tidak berhak melarangmu pergi, tapi melihat kondisimu mungkin lebih baik kau tenangkan dirimu dulu disini” kata Tasya
“Tidak, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut melihat jadwal tugasku yang berubah” jawab Elena yang berusaha menutupi rasa takut dan gusar di dalam hatinya.
“Aku pamit, selamat menikmati makanan kalian” lanjut Elena yang mencoba tersenyum.
Tasya yang menyadari tingkah aneh dari Elena pun hanya bisa membiarkan Elena pergi, ia tahu bahwa Elena akan tetap memilih pergi meskipun dia menahannya. Di dalam pikirannya Tasya curiga bahwa ada sesuatu yang sedang Elena tutupi, tetapi ia juga tidak bisa memaksa Elena untuk bercerita dengannya. Ia menyadari bahwa sudah cukup lama mereka tidak berkomunikasi dan sikap Elena yang sekarang cenderung dingin dan tidak banyak bicara seperti dulu membuat Tasya enggan dan ragu untuk bertanya lebih jauh kepada Elena. Tasya takut membuat Elena justru
tidak nyaman dan bisa saja pertanyaan Tasya menyinggung sesuatu yang memang tidak ingin Elena dengar.
Sementara Dava, ia memilih pergi dan kembali ke apartemen. Perasaan khawatir, kesal dan rindunya kepada Elena bercampur dan membuat Dava gusar. Tidak menutupi kenyataan, memang benar Dava masih sangat mencintai Elena tetapi rasa benci dan kesal Dava juga sama besarnya sehingga menutupi rasa cinta yang ia miliki. Khawatir, tentu saja iya, bagaimana ia tidak khawatir jika di depan matanya sendiri wanita yang masih terus memenuhi hati dan pikirannya terlihat ketakutan dan menutupi sesuatu darinya. Ia terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada Elena, tidak mungkin hanya karena perubahan jadwal pekerjaanya ia sampai bereaksi seperti itu. Itu jelas rasa takut dan cemas yang ia lihat dari tatapan dan raut wajah Elena, tetapi ia juga enggan untuk bertanya. Mungkin karena rasa gengsi yang ia miliki, ia tidak ingin terlihat masih peduli dengan Elena. Ia tidak ingin terlihat lemah hanya karena seorang gadis yang telah mengobrak-abrik seluruh hatinya hingga tidak ada lagi ruang yang bisa ia buka untuk orang lain karena rasa ketidakpercayaannya pada cinta.
Terima kasih telah membaca karya ini, big love untuk kalian :)
__ADS_1