Melody Untuk Galaxy

Melody Untuk Galaxy
Bab 17


__ADS_3

Melody tiba di depan minimarket. Mata indahnya tiba-tiba tertuju pada sosok tampan bersetelan jas mahal yang sedang berdiri di depan mobilnya.


"Itu 'kan lelaki yang tadi malam menolongku. Wah, kebetulan sekali! Sekalian saja aku samperin buat ngucapin terima kasih," gumam Melody.


Melody menepikan motornya di tempat yang aman dari pengendara lain. Setelah melepaskan helm kesayangannya, Melody pun segera berjalan menuju ke arah Galaxy berada.


Melody melenggang dengan santai sambil tersenyum hangat menatap Galaxy yang masih tidak menyadari keberadaannya.


"Tuanβ€”"


"Awas, Mbak! Awas! Ada ban gerobak nyasar di belakangmu!"


Ucapan Melody yang tadinya ingin menyapa Galaxy tiba-tiba terhenti setelah mendengar suara teriakan seseorang dari belakang tubuhnya. Melody pun refleks menoleh ke belakang dan ia begitu terkejut ketika melihat sebuah ban bergulir dengan cepat ke arahnya.


"Hah! Apa itu?" pekik Melody dengan mata membulat menatap ban gerobak nyasar yang tiba-tiba ada di belakangnya dan siap menerjang dirinya.


Benar saja! Belum sempat menghindar Melody menghindar, benda itu sudah menyeruduknya bak banteng yang sedang emosi tingkat dewa.


"Akhh!" jerit Melody sambil menutup matanya.

__ADS_1


Baamm!!!


Melody terjerembap di jalan tersebut. Ia meringis kesakitan sambil mengelus pantatnya. Sementara orang-orang di sekelilingnya malah tertawa kecil, menertawakan dirinya yang saat itu ketiban sial.


"Maafkan ban gerobak saya, Mbak! Dia tidak sengaja!" teriak seorang laki-laki pemilik ban tersebut sambil berlalu di hadapan Melody


Bukannya menolong, lelaki itu malah terus berlari mengejar ban gerobaknya yang tiba-tiba menjadi gila pada hari itu. Ban itu terus meluncur tanpa arah dan mengganggu pengguna jalan lainnya.


"Dasar ban sialan!" gerutu Melody.


Galaxy yang sempat kaget mendengar teriakkan lelaki pemilik ban tersebut, sontak menoleh. Ia pun tidak kalah terkejutnya setelah tahu siapa yang menjadi korban kebrutalan ban gila tersebut. Galaxy refleks berjalan ke arah Melody dan berniat menolong gadis itu.


"Ya, ampun! Kenapa aku bisa menjadi sial seperti ini?" gumam Melody.


"Ya, Tuhan! Sekarang aku baru sadar ternyata ...." gumam Melody lagi dengan mata membulat sempurna.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Galaxy sembari mengulurkan tangan ke hadapan Melody. Melody menggelengkan kepala dengan cepat dan segera bangkit dari posisinya. Gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang, mencoba menjauhi Galaxy yang saat itu mengulurkan tangan ke hadapannya.


"Jangan mendekat! Menjauhlah dariku," pekik Melody dengan wajah cemas.

__ADS_1


"What?" Galaxy tampak kebingungan. Ini pertama kalinya keberadaannya ditolak oleh seorang wanita.


"Aku hanya ingin menolongmu, itu saja." Galaxy menarik kembali tangannya yang terulur di hadapan Melody kemudian memasukkannya ke dalam saku celana sambil menatap gadis itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi apa pun.


"Tidak usah, terima kasih! A-aku bisa sendiri," sahut Melody sembari menjauhi Galaxy.


Sementara Melody terus menjauh dan menjaga jarak darinya, Galaxy hanya bisa terdiam sambil terus menatap gadis itu. Kini Melody berhasil menjauh dari Galaxy. Ia bergegas menaiki motornya kembali dan melaju setelah ia selesai memasangkan helm ke atas kepalanya.


"Tidak salah lagi! Lelaki itu adalah pembawa sial! Di mana saja dan kapan saja aku bertemu dengannya, aku selalu ketiban sial. Tidak bisa dibiarkan! Aku harus menemui Mak Sum. Harus!" gumam Melody sambil fokus menatap jalan. Ia bahkan sampai lupa apa tujuannya datang ke minimarket tersebut.


Sepeninggal Melody, Galaxy pun kembali menghampiri mobilnya. Ia segera masuk dan meminta pak Memet untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Siapa gadis itu, Tuan Gala?" tanya Pak Memet kepada Galaxy yang sedang bersandar di sandaran jok mobilnya.


"Bukan siapa-siapa. Hanya gadis aneh yang sama sekali tidak penting," jawab Galaxy.


Pak Memet tersenyum. "Saya pikir dia temannya Tuan. Ternyata bukan, ya."


"Bukan. Sebaiknya Pak Memet fokus saja pada jalan. Tidak usah membahas gadis itu lagi. Lagi pula saya sudah terlambat, Pak."

__ADS_1


"Baik, Tuan." Pak Memet pun tidak berani bertanya lagi. Kini ia fokus pada kemudinya dan menambah kecepatan mobil tersebut.


...***...


__ADS_2