Melody Untuk Galaxy

Melody Untuk Galaxy
Bab 33


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan oleh Melody akhirnya benar-benar terjadi. Satu hari setelah kejadian itu, Tino dan temannya kembali menemui dan mengancam dirinya agar segera ikut dengan mereka.


"Ikut lah dengan kami, Melody! Juragan Kasim sudah mempersiapkan pernikahan yang mewah untuk kalian. Lagi pula apa yang kamu khawatirkan? Juragan Kasim begitu mencintaimu. Hidupmu akan bahagia, memiliki banyak harta dan apa pun yang kamu inginkan akan diberikan oleh juragan Kasim. Bahkan juragan siap menceraikan istri pertamanya untukmu," tutur Tino.


Melody menggelengkan kepalanya. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi ikut dengan kalian. Apa lagi harus menikah dengan siluman tokek itu!" ketus Melody.


"Dan soal hutang-hutangku, kalian tidak usah khawatir. Aku pasti akan membayarnya jika aku sudah punya uang," lanjut gadis itu.


"Kapan? Hingga kiamat menjelang, kamu tidak akan pernah bisa membayar hutang-hutangmu itu! Apa kamu ingin tau berapa jumlah hutangmu sekarang, Melody?" Tino tersenyum miring menatap Melody yang setengah mati menahan rasa takutnya.


"Tidak perlu! Karena aku yakin, aku pasti bisa membayar semua hutangku kepada lelaki itu," jawab Melody.


"Ah, Tino! Tidak usah diladeni gadis ini. Sebaiknya kita bawa saja dia sebelum ada orang lain yang menolongnya seperti kemarin," geram sahabat Tino.


"Ya, kamu benar. Sebaiknya kita paksa saja dia!"


Kedua lelaki itu menghampiri Melody kemudian menariknya dengan paksa. Maya yang saat itu tengah bersama Melody pun tidak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga, Maya mencoba menahan kedua lelaki itu agar tidak membawa serta sahabatnya.


Namun, usaha Maya sia-sia saja. Tenaganya terlalu kecil untuk menghadapi kedua lelaki bertubuh besar itu. Tino mendorong Maya dengan sangat keras hingga gadis itu terjengkang di tanah.


"Jangan ikut campur jika kamu masih menyayangi nyawamu!" ancam Tino dengan mata melotot menatap Maya yang tengah meringis kesakitan di tanah.


Kedua lelaki bertubuh sangar itu akhirnya berhasil membawa serta Melody bersama mereka dan meninggalkan Maya di tempat itu sendirian.

__ADS_1


"Tolong! Tolong! Sahabatku diculik," teriak Maya. Namun, tak seorang pun mendengar teriakannya.


Maya tidak menyerah begitu saja. Ia memperhatikan sekelilingnya dan dari jauh tampak sebuah mobil tengah melaju ke arahnya. Maya berlari ke tengah jalan kemudian berdiri di sana sambil merentangkan kedua tangannya.


"Berhenti! Kumohon," lirih Maya ketika mobil itu datang mendekat ke arahnya.


Pengemudi mobil tersebut bergegas menginjak rem dan menghentikan laju mobilnya. Seorang lelaki paruh baya menyembulkan kepala keluar jendela sambil berteriak.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Menjauh lah dan biarkan kami lewat," titah lelaki itu sambil memerintahkan Maya untuk menyingkir dari jalannya.


Maya bergegas menghampiri lelaki paruh baya itu. "Pak, kumohon bantu saya! Teman saya baru saja diculik oleh dua orang pria tak dikenal dan mereka membawanya ke arah sana!"


"Sebentar! Kamu Maya, 'kan?" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tidak asing di telinga Maya. Maya menengok ke dalam mobil dan ternyata benar. Ia mengenali seseorang yang baru saja bertanya itu.


"Tuan Galaxy? Ya, Tuan. Ini saya, Maya. Tolong saya, Tuan. Melody baru saja diculik oleh kedua orang tak dikenal dan mereka membawanya ke arah sana," ucap Maya dengan wajah panik.


"Baiklah, kamu tenang saja. Biar aku yang mengejar mereka!" ucap Galaxy.


"Terima kasih, Tuan."


Galaxy segera memerintahkan Pak Memet untuk menyusul kedua penjahat itu. Walaupun sebenarnya Pak Memet enggan, tetapi karena itu adalah perintah dari Galaxy, ia pun tidak berani menolaknya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Pak Memet pun bergegas melajukan mobilnya menuju ke arah yang ditujukan oleh Maya dengan kecepatan tinggi. Setelah beberapa menit kemudian mereka pun berhasil menemukan Melody yang kini di seret oleh kedua pria itu masuk ke dalam mobil.


"Itu dia! Pak Memet, ikuti mobil itu!" titah Galaxy kemudian.


"Tapi, Tuan. Apa sebaiknya kita tidak usah ikut campur dengan urusan mereka? Saya takut mereka adalah komplotan penjahat besar dan sangat berbahaya jika kita mencampuri urusan mereka," ucap Pak Memet sambil menelan salivanya.


"Tidak apa-apa, Pak Memet. Percayalah padaku," sahut Galaxy sembari menepuk pelan pundak Melody.


Mau tidak mau, pak Memet pun terpaksa menuruti perintah dari Galaxy dan mengikuti mobil para penjahat itu dari jarak yang cukup jauh.


Beberapa jam kemudian.


"Sebenarnya mereka mau ke mana? Tempat ini sudah terlalu jauh dari kota, Tuan," ucap Pak Memet kepada Galaxy.


"Ikuti terus, Pak."


Hingga akhirnya mobil yang membawa Melody masuk ke sebuah perkampungan. Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah berukuran besar. Rumah yang paling besar serta paling mewah di antara rumah-rumah yang berjejer di sepanjang kampung tersebut.


Seorang lelaki paruh baya keluar dari rumah mewah tersebut sambil menghisap cerutu. Lelaki itu tertawa lebar sembari menghembuskan asap cerutu dari mulutnya.


"Selamat datang, Melody-ku sayang. Ngomong-ngomong, kamu terlihat semakin cantik saja," ucapnya sambil menyeringai menatap Melody yang kini berdiri di hadapannya.


"Apa yang kamu inginkan dariku, Juragan Kasim?"

__ADS_1


Lelaki itu tertawa lantang. "Menikahimu. Itu lah yang aku inginkan saat ini," jawabnya singkat.


...***...


__ADS_2