
Di sebuah tempat yang berbeda.
Sebuah rumah megah dengan halaman yang begitu luas, terletak di ujung Desa. Rumah yang paling megah di antara rumah-rumah warga lainnya yang terlihat sederhana.
Di dalam rumah itu tampak seorang laki-laki berusia 45 tahun yang sedang mengisap cerutu sambil duduk bersantai di ruang utama rumah mewahnya. Lelaki itu tidak sendirian, ada dua orang wanita cantik yang sedang menemaninya duduk di sana.
"Juragan mau kopi lagi? Kopinya sudah hampir habis," ucap salah satu wanita yang duduk di sebelah kanan lelaki itu sambil mengelus-elus pahanya.
Lelaki yang biasa di panggil Juragan Kasim itu tersenyum miring sembari mencolek dagu wanita itu. "Boleh, Sayang."
"Baiklah kalau begitu. Aku buatin dulu ya, Juragan." Wanita itu kemudian beranjak dan menuju dapur.
Sementara wanita yang satunya, masih duduk di sana sambil bersandaran di bahu Juragan Kasim. Ia melirik lelaki itu sembari menggagahi bagian dadanya.
"Juragan, aku butuh uang lagi. Uang yang Juragan kasih waktu itu sudah habis buat beli skincare serta kebutuhanku yang lainnya," rengek wanita itu dengan manja.
Juragan kasim melirik wanita itu kemudian kembali tersenyum miring. "Boleh saja, tapi ada syaratnya!"
"Ehmmm, syarat apa lagi, Juragan. Semuanya sudah aku berikan kepada juragan. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, semuanya sudah menjadi milik Juragan Kasim," sahut wanita itu dengan wajah menekuk.
"Hari ini puaskan aku. Aku baru saja memesan obat kuat dan dengan obat itu, aku bisa melumpuhkan kalian semua. Bagaimana?" Juragan Kasim menyeringai licik.
"Tentu saja, Juragan Kasim. Aku mau," jawab wanita itu dengan sangat antusias.
__ADS_1
Tepat di saat itu, wanita yang tadi membuatkan kopi untuk Juragan Kasim tiba. Ia duduk di tempatnya semula sembari meletakkan kopi buatannya ke atas meja.
"Kamu juga!" Juragan Kasim merengkuh pundak wanita itu sambil tersenyum nakal. "Dan jangan lupa panggil teman-teman kalian yang lainnya karena kita akan bermain rame-rame," lanjutnya.
"Baik, Juragan Kasim."
Juragan Kasim meletakkan cerutunya ke asbak yang ada di atas meja. Kemudian meraih kedua wanita itu ke dalam pelukannya. Juragan Kasim mencumbui dua wanita itu secara bergantian, mencium serta menggerayangi tubuh mereka dengan sesuka hati.
Seorang laki-laki berjaket kulit sintetis warna hitam, menghampiri Juragan Kasim yang sedang bercumbu mesra dengan kedua wanita itu. Lelaki tersebut berdiri di depan mereka dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
Juragan Kasim yang menyadari keberadaan salah satu anak buahnya itu segera menghentikan aktivitas panasnya bersama kedua wanita tersebut.
"Ada apa Tino? Apa kamu punya berita baik untukku?" tanya Juragan Kasim sambil tersenyum miring. Seolah meremehkan lelaki yang bernama Tino tersebut.
"Benarkah?!" Juragan Kasim yang tadinya tampak malas, kini terlihat bersemangat.
Juragan Kasim mengibaskan tangannya kepada kedua wanita itu agar segera pergi. Dengan raut wajah kecewa, kedua wanita itu pun mengikuti perintah Juragan Kasim dan meninggalkan lelaki itu bersama Tino.
"Tino, duduklah di sini," titah Juragan Kasim sembari menepuk ruang kosong di sampingnya sambil tersenyum lebar menatap Tino. Lelaki itu pun bergegas mengikuti perintah dari Juragan Kasim untuk duduk bersamanya.
"Baiklah. Sekarang ceritakan padaku, apa ini tentang gadis itu? Apa kamu sudah menemukan persembunyiannya?" tanya Juragan Kasim dengan begitu antusias.
"Ya, Juragan. Ini tentang gadis itu. Setelah sekian lama kami mencari keberadaannya, akhirnya kami berhasil menemukannya."
__ADS_1
Juragan Kasim semakin tertarik saja dengan berita baik yang dibawa oleh lelaki itu. Ia semakin melebarkan senyumnya pertanda bahwa lelaki itu benar-benar bahagia.
"Terus, di mana dia sekarang?" tanya Juragan Kasim.
"Ternyata gadis itu melarikan diri ke kota X dan ia bekerja di sana sebagai penyanyi di sebuah kafe, Juragan."
Juragan Kasim menggelengkan kepalanya pelan seakan tidak percaya dengan berita yang baru ia dengar. "Apa dia sudah memiliki pasangan?"
Tino menggeleng. "Dia masih sendiri, Juragan."
"Baguslah kalau begitu. Sekarang ajak serta anak buahmu pergi ke kota X untuk menjemputnya. Jika ia menolak, paksa saja!" titah Juragan Kasim sambil menyeringai licik.
"Baik, Juragan." Tino segera bangkit dari posisi duduknya kemudian pergi meninggalkan Juragan Kasim yang masih terdiam di tempat itu sambil tersenyum puas.
"Akhirnya aku menemukanmu, Melody. Bukankah sudah pernah kubilang kepadamu bahwa kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku. Bahkan hingga ke ujung dunia sekali pun, aku akan tetap bisa menemukanmu," gumam Juragan Kasim sambil menghisap kembali cerutunya.
Ternyata kedua wanita yang tadi menemani Juragan Kasim menguping pembicaraan lelaki itu bersama anak buahnya dan kini mereka tampak bete.
"Kamu dengar itu? Jika benar Juragan Kasim berhasil menemukan Melody, itu artinya habis sudah jatah kita!"
"Iya, kamu benar. Semoga saja itu salah," jawab wanita satunya.
...***...
__ADS_1