
"Melody, kamu tidak apa-apa?" tanya Aaron kepada Melody yang duduk di hadapannya. Gadis itu terus termenung di saat Aaron mengajaknya bicara.
"Ya?" Melody tersentak kaget. "Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja hari ini aku merasa kurang sehat," lanjutnya.
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu beristirahat saja. Dan soal pekerjaan, kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan pernah memecatmu," ucap Aaron kemudian.
Melody mengangguk sembari bangkit dari posisi duduknya. "Terima kasih banyak, Tuan Aaron. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu ini," sahut Melody.
"Tidak masalah, Melody. Yang penting sekarang jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin penyanyi istimewaku sakit." Aaron menepuk pundak Melody dengan lembut.
Karena sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, Melody pun akhirnya pamit dan kembali ke kontrakannya.
Ketika di perjalanan, wajah Melody terlihat begitu kusut. Pikirannya gadis itu sedang kalut. Ia sangat yakin, para lelaki berwajah sangar itu tidak akan pernah membiarkan dirinya hidup dengan tenang. Mereka pasti akan kembali dan mengganggu kehidupannya lagi sama seperti dulu.
Huft! Melody membuang napas kasar.
"Apakah aku harus pergi lagi dari kota ini dan mencari tempat yang aman untuk ditinggali?" gumamnya.
Sementara itu.
Galaxy tiba di kediamannya kemudian masuk ke dalam rumah megah tersebut dengan santai. Ketika melewati ruang utama, ia berpapasan dengan sang mommy yang kebetulan ingin menuju halaman depan.
"Galaxy, akhirnya kamu pulang juga," ucap Dania sembari memeluk dan mencium Galaxy.
"Ya, kan Mommy sendiri yang minta," sahut Galaxy sambil tersenyum hangat.
Tatapan Dania tiba-tiba tertuju pada tangan Galaxy yang masih terbalut dengan sapu tangan bermotif bunga-bunga milik Melody.
"Tanganmu kenapa, Galaxy? Kamu terluka?" pekik Dania dengan wajah cemas. Ia memperhatikan luka di tangan Galaxy kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Galaxy terkekeh pelan. "Tidak apa-apa, Mom. Ini hanya luka lecet," jawabnya.
"Luka lecet katamu? Ini bukan hanya luka lecet, Galaxy! Kalau luka lecet, tidak mungkin darahnya sampai merembes ke luar dari kain pembalut ini," ucap Dania.
"Sudahlah, Mom. Tidak apa-apa, kok." Galaxy mencoba menenangkan Dania.
"Mommy panggil dokter, ya," bujuk Dania balik.
"Tidak usah, Mommy. Anak lelakimu ini baik-baik saja." Galaxy tersenyum kecut, ia tidak tahu bagaimana lagi caranya meyakinkan Dania kalau dirinya baik-baik saja.
Dania yang masih panik, meminta seorang pelayan untuk memanggil dokter. Sementara Galaxy hanya bisa pasrah dan membiarkan Dania melakukan apa pun yang menurutnya terbaik.
Beberapa menit kemudian, Dokter yang diminta oleh Dania pun tiba. Lelaki itu segera memeriksa kondisi luka Galaxy dan mengobatinya.
"Tolong buang saja benda ini," ucap Dania kepada pelayannya. Ia menyerahkan sapu tangan milik Melody yang dipenuhi oleh noda darah.
"Jangan!" tegas Galaxy yang saat itu masih mendapatkan perawatan dari dokter.
"Cuci saja yang bersih kemudian kembalikan sapu tangan itu padaku," lanjutnya.
"Galaxy?" Dania mengerutkan alisnya heran. Ia bingung kenapa Galaxy malah memilih mempertahankan sapu tangan yang sudah kotor itu.
"Sapu tangan itu milik temanku, Mom." Galaxy kembali tersenyum kecut menatap Dania.
"Teman? Tapi kamu masih bisa menggantinya dengan yang baru, 'kan?" sahut Dania.
Sepersekian berikutnya Dania pun mulai mengerti. Ia tersenyum miring srmbari menggoda anak lelakinya itu. "Jangan-jangan sapu tangan itu milik seorang gadis, ya!"
Galaxy tampak malu-malu. Apa lagi dokter yang sedang memeriksanya ikut tersenyum mendengar percakapannya bersama Dania.
__ADS_1
"Ah, Mommy."
Di tempat lain.
"Hei, Tino! Kenapa lama sekali? Apa kalian sudah berhasil mendapatkan gadis itu?" tanya Juragan Kasim di seberang telepon.
Tino dan sahabatnya saling lempar pandang untuk beberapa saat.
"Bagaimana ini? Juragan pasti akan marah jika ia tahu bahwa kita gagal menangkap gadis itu," ucap Tino dengan setengah berbisik kepada temannya itu.
"Katakan kepada juragan kalau kita belum bertemu dengan gadis itu!"
"Ah, semoga saja juragan percaya."
"Tino! Apa kamu tuli?" teriak Juragan Kasim dengan kesal.
"Ah, ya, Juragan. Sebenarnya kami belum bertemu dengan gadis itu, tetapi Juragan tidak usah khawatir. Beberapa hari lagi kami pasti akan kembali dan membawa gadis itu bersama kami," jawab Tino mencoba meyakinkan juragan Kasim.
"Apa?!" pekik Juragan Kasim yang semakin kesal. "Memangnya apa saja yang kalian lakukan di kota besar itu? Jalan-jalan, cuci mata? Heh, aku menyuruh kalian ke sana untuk membawa kembali calon istriku bukan untuk bersenang-senang di sana dan menghabiskan uangku!" lanjutnya sambil bertolak pinggang.
"Maafkan kami, Juragan. Kami berjanji akan secepatnya kembali ke desa bersama calon istri Juragan," jawabnya dengan terbata-bata.
"Ingat, ya! Kalau kali ini kalian gagal, maka aku tidak akan segan-segan memberikan kalian hukuman yang berat," ancam Juragan Kasim.
"Ba-baik, Juragan."
Tino pun bergegas memutuskan panggilan juragan Kasim karena ia takut dengan ancaman lelaki itu.
...***...
__ADS_1