
Akhirnya Galaxy berhasil membawa pulang Melody bersamanya. Walaupun ia harus merelakan jam tangan mewah kesayangannya melayang ke tangan juragan Kasim sebagai jaminan.
"Kalau boleh aku tahu, kamu pergunakan untuk apa uang yang kamu pinjam dari juragan Kasim itu, Melody?" tanya Galaxy, memecah keheningan saat itu.
Melody yang sejak tadi hanya diam dengan kepala tertunduk, segera mengangkat kepalanya dan menatap Galaxy untuk beberapa saat. Ia menghembuskan napas berat dan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
"Uang itu aku gunakan untuk membiayai pengobatan mendiang ibuku. Ibuku memiliki riwayat sakit ginjal dan penyakitnya sudah terlalu parah. Kami bolak-balik ke Rumah Sakit untuk cuci darah dan sebagainya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ibu akhirnya menyerah dengan penyakitnya dan meninggalkan aku di sini sendirian. Dengan penghasilanku sebagai seorang penyanyi dangdut yang berkeliling hajatan, tidak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Tuan. Dan jalan satu-satunya hanyalah meminjam uang dari juragan Kasim."
Galaxy terdiam sejenak sembari menatap lekat Melody yang tampak sedih.
"Oh ya, Tuan. Apa kamu tadi serius soal harga jam tangan itu?" tanya Melody tiba-tiba. Ia penasaran soal harga jam tangan mahal yang tidak masuk akal tersebut.
Melody mendelik ke arah Galaxy yang masih menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Ya. Itu benar. Memangnya kenapa? Apa wajahku ini terlihat tidak begitu meyakinkan?" tanya Galaxy.
__ADS_1
"Ehm, sebenarnya bukan begitu. Hanya saja aku tidak pernah tahu bahwa ada jam tangan yang harganya semahal itu." Melody mengelus tengkuknya sambil tersenyum kecut.
"Oh ya, Tuan. Soal hutang-hutangku yang sekarang berpindah padamu ...." Melody kembali menatap Galaxy. "Apakah aku boleh menyicilnya? Nanti tiap bulan aku akan minta boss Aaron untuk memotong gajiku dan memberikannya kepadamu," tutur Melody.
Galaxy tersenyum miring. "Enak saja! Aku mengeluarkan uang itu secara cash dan kamu enak-enakan mau menyicilnya? Memangnya aku lintah darat sama seperti juragan Kasim," celetuk Galaxy.
"Lalu, aku harus bagaimana? Bukan kah kamu sudah tahu bahwa aku tidak punya uang sebanyak itu?" sahut Melody dengan wajah heran.
Galaxy menyeringai. "Aku punya pilihan untukmu, Melody. Agar kamu bisa melunasi hutang-hutangmu padaku."
"A-apa itu?"
"Aku punya dua pilihan dan kamu bisa pilih salah satunya. Menikah denganku dan menjadi istriku atau menjadi pelayan di rumahku. Jika kamu memilih menjadi istriku, maka kamu akan hidup enak dan masa depanmu akan terjamin bersamaku. Namun, jika kamu lebih memilih menjadi pelayanku, maka bersiap-siaplah menghadapi mommy serta adikku yang galaknya minta ampun. Kamu tahu, pelayan yang bekerja di rumahku selalu bergonta-ganti karena mereka tidak tahan dengan sikap adik serta mommy-ku," tutur Galaxy sembari menakut-nakuti Melody.
"Kamu sudah gila, ya! Lalu apa bedanya kamu sama juragan Kasim. Sama-sama memanfaatkan kelemahanku agar aku menikah dengan kalian!" kesal Melody dengan wajah menekuk.
__ADS_1
"Hei! Setidaknya aku masih muda dan single. Tidak ada selir-selir yang selalu menemani di setiap langkahku seperti juragan Kasim. Atau ... kamu memang ingin kembali ke juragan Kasim dan menjadi istri mudanya, iya? Itu sih terserah padamu. Aku hanya menawarkan jalan yang mudah untuk melunasi hutang-hutangmu kepadaku," tutur Galaxy lagi sambil membuang muka ke arah jendela.
Melody terdiam sambil sesekali melirik Galaxy yang masih membuang muka padanya.
"Dasar laki-laki aneh. Pantas saja sejak awal aku tidak pernah menyukainya. Ternyata sifatnya pun tidak jauh dari juragan Kasim. Tapi benar juga, sih. Setidaknya dia jauh-jauh lebih tampan dibandingkan siluman tokek itu. Lebih muda dan jauh lebih keren," gumam Melody dalam hati.
"Bagaimana?" tanya Galaxy lagi dengan tatapan yang masih tertuju ke arah jalan.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya, Tuan," pinta Melody.
"Baiklah. Besok pagi aku harus sudah mendapatkan jawabannya," ucap Galaxy. Ia kembali melirik Melody yang terlihat semakin kebingungan.
"Baiklah," lirih Melody sambil menghela napas panjang.
"Bagaimana jika aku jadi pelayannya saja? Tapi ... apa aku sanggup menghadapi mommy serta adiknya yang galak? Bagaimana jika mereka melakukan kekerasan terhadapku, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah terlanjur membuat perjanjian dengan lelaki ini? Ah, ya Tuhan! Aku harus bagaimana?" batin Melody sambil menggulung-gulung ujung bajunya.
__ADS_1
...***...